SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 48 MEMPERJUANGKAN ISTRI ORANG


__ADS_3

"Kessy nggak mau makan. Kessy pengen makan disuapin mama kaya teman-teman paud Kessy", keluhnya. Ternyata sesepele ini masalah sebenarnya. Dia hanya ingin mamanya selalu mendampinginya.


"Iya Om Dokter tahu. Tapi mama Kessy lagi sibuk. Kessy disuapin sama Oma aja ya. Kasihan lho, Omanya khawatir sama Kessy sampai nangis", aku berusaha membujuk anak itu.


"Oma nangis?", ia pun menoleh dan bertanya dengan gaya cedalnya.


"Iya sayang. Oma khawatir sama kamu. Sekarang makan ya", gantian omanya yang membujuk.


Aku memberi kode anggukan agar Kessy mau menurut. Dan ternyata anak itu akhirnya mau juga.


Lama aku memandangi interaksi di antara keduanya. Saat tak lama panggilan alam dari ponselku mengharuskan aku harus kembali bekerja. Tak terasa waktu telah memasuki hampir jam sembilan pagi.


"Tadi ada pasien yang harus ditangani pagi-pagi ya Dok?", tanya Kintan begitu bertemu denganku untuk menjalankan sebuah misi kemanusiaan seperti hari-hari biasanya.


"Iya. Kessy pasien itu".


"Hah Kessy? Bukankah baru keluar dari sini. Ada apa dengannya?", tanya Kintan ikut khawatir. Pasalnya ia juga sudah menyukai anak yang lucu dan ceria itu.


"Pingsan. Untung saja ada Omanya yang cepat-cepat bawa kesini".


"Astaga...itu orang tuanya kemana pula. Sampai anak pingsan begitu. Upsss...maaf Dok, saya lancang ngurusin urusan orang", akhirnya Kintan tidak melanjutkan omongannya. Merasa ucapannya barusan salah. Yang terlalu menghardik orang tanpa tahu alasannya.


Di tengah-tengah jam makan siangku. Kulihat pesanku tadi pagi sudah terbaca. Dan dalam sekejap aku mendapat pesan balasan dari Jessy.


"Oke Jo! Temui aku di cafe Flamboyan jalan Nangka. Hubungi aku satu jam sebelumnya kalau kamu sudah punya waktu", begitulah balasannya. Menyetujui untuk bertemu denganku.


Entah karena hatiku yang terlampau senang akan bertemu dengannya. Atau memang pekerjaan yang terasa ringan. Sehingga jam pulang yang sedari tadi ku nantikan terasa begitu cepat.

__ADS_1


Aku sudah mengirim pesan satu jam sebelum kepulanganku. Sengaja langsung menuju cafe tanpa ke rumah dulu. Karena pasti emak akan banyak bertanya kemana pergiku.


Sempat Kintan bertanya padaku tadi mengapa aku terburu-buru. Dan aku jawab karena aku ada ketemu teman. Bukankah itu benar? Bertemu dengannya yang ku anggap teman spesial.


40 menit ku lalui untuk menembus kemacetan. Hingga tibalah aku di cafe itu. Belum terlihat Jessy di sana. Karenanya, aku memilih tempat duduk paling pojok menghadap halaman luar. Biar kalau dia datang, aku bisa melihatnya.


Waktu 15 menit aku menunggu dalam diam. Sambil sesekali menyesap jus yang sudah ku pesan. Untuk menjaga kesehatanku, aku jarang meminum kopi ataupun yang lainnya.


"Sorry Jo, membuatmu menunggu!", ucapnya yang tiba-tiba menepuk bahuku. Membuatku menoleh ke belakang.


"Tidak apa. Baru juga 15 menit aku disini", jawabku dengan sedikit basa-basi.


"O ya mau minum dan makan apa?", tanyaku lalu memanggil waiters.


Terlihat waiters tadi sudah berlalu setelah mencatat beberapa menu yang kami pesan.


"Apa kamu masih menyimpan kalung pemberianku Jo? Maaf kalau aku tak pernah memberimu kabar saat berada di London", rupanya dia malah membahas soal kalung.


"Tapi Jess, bukan ini yang ingin aku bahas denganmu. Tapi ini soal Kessy", ucapku rupanya membuat raut wajahnya berubah seketika.


"Apa yang kamu ingin bahas tentangnya Jo? Mungkinkah kamu sudah tahu?", tanyanya padaku.


"Iya. Aku sudah tahu cerita tentangmu dan Bagas".


Jessy membuang pandangannya ke samping. Ia tidak lagi mau menatapku seperti tadi.


"Maaf kalau ucapanku menyinggungmu. Maaf juga kalau aku lancang masuk ke dalam urusan rumah tanggamu. Jess, aku tahu kamu wanita yang baik. Kessy tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kalian. Disini Kessy hanyalah korban. Dia masih sangat kecil. Butuh kasih sayang dari orang tuanya secara utuh".

__ADS_1


"Aku yang jadi korban disini Jo! Aku yang paling menderita. Hidup bersama orang yang nggak pernah aku suka. Dan harus mengurus anaknya hasil dari wanita lain", pecah sudah tangisnya saat ini. Aku melihat sisi rapuh dari seorang Jessy. Bahkan di saat orang tuanya bercerai dulu ia tak sehisteris ini.


Aku menggenggam tangannya. Berusaha menenangkan. "Iya aku tahu. Tapi apa kamu tega melihat anak yang nggak tahu apa-apa jadi kena imbas dari perseteruan kalian. Secara psikis anak itu terguncang Jess. Kasihan dia. Dan apa kamu tahu, Kessy masuk rumah sakit lagi tadi pagi karena pingsan".


Aku melihat ia mulai sedikit tenang dan kaget mendengar Kessy pingsan. Aku bisa tahu ia juga sebenarnya peduli dengan Kessy.


"Siapa yang bawa dia ke rumah sakit?".


"Ibu mertua kamu. Dan ibu mertua kamu juga yang sudah bercerita semua padaku. Luangkan waktu sedikit saja untuk perhatian padanya. Dia mogok makan hanya karena ingin disuapi mamanya sama seperti teman-temannya", ucapku memberi tahu keinginan Kessy.


"Kamu tidak keberatan bukan?", tanyaku meyakinkan apakah dia bersedia.


Jessy mengangguk. Itu artinya dia mau melakukan keinginan Kessy. Aku lega mendengarnya. Aku tahu kalau wanita ini hanya tertekan. Sehingga lebih memilih menyibukkan diri daripada harus dirumah dengan Bagas.


"Jo, kenapa kamu tak pernah juga menghubungiku? Bukankah kamu tahu nomorku dari Amel?", tanyanya setelah merasa tenang.


"Itu karena aku nggak punya nyali buat deketin kamu Jess! Dan saat nyali itu datang, aku sudah kehilanganmu", kami bersitatap. Ada rindu yang tertahan tak bisa tersampaikan. Karena sebuah batu sudah menjadi penghalang hubungan kami saat ini. Yang tak bisa lebih dari sekedar teman.


"Aku terpaksa Jo! Kamu tahu dari dulu aku dijodohkan dengan Bagas bukan?".


Aku mengangguk pelan. Pertanda mengiyakan. "Apa kamu sudah punya kekasih Jo? Boleh aku mengenalnya?", pertanyaan itu tertuju padaku saat ini.


"Belum. Belum pernah satu kalipun aku menjalin hubungan dengan wanita. Pernah dekat iya, tapi aku tak pernah bisa menyukainya meski sudah ku coba", aku mulai menundukkan kepala.


"Apa kamu masih menungguku Jo? Kalau kamu memang masih menungguku. Perjuangkan cintamu. Buat aku bisa mengakhiri semua penderitaanku. Karena aku juga mencintaimu Jo! Dan sampai kapanpun aku tak pernah bisa bersatu dengan Bagas!", pernyataan Jessy padaku.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian? Pernikahan itu sakral Jess. Semua menginginkan menikah sekali seumur hidup".

__ADS_1


"Berjuanglah Jo! Ku mohon, jika kamu benar-benar mencintaiku. Karena selama ini aku juga menunggumu memperjuangkanku. Dan untuk soal pernikahan, tenang saja. Aku dan Bagas hanya menikah secara siri. Aku terpaksa menyetujui tapi dengan syarat hanya menikah siri dengannya".


"Baiklah Jess. Aku akan memperjuangkanmu. Tapi sayangilah Kessy seperti anakmu. Jangan sampai kamu melukai anak kecil seperti dia".


__ADS_2