SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 43 PUNYA TEMAN MENYEBALKAN


__ADS_3

Jam kerjaku telah usai. Hari ini Kintan tidak membawa mobilnya karena tadi pagi masuk bengkel. Dengan terpaksa aku harus mengantarnya pulang karena rumah kita sekarang searah. Lagipula malam-malam begini aku tidak tega melihatnya pulang dengan jasa online.


Entah bagaimana hubunganku dengannya saat ini. Kintan merasa sudah sangat kebal dengan sikapku. Kalau beberapa tahun lalu dia berambisi mengejar cintaku, namun saat ini ia hanya menjalani takdir yang mengalir begitu saja.


Bukan karena dia tak ingin mengejarku lagi. Tapi boleh jadi memang sedikit lelah karena terus berharap.


Di dalam mobil kami hanya berdiam diri. Tidak ada obrolan yang serius di sepanjang perjalanan. Ku lihat dari samping, sepertinya Kintan malas berbicara padaku.


"Kenapa gantian wajahmu yang di tekuk begitu?", gonaku padanya untuk memecah keheningan.


"Ehmm. Mungkin sedikit tidak enak badan sepertimu tadi", jawabnya sambil terkekeh sedikit menyindirku.


Aku pun juga langsung tertawa. "Jadi marah karena aku nggak cerita soal tadi?", obrolan kami mendadak kembali normal seperti hari-hari biasanya.


"Entahlah Jo. Kamu sekarang banyak tertutup denganku. Ayolah, aku ini sahabatmu. Cerita denganku", pintanya menawarkan diri.


Bagaimana aku akan bercerita kalau ini menyangkut luka lama. Meski Kintan bilang dia saat ini menganggap aku adalah sahabatnya tapi aku tahu dia masih menyimpan luka yang ku beri.


Nyatanya sampai sekarang ia juga memilih sendiri dan tak memiliki kekasih. Bahkan secara terang-terangan menolak perjodohan yang sudah orang tuanya rencanakan. Meski dia tak pernah mengatakan masih mencintaiku, tapi aku bisa tahu dari cara ia menatapku.


"Kalau aku bercerita soal wanita beberapa tahun lalu yang masih bersemayam dihatiku apa kamu mau mendengarnya?", entah mengapa aku bertanya seperti itu.


"Apa kamu bertemu dengannya tadi?", tanya Kintan tiba-tiba. Tidak menjawab pertanyaanku tapi dia malah antusias bertanya balik.


Aku pun terdiam. Takut kalau melukainya lagi. "Santai saja Jo, hatiku sudah tahan banting. Tidak seperti Kintan beberapa tahun lalu", ucapnya meyakinkan seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan.


"Apa maksudmu tahan banting? Memangnya terbuat dari baja? Aneh-aneh saja kamu itu!", ucapku sedikit memberi candaan yang amat garing menurutku.


Dia tersenyum. "Kalau kamu bertemu dia kembali, kejar dia Jo jangan menunda lagi. Kamu pantas bahagia", terdengar ucapnya berubah jadi sendu.


"Hei, apa maksudmu menyuruhku bahagia? Kita harus bahagia bersama-sama bukan? Mengapa kamu tolak perjodohan itu?", akhirnya aku menanyakan hal itu.


"Kamu menyuruhku bahagia. Sedang kamu sendiri sampai saat ini memilih masih sendiri dan mengabaikan orang-orang yang mencintaimu Tan", ya, aku tahu. Banyak yang menyukai wanita ini. Tapi ia sangat sulit untuk didekati dan memilih mengabaikan.

__ADS_1


"Aku tidak menyukai mereka Jo. Dan untuk perjodohan memang dari awal aku tak menyukai sikapnya yang terlalu protektif denganku. Aku masih ingin kebebasan", ucapnya menjelaskan. Sebelum akhirnya turun dari mobilku karena sudah sampai di depan rumahnya.


"Makasih Jo, sudah mengantarku pulang".


Aku hanya tersenyum sambil mengangguk. Sungguh wanita baik namun aku telah menyia-nyiakannya sampai membuat dia terluka.


Kintan cobalah mencari bahagiamu dengan membuka hati.


"Assalamualaikum Mak. Lhoh kok belum tidur?", ucapku sambil membuka pintu. Melihat Emak masih duduk di sofa sambil melihat tv.


Semenjak aku menjadi dokter dan bekerja di rumah sakit Harapan Bunda, aku memboyong Emak ke perumahan daerah tempat tinggal Kintan.


Dia jugalah yang membantuku mencari perumahan. Agar lebih dekat lagi dengan tempat kerja.


Mimpi-mimpiku dapat kuraih satu persatu. Namun mimpi mendapatkan Jessy rupanya harus kembali ku simpan dalam-dalam. Bagaimanapun aku tak mungkin mengejar istri orang. Apa kata orang lain nanti yang akan mengecap diriku sebagai pembinor?


"Belum ngantuk. Emak sudah tidur tadi dan bangun jam delapan", jawab Emak.


Aku meraih tangannya. Seperti biasanya mencium punggung tangan wanita itu. Wanita berhati mulia. Yang membesarkanku dengan penuh perjuangan dan kasih sayang.


"Iya Mak. Jessy sekarang sudah jadi sukses. Jovan membersihkan diri dulu ya Mak", aku cepat-cepat masuk kamar. Menghindari percakapan kami yang membahas Jessy.


Aku membaringkan tubuhku di dalam kamar. Sambil melihat chat demi chat yang masuk ke ponselku. Paling banyak berasal dari Dodi.


O, ya Dodi sekarang juga jadi dokter. Namun kita bertugas di rumah sakit yang berbeda. Tapi tak jarang ia menghampiriku begitu juga sebaliknya.


Hubungannya dengan Amel juga sudah tak terpisahkan lagi. Bahkan ku dengar dalam waktu dekat ini ia akan bertunangan dengan Amel.


Lama memainkannya entah membalas pesan yang mana. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nampak nama sahabatnya itu muncul di layar.


Jovan :Apa?


Dodi :Belum tidur jam segini?

__ADS_1


Jovan :Belumlah kan lagi pulang dinas malam.


Dodi :Kerja terus kamu kapan cari istri? (ledek Dodi)


Jovan :Kalau telpon malem-malem cuma mau ngledekin. Aku tutup sekarang (pura-pura marah)


Dodi :Eits...jangan dong. Oke sorry. Aku telpon cuma mau ngabari. Jessy udah di Indonesia dari beberapa hari yang lalu.


Jovan :Iya udah tahu.


Dodi :Kok tahu? Jangan bilang udah ketemu?


Jovan :Bukan ketemu, tapi aku melihatnya.


Dodi :Cerita dong.


Jovan :Kok jadi kepo sekarang kaya Amel. Males, besok aja. Aku mau tidur.


Menutup panggilan Dodi. Bukan maksud mengabaikan sahabat setianya itu. Tapi ia merasa lelah membahas Jessy malam ini. Tadi saja dia terpaksa menghindari Emak yang membicarakan tentang Jessy.


"Siapa yang kamu telpon Yank?", ucap Jessy dari toilet. Rupanya jam segini mereka masih nongkrong di cafe. Sungguh pasangan yang terkadang lupa waktu.


"Siapa lagi. Tuh si kunyuk. Rupanya malah sudah tahu kalau Jessy di Indonesia".


"Mereka sudah ketemu?", Amel penasaran.


"Bukan ketemu tepatnya, tapi Jovan lihat dia".


"Terus Jovan nggak nyapa atau nyamperin Jessy?", tanyanya semakin penasaran.


"Tahu tuh anak. Bisa jadi enggak. Dianya nggak mau cerita malah telponku di matiin",keluh Dodi pada Amel.


Amel mendengus kesal. Mengapa punya teman kakak kelas yang kurang pedenya minta ampun. Memilih mencintai dalam diam dan berandai-andai sesuai apa yang dipikirnya. Tidak mau berusaha langsung bertanya pada orangnya meminta kejelasan. Sungguh menyebalkan menurutnya.

__ADS_1


bersambung. love love semuanya.


__ADS_2