
Jessy masih mengurung diri setelah perdebatan dengan papanya kemarin. Sedangkan papanya sudah kembali ke London semalam.
Ia juga mengingat permintaan maaf Bagas ketika mengobati lukanya di dalam kamar. Bagas meminta maaf padanya karena tidak bisa membuat dirinya bahagia selama ini.
Ia juga bertanya pada Jessy apakah memang benar ia akan bersama Jovan setelah perceraian ini?
Jessy sempat bingung menjawab. Entah semua hal yang sudah ia rencanakan menjadi kebimbangan baginya saat ini. Bersama Jovan berarti menyakiti dua orang manusia saat ini.
Kintan dan Bagas. Meski Bagas sudah bilang ikhlas padanya tapi ia manusia punya perasaan juga.
Terlebih sang papa masih sangat menentang hubungannya dengan Jovan. Papanya masih seperti dulu. Menganggap Jovan tak sebanding dengan keluarganya.
Tok tok tok.
Terdengar ketukan pintu dari arah depan. "Jessy, ini aku dan Kessy. Boleh kami masuk?", ucap Bagas.
Jessy lupa kalau hari ini Kessy sudah boleh pulang dari rumah sakit. Ia menjadi merasa bersalah dengan anak tak berdosa itu. "Kata papa, mama sakit. Jadi nggak bisa jemput Kessy. Mama lihat Kessy sudah sehat", ucap anak itu dengan bahasanya.
Jessy memeluk tubuh mungil itu. "Maafin mama sayang, mama nggak bisa tepati janji buat jemput kamu", ucapnya seraya meraih tubuh mungil itu.
"Nggak papa Mama. Kessy kesini mau pamit. Kessy mau cari ibu kandung Kessy. Papa udah cerita sama Kessy", ungkapan anak itu mampu membuat Jessy berderai air mata. Ia tak menyangka Bagas akan berterus terang pada anak itu saat ini.
"Maafin Mama sayang. Kessy mau cari kemana?", tanya Jessy masih memeluk erat Kessy.
"Balik ke London. Kata papa nanti bisa cari Mama Kessy disana", jawab anak itu.
"Gas, kamu serius balik kesana bawa Kessy?", tanya Jessy memastikan.
Bagas mengangguk. "Sekarang nggak ada alasan aku tinggal disini. Banyak kenangan diantara kita berdua. Kessy berhak tau ibu kandungnya", ucap Bagas.
"O ya, orang tuaku ikut pindah kesana. Carilah bahagiamu disini Jess. Kejar cinta kamu untuk mendapatkan bahagiamu", pesan Bagas.
__ADS_1
Jessy hanya terus menangis. Baru kali ini ia melihat sisi tulus dari seorang Bagas. Andai sikap ini ia tunjukkan pada saat dulu mungkin Jessy bisa berusaha untuk menerima laki-laki ini.
Namun nasi telah menjadi bubur. Bagas berubah justru disaat ia sudah merasa kehilangan. Dan perpisahan ini malah menjadikan hubungan keduanya membaik.
"Ucap salam perpisahan sama Mama sayang. Kita akan lama jumpa sama Mama", ucap Bagas sebelum pamit pergi.
Jessy dan Kessy saling berpelukan kembali. Sebelum akhirnya Bagas dan anak itu meninggalkan halaman rumahnya.
Jessy juga berkemas. Mungkin untuk beberapa hari kedepan ia akan menginap di rumah mama Eva. Sudah lama rasanya ia tak menginap disana. Barulah saat ini kesempatan itu ada. Pasti mamanya senang sekali dengan kedatangannya.
Rumah Jovan.
Hari ini Jovan free dirumah. Karena tidak ada jadwal dinas. Ia terlihat sibuk keluar masuk rumah.
"Mikir apa to Nak? Emak perhatikan dari tadi kaya yang bingung", tanya Emak.
"Nggak mikir apa-apa Mak", jawab Jovan bohong. Padahal ia lagi mikirin Jessy yang dari kemarin mengabaikan pesannya. Ia sama sekali tidak membalas pesan dan panggilan darinya.
Emak masih gencar menjodohkan Kintan dengan Jovan. Ia masih berharap wanita itu yang jadi menantunya. Karena dirasa paling pantas mendampingi Jovan dalam segala keadaan. Dan emak juga belum tahu kalau Jovan kembali dekat dengan anak mantan majikannya dulu. Yaitu Jessy.
"Eh Nak Kintan, masuk sini. Jovan ada di dalam lagi gabut tuh anaknya", ucap emak dengan lantang begitu Kintan datang.
"Ada apa emak minta Kintan kesini?", bisik wanita itu.
"Maaf ya, pasti baru sibuk ya. Itu kamu lihat saja Jovan banyak melamun. Entah mikirin apa. Nggak mau jujur sama emak", ucap emak.
Kintan padahal tahu apa yang sedang dipikirkan Jovan saat ini. Tapi ia tak perlu bicara dengan emak apa yang sebenarnya. Baginya Jovanlah yang berhak jujur sendiri dengan emak. Perihal kedekatannya dengan Jessy kembali.
"Melamun terus. Nih kopi sama ada cake tadi bikin sama mama", Kintan menghampiri Jovan sambil membawa nampan.
Jovan belum juga menyadari kedatangan Kintan. "Ampun deh yang lagi mikirin pujaan hati akunya dicuekin", ucap Kintan lagi.
__ADS_1
"Eh, ada kamu Tan. Sorry sampai nggak tahu", ucap Jovan gelagapan.
"Ya iya nggak tahu. Raganya dimana tapi otaknya dimana", sindir Kintan.
"Tumben kesini nggak bilang-bilang dulu".
"Harus ya laporan dulu. Lagian kamu nggak bakalan bisa jemput juga?", ucap Kintan pura-pura cemberut.
"Hehe iya juga ya", mengambil satu potong cake.
"Enak enggak?", tanya Kintan meminta penilaian Jovan tentang hasil kue uji cobanya resep anyar.
"Enak. Yakin kamu buat sendiri ini?", tanya Jovan seakan tak percaya.
"Buat sendiri. Tapi bantuin mama sedikit sih", ucapnya sambil cengar cengir.
"Jalan yuk Jo. Mumpung libur barengan", ajaknya kemudian.
Nggak enak rasanya nolak Kintan. Ia pun akhirnya menyanggupi ajakan Kintan. Melupakan masalah Jessy sejenak. Karena wanita itu masih belum membalas juga.
35 menit berlalu sampailah mereka di salah satu mall terbesar. Layaknya pasangan muda mudi yang menolak kata tua. Mereka menghabiskan waktu di time zone.
"Gila, bisa kurus aku Jo kalau tiap hari main ginian", keluh Kintan saat keduanya sudah kelelahan.
"Itung-itung latihan. Besok kalau udah punya anak bakalan bisa main lebih dari ini ngikuti anakmu", ucap Jovan entah mengapa tiba-tiba menyinggung soal anak di kemudian hari.
"Anak darimana coba. Yang disuka aja sukanya sama orang lain", entah kali ini menyindir atau sengaja. Kintan nampak tak ragu mengucapkan kalimat barusan. Sedangkan yang disindir malah garuk-garuk kepala. Ia merasa ucapannya barusan malah senjata makan tuan jadinya.
"Aku beli minum dulu ya. Kamu tunggu disini", mengusir rasa canggung, Jovan mengalihkan dengan mencari minum.
Sampai kapan Jo, hubungan kita akan terus seperti ini? Aku nggak tahu gimana rasanya nanti kalau kebersamaan ini berakhir karena kamu bersama Jessy. Ucap Kintan sepeninggal Jovan.
__ADS_1