SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAG 17 NON CANTIK KEMBALI


__ADS_3

Mobil yang dikendarai pak sopir melaju dengan cepat. Jessy sangat menikmati jalanan kota kelahirannya. Akhirnya ia bisa menghirup kembali udara bebas di kota itu.


"Apa Non Jessy suka?", tanya pak sopir.


"Iya Pak. Jessy suka bisa kembali lagi ke rumah. Meski dalam hati Jessy juga sedih jauh dari papa", ungkapnya.


"Kan kata papa Non Jessy bisa kapan saja ikut dengan papa. Non Jessy nggak usah sedih ya!", hiburnya.


Keduanya terus berbincang menceritakan hal-hal yang ingin Jessy dengar. Pak sopir bercerita dengan sangat antusias menceritakan kesedihan semua pekerja di rumahnya karena kepergian Jessy.


Tiba-tiba ia teringat bahwa sebelum berangkat ke London ia memberikan pekerjaan untuk emak dirumahnya. "O ya Pak, apa selama Jessy pergi ada pekerja baru seorang wanita".


"Iya Non ada. Namanya Mak Silah. Apa Non Jessy mengenalnya?".


Jessy hanya tersenyum. Ia tak mungkin menceritakan semuanya tentang Mak Silah pada sopirnya. Biarkan hanya dia dan mamanya saja yang tahu.


"Bagaimana pekerjaannya Pak?".


"Selama ini sih yang Bapak tahu orangnya rajin Non. Dan selalu menyelesaikan pekerjaan dengan baik".


Jessy tersenyum kembali. Ia nampak puas. Rekomendasinya menjadikan Mak Silah bekerja di rumahnya tidak salah. Selain bertujuan untuk menolong ternyata Mak Silah memang sangat rajin dalam bekerja.


Tak sadar, mobil sudah memasuki halaman rumahnya. Di belakang nampak gaduh menyambut kedatangan anak majikannya. "Non Cantik kembali!", ucap salah satu ART.


Hal itu terdengar di telinga emak yang sedang menjemur baju. Apa mungkin Non Jessy kembali ke rumah? Ucapnya dalam hati sambil menghentikan aktivitasnya.


"Sing dimaksud bali sopo? (Yang dia maksud kembali siapa?)", tanyanya pada tukang kebun yang sama-sama berasal dari Jawa.


"Non Jessy Mak. Non Jessy wis muleh. (Non Jessy Mak. Non Jessy sudah pulang)", jawabnya.


"Duh Gusti maturnuwun. (Duh Tuhan terimakasih)", ucap syukurnya sambil mengelus dada.

__ADS_1


Hatinya ikut senang dan bahagia. Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya kembali. Ini akan menjadi berita bagus untuknya nanti ketika pulang. Jovan pasti akan senang bila mendengar.


"Sayang Mama, akhirnya kembali. Terimakasih sayang", mamanya memeluk dan mencium Jessy. Menyambut kepulangannya.


Hal ini juga terdengar oleh Bagas tetangganya. Oleh karena itu Bagas ikut menyambutnya dengan datang ke rumah Jessy membawa cake favorit Jessy.


"O ya sayang, Bagas dah nungguin kamu dari tadi lho. Bawain cake kesukaaanmu", ucap mamanya.


Jessy kemudian duduk di samping mamanya. "Makasih ya Gas, udah bawain cake ini", ucap Jessy pada Bagas.


"Syukurlah kalau kamu masih suka. Ku pikir kamu akan menolaknya".


"Mana mungkin Jessy nolak pemberian kamu Gas. Kalian berteman dari kecil. Ya udah tante tinggal dulu ya. O ya sayang, kamu bisa tanya info sekolah pada Bagas", mamanya pamit karena ada pekerjaan diluar.


"Yah, Jessy baru aja datang udah mama tinggal sih".


"Tapi Maaf sayang, mama ada ketemu sama klien", mencium kepala Jessy.


"Jess, baru pergi ke luar negeri satu tahun lebih kamu terlihat beda", ucap Bagas menyanjung.


"Seriusan deh. Kamu semakin tambah cantik", sejak dari SD memang Bagas telah menyukai Jessy. Papa mamanya memang sudah berniat menjodohkan mereka dari waktu bayi.


Mereka berharap kedua anak mereka akan berhubungan baik dan bisa menjadi sepasang kekasih jika dewasa nanti.


"Baru aku tinggal setahun lebih aja udah jago gombal. Mana info sekolahnya? Katanya mau bawain formulirnya?", Jessy menagih janji. Sebelumnya ia telah menelepon Bagas meminta bantuannya.


"Iya-iya ini, apa sih yang nggak buat tuan putri?", menyerahkan. Mereka kedua asyik membahas tentang sekolah. Rencana Jessy akan masuk ke sekolah Bagas. Itu artinya satu sekolah juga dengan Jovan.


Seorang ART datang membawakan minuman dan cemilan. Mereka semakin asyik berbincang. Rasa capek selama perjalanan ke Indonesia sudah tidak ia rasakan lagi. Semua telah terobati dengan dirinya kembali ke rumah. Tempat yang selalu ia rindukan. Meski suasananya tidak sehangat dulu ketika keluarganya lengkap.


Sore hari. Emak sudah bersiap pulang ke rumah. Sedari tadi ia belum bertemu dengan Jessy. Ingin menemuinya di kamar tapi rasanya kurang pantas. Takut juga menganggu Jessy kalau sedang beristirahat.

__ADS_1


"Jo, emak pulang", setibanya di rumah. Membuka pintu rumah yang berbunyi kreak itu.


Jovan tenyata tidak ada dirumah. Kemana anak itu pergi? Apa mencari tutut lagi?


Emak melihat tasnya tidak ada di rumah. Mungkinkah anak itu belum pulang sekolah? Tapi apa harus sampai sesore ini?


Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Tapi tak lama kemudian emak mendengar Jovan memarkirkan sepedanya di samping rumah.


Ia masuk rumah dengan mengucap salam. Dan emak menjawabnya. Membuat rasa khawatir emak hilang seketika setelah melihat anaknya pulang dengan utuh.


Jovan mencium tangan kanan emak. Seperti biasa menyang air putih untuk emaknya. "Sudah dari tadi pulangnya Mak?".


"Baru saja. Kenapa baru pulang kamu darimana Jo?", tanya Emak ingin tahu.


"Dari rumah Dodi Mak. Maaf Mak, tadi diajak main bola sama Dodi".


"Ya sudah bersihkan dulu badanmu. Lalu kita makan", perintah emak.


Selesai makan. Emak bercerita kepada Jovan bahwa Jessy telah kembali ke rumah. Dan kabarnya akan melanjutkan SMP nya di sini. Tapi Emak belum tahu pasti dimana Jessy akan sekolah nanti.


Emak menasehati Jovan agar bisa menjaga jarak dirinya dengan Jessy. Biar bagaimanapun Jessy adalah anak majikannya. Dan Jessy pula yang telah memberi emak pekerjaan.


Sampai jam sembilan malam. Jovan belum juga bisa tidur. Ia masih duduk di kursi kayu depan rumahnya. Sambil memegang kalung pemberian Jessy saat hendak pergi ke London.


Apakah harus seperti ini jarak aku denganmu? Kita seperti dekat tapi hanya dalam doa. Sedangkan dalam nyataku kita tak pernah bisa bertemu.


Kenapa tidak memberi kabar kalau kamu pulang? Apa aku sudah tak pantas menjadi temanmu lagi?


Ucapnya sambil sesekali mencium kalung berinisial JJ itu. Seketika lamunannya buyar ketika emak meneriakinya. "Jo, jangan tidur larut malam! Ayo cepat masuk diluar sangat dingin", teriaknya.


Jovan segera memasukkan kalung itu ke dalam tempatnya lagi. Kemudian membawanya masuk dan menyimpannya di almari yang sudah tak utuh lagi.

__ADS_1


Biasanya ia membawa kalung itu tidur bersamanya. Namun entah mengapa rasa takut kalau kalung itu putus karena tertindih tubuhnya mulai menggelutinya. Akhirnya lebih baik menyimpannya. Bukankah pemberian seseorang harus dijaga agar yang memberi tidak kecewa?


Tak butuh waktu lama. Jovan sudah tertidur dengan pulasnya. Di dalam tidurnya ia bermimpi Jessy ke rumah menghampirinya. Namun tiba-tiba ada orang berbaju hitam menyeretnya dan membawa pergi paksa. Siapa mereka? Apa maksud mereka membawa Jessy pergi?


__ADS_2