SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 39 KINTAN HARUS TAHU HATIKU UNTUK SIAPA


__ADS_3

Dodi tersentak kaget dengan kemunculan mama Amel secara tiba-tiba dari arah belakang. Ia melihat jarum jam di pergelangan tangan kirinya.


Dilihatnya sudah menunjukkan angka 23.00 wib. "Astaga beneran ini jam sebelas? Maaf tante sampai nggak nyadar", ia langsung memakai jaketnya dengan benar. Setelah ia lepaskan tadi saat mengobrol.


"Dodi pulang dulu tan", ucapnya kemudian mencium tangan mama Amel yang di angguki kepala sambil tersenyum.


"Yank, kamu masih berhutang jawaban ke aku", ucapnya lagi pada Amel sambil menghidupkan mesin motornya. Mama Amel hanya bisa menggelengkan kepala melihat keduanya.


"Apa selama ini Jovan tidak tahu sayang?", tanya mama kepada Amel seperti mengandung maksud. Yang nggak ngerti maksudnya apa, simpen rasa penasarannya dulu ya. 😃😎


"Belum mah", jawab Amel dengan di sertai gelengan kepala.


Jam 00.00, tengah malam begini orang lain sudah tidur dengan nyenyaknya. Berbeda dengan Jovan yang hanya membolak-balikkan tubuhnya. Entah mengapa memikirkan perkataan Dodi sahabatnya membuat ia sulit sekali memejamkan matanya.


Kintan terlalu baik denganku. Jelas-jelas sangat mencintaiku. Kedua orang tuanya pun welcome tak pernah memandang aku dari keluarga seperti apa.


Tapi cintaku hanya untuk Jessy. Jessy, Jessy dan Jessy. Entah mengapa ruang di hati ini sudah terpenuhi olehnya. Dan aku tidak ingin menerima Kintan dengan cintaku yang palsu.


Segala cara ku coba untuk melupakannya tapi selalu sia-sia. Apa yang aku harapkan dari gadis itu? Entahlah. Karena jelas-jelas papanya sangat melarangku untuk mendekatinya. Meski sudah tidak ada sangkut pautnya dengan beasiswa. Tapi aku hanya makhluk yang tak dianggap dimatanya.


Aku mengeluarkan kotak yang selalu ku simpan di dalam almari dengan rapi. Sebuah kalung inisial JJ itu, selalu aku usap ketika rasa rindu ini melanda.


Mengapa memberikan barang ini kalau pada akhirnya dia tak pernah menanyakannya? Mengapa dari ia pergi sampai sekarang dia tidak pernah memberiku kabar?


Lewat Amel sekalipun. Padahal ia tahu aku sering bertemu dengan Amel semenjak dia resmi menjadi kekasih Dodi.


Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dengan sendirinya di kepala. Hingga membuatku lelah dan akhirnya terpejam.


Pagi hari.


Di hari minggu begini biasanya setelah subuh aku sudah pergi jogging. Entah pergi sendiri atau sekedar menemani Kintan. Bahkan terkadang kita double date dengan pasangan Dodi Amel.


Tapi lihatlah pagi ini. Sampai melewati subuh aku belum menampakkan batang hidungku. Emak harus sampai menggedor-nggedor almari di sampingku karena lelah membangunkan dengan cara halus.

__ADS_1


"Jo, MasyaAllah kenapa belum juga bangun? Ini sudah jam sembilan", teriaknya yang mulai terdengar samar di telingaku.


Perlahan aku membuka mata. "Maaf Mak, ngantuk dan capek banget".


"Owalah Jo, Jo...tidur jam berapa semalam kamu?", tanya emak.


"Jovan lupa Mak jam berapa", ucapku sambil berusaha mengumpulkan nyawaku yang belum kembali genap.


"Cepat mandi sana, Nak Kintan nunggu di depan. Emak sudah bilang untuk nunggu", ucap emak sambil berlalu. Membuat aku segera beranjak.


Kenapa dia pagi-pagi gini nyamperin kerumah? Ucapku sambil berlalu membawa handuk.


"Sorry, dah nunggu lama ya?", tanyaku keluar menemuinya. Mengapa sulit membuat orang ini menjauhiku.


"Kamu sakit?", tanyanya langsung terlihat panik.


"Enggak, cuma capek aja jadi bangun kesiangan".


"Kita memang sebaiknya bicara tapi tidak disini", mungkin inilah saatnya. Aku tidak ingin terlanjur menyakiti gadis ini terlalu lama dengan menggantungnya tanpa kepastian.


Aku menariknya menaiki motorku. Karena ia hanya memakai taxi online ketika datang tadi. Dan ternyata beberapa panggilan darinya di ponselku. Tak lupa sebuah pesan untuk aku menjemputnya di gang depan.


Tibalah kita di sebuah taman. Taman yang mengingatkan aku terkena pukulan dari Bagas waktu itu.


"Duduk sini", ajakku. Ku pilih bangku kosong di pinggir taman.


"Ada apa sih Jo? Kenapa bawa aku kesini? Aku kan minta temenin ke toko buku tadi nyamperin ke rumah".


Astaga. Anak ini minta ditemenin ke toko buku harus sama aku? Padahal dia punya teman cewek banyak.


Dia pun segera menurut duduk di sampingku. "Tan, aku minta maaf kalau selama ini aku menggantungkan hubungan kita".


Aku menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan. Menata hatiku dari kemungkinan yang harus aku hadapi kalau anak ini tidak bisa menerima keputusanku.

__ADS_1


"Hubungan ini lebih baik hanya sampai disini. Aku tidak ingin membuatmu terluka semakin dalam", lanjutku.


"Apa maksudmu Jo? Bukankah selama ini hubungan ini baik-baik saja? Dan aku akan nunggu kesiapanmu untuk nerima aku", sanggahnya.


"Nggak bisa Tan".


"Kenapa nggak bisa?", tanyanya dengan cepat.


"Karena di hati aku sudah ada orang lain. Dan ternyata aku nggak bisa buka hatiku buat kamu meski selama ini sudah ku coba", ucapku yang beralih menatapnya. Aku tahu gadis ini menangis. Tapi ia masih berusaha untuk tegar.


"Siapa dia Jo? Siapa orang yang berhasil membuat posisinya tak bisa tergantikan dihatimu?", tanyanya lagi dengan pipi yang mulai basah. Dia sambil terisak.


"Suatu saat nanti mungkin kamu akan tahu sendiri. Dia adalah orang yang menganggapku ada Tan, disaat yang lain mengacuhkanku dan tak menganggapku. Bagiku dia seorang peri yang muncul tiba-tiba memberi pertolongan".


Terdengar isak tangis lebih keras. Pertahanan gadis ini sudah jebol. Ku raih pundaknya. "Maaf....", hanya kata itu yang terucap. Mungkin aku jahat. Baru berani menjelaskan kepadanya saat ini. Di saat kita melangkah sudah terlalu jauh. Di saat dia sudah berharap terlalu banyak. Dan aku memberikan harapan palsu kepadanya dengan begitu saja.


"Kamu gadis yang baik. Aku salah Tan, telah menyia-nyiakan gadis sebaik kamu yang bisa terima aku apa adanya terlebih keluarga kamu. Tapi aku jahat Tan, kalau menerima kamu sedangkan hati ini sama sekali bukan untukmu".


"Apa gadis itu juga mencintaimu Jo? Seperti aku mencintaimu? Apa kamu sudah bertanya dengannya?", tanya Kintan ingin tahu.


"Kalau ternyata gadis itu tidak mencintaimu, aku siap Jo. Aku siap menerimamu kembali dengan tangan terbuka. Walau terkesan aku seperti orang bodoh, yang mengejar cinta seorang laki-laki yang hatinya untuk orang lain", ucapnya lagi sambil terus menangis.


Timbul rasa tak tega. Tapi aku salah kalau menyimpan ini terlalu lama.


"Kamu harus bangkit Tan. Jangan siksa dirimu sendiri. Kamu pantas bahagia Tan", ucapku memberi semangat padanya.


Kintan terus menunduk sambil terisak. Aku mengijinkannya bersandar di bahuku. Yang mungkin akan menjadi sandaran terakhir kali. Karena setelah ini, aku berharap Kintan tidak datang menemuiku lagi seperti hari-hari sebelumnya yang kami lalui.


Tidak ada pertemanan bagi laki-laki dan wanita. Yang ada hanya perasaan, perasaan nyaman kemudian ingin memiliki.


Jika tidak ingin menyakiti, bicaralah. Katakan kalau memang tidak mencintai. Karena lebih baik jujur di awal daripada menyakitinya terlalu dalam. Dan ketegasan serta kejelasan dibutuhkan dalam setiap hubungan. (nie yha)


Semoga bisa dijadikan pelajaran ya. Dan ambil segi positifnya saja dari kisah mereka.

__ADS_1


__ADS_2