SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAG 12 SURAT DAN SEBUAH KALUNG JJ


__ADS_3

"Sudahlah, cepat habiskan. Lalu diminum obatnya. Emak ada rezeki sedikit dari Pak Bos tadi", ucap Emak kepada Jovan. Ia paham, lagi-lagi Jovan mengkhawatirkan darimana emaknya mendapat uang.


Siang berganti sore, dan sore berganti malam. Hawa dingin mulai menusuk tulang. Kalau kondisi sedang sehat, aku tak pernah merasakan sedingin ini. Tapi karena kondisiku kurang membaik, kondisi dingin ini terasa menyerang tubuhku.


Emak segera melapisi selimut Jovan. Bukan selimut tebal yang orang kaya pakai biasanya melainkan hanya dua lembar sarung. Karena hanya itu yang mereka punya dan pakai sehari-hari.


Dua hari telah berlalu. Libur masa tenang telah usai. Namun Jessy tidak menampakkan batang hidungnya untuk menemui Jovan. Bagaimana kabarnya? Dan kemana dia? Bukankah ia sudah berjanji. Tak biasanya Jessy mengingkari dan tak memberi kabar seperti ini.


Inilah yang selalu dipikirkan Jovan beberapa hari ini. Tapi hari ini adalah hari pertama ujian dimulai. Aku harus fokus dengan ujianku dulu baru aku akan mencari tahu keadaan Jessy.


Dengan persiapan yang matang. Aku memantapkan hati duduk dengan tenang di bangku bertuliskan namaku dan terpampang fotoku. Pengawas itu mulai membagikan lembaran kertas soal.


Nomor demi nomor yang ada di soal mulai aku kerjakan. Oke, sampai sejauh ini aku tidak mendapat kesulitan. Hal ini membuatku lega. Aku bisa menguasai apa yang sudah aku pelajari.


Namun aku tidak boleh berbangga diri. Aku harus tetap berhati-hati dan teliti. Agar tidak terjadi kesalahan dan keteledoran yang aku timbulkan.


Hingga kali ini memasuki mata pelajaran yang kedua. Sedikit gugup, karena ini adalah mata pelajaran yang selama ini menjadi momok bagiku. Matematika. Ya, selama ini aku selalu kesulitan dalam pelajaran berhitung.


Tapi lagi-lagi aku bisa menjinakkannya. Aku benar-benar merasa bisa mengerjakan. Bagiku saat ini, tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan masalah besar pun pasti ada solusinya. Dan ini hanyalah sebuah matematika.


"Kumpulkan lembar jawaban kalian!! Waktu mengerjakan telah usai. Kalian pastikan sudah terisi semua dengan baik dan benar", ucap pengawas itu mulai menarik lembar jawaban kami.


Aku langsung pulang saat itu ke rumah. Berjalan melewati jalan yang biasa aku tapaki selama ini. Ketika lampu merah menyala, di seberang jalan aku melihat Jessy sedang duduk di kursi belakang mobilnya.


Namun di depannya ada sepasang pria dan wanita. Siapa mereka? Apakah mereka orang tua Jessy? Tanyaku dalam hati. Ingin berteriak memanggilnya tapi aku tak mau Jessy malu karena menjadi bahan tontonan orang lain.

__ADS_1


Aku hanya bisa melihatnya sampai lampu lalu lintas menyala hijau. Yang artinya berjalan. Setidaknya aku merasa lega melihatnya baik-baik saja.


Hari demi hari aku lalui. Tapi aku juga belum bertemu dengan Jessy. Ingin mencari tahu tapi kepada siapa? Satu orangpun teman tidak punya. Hingga pengumuman kelulusan pun tiba.


Hatiku sungguh senang namaku yang ada diurutan pertama. Aku menjadi juara dengan nilai terbaik di sekolah. Menjadi lulusan terbaik tahun ini dan mendapat beasiswa di sekolah ternama.


Aku dan emak melonjak penuh kegirangan. Namun lagi-lagi aku teringat dengan Jessy. Kemana dia? Murid lainnya semua hadir. Hanya dirinya yang tidak ada di acara perpisahan ini.


"Kenapa Nak? Wajahmu tiba-tiba murung", tanya Emak.


"Aku hanya memikirkan Jessy Mak. Dari semenjak emak sakit aku belum bertemu dengannya".


Belum sempat emaknya menjawab, tiba-tiba kepala sekolah memanggil emak untuk keruangannya. "Hei, encer juga otakmu sampai bisa menjadi juara", tak disangka teman Bagas datang menghampiri.


"Dia bukan karena encer otaknya. Tapi sengaja memakai jimat keberuntungan. Hei, tengil! Kali ini dewa keberuntungan baru berpihak denganmu!", ucap Bagas menyahut.


Karena bagi mereka bagaikan bumi dan langit. Yang akan terus berbeda. Dan tak akan pernah bisa setara.


Sore itu. Aku sedang duduk di depan rumahku. Seseorang paruh baya datang menemuiku. Kedatangannya membuatku terkejut. "Nak Jovan ya, ini ada surat untuk Nak Jovan!", menyerahkan surat untukku.


Ku angkat wajahku untuk melihat wajahnya dengan jelas. Aku tersentak, ketika melihat itu adalah sopir Jessy waktu itu. "Bapak? Ini untuk saya? Lalu dimana Jessy?", tanyaku.


"Lebih baik Nak Jovan baca dulu suratnya nanti akan tahu".


Aku pun membaca surat dari Jessy. Di surat itu tertulis alamat rumahnya. Dan meminta emak datang menemui mamanya. Untuk bekerja disana. Disitu juga tertera permintaan maaf Jessy karena tidak bisa datang langsung menemui Jovan.

__ADS_1


"Pak, kenapa disini tertulis aku pamit pergi. Kemana Jessy sebenarnya?", tanyaku pada Pak sopir yang masih disitu menunggu Emak ikut dengannya.


"Apa tidak dijelaskan Nak? Non Jessy pergi ke London dengan papa dan mama barunya. Melanjutkan sekolah disana".


Deg. Hatiku seperti berdarah karena tusukan tajam. Mengapa aku harus kehilangan orang baik seperti dia? Sahabat satu-satunya yang menganggapku ada.


Aku meneteskan air mataku. Di depan pak sopir aku sudah tak mengenal rasa malu. Persahabatan singkat namun sangat berkesan dan memiliki arti penting bagiku. Kini harus berakhir.


"Nak, apa kamu baik-baik saja?", tanya pak sopir menepuk pundakku. Kemudian emak datang menenangkanku.


Aku memberitahu emak yang sedang ku alami. Dan memberitahu emak untuk datang menemui mama Jessy. Emak kemudian bersiap dan bersedia ikut pak sopir.


"O iya Nak, ini juga ada titipan dari Non Jessy", menyerahkan sebuah kotak.


Pak sopir dan emak kemudian pergi. Aku segera membuka apa isi kotak itu. Dan ternyata sebuah kalung dengan inisial JJ. Apakah itu berarti Jovan dan Jessy? Lalu apa maksud dari kalung itu? Mengapa Jessy meminta aku menyimpan kalung ini?


Hanya Jessy yang tahu jawabannya suatu saat nanti. Aku masih belum pindah tempat duduk. Masih terus memikirkan Jessy. Sahabat terbaikku yang hanya sesaat.


Di rumah aku hanya menunggu. Menunggu sampai emak kembali dari rumah Jessy. Kreket. Pintu terbuka. Emak datang dengan raut wajah senang. Aku segera mencari tahu alasan emak seperti itu.


"Mak, kenapa terlihat senang?", tanyaku.


"Emak senang. Karena besok emak mulai bekerja di rumah mamanya Jessy. Dan ternyata mama Jessy orang yang baik", ucap emak menuturkan kalimatnya.


"Nak, kenapa kamu tidak terlihat senang emak mendapat pekerjaan kembali?".

__ADS_1


"Jovan senang Mak. Hanya saja aku tidak bisa lagi bertemu dengan Jessy", Jovan menunduk.


Emak segera datang merangkulku. "Pasti bertemu suatu saat nanti Nak, emak yakin Jessy kembali", ucap emak menghiburku. Memang ada harapan Jessy kembali ke kota ini mengunjungi mamanya. Tapi apakah Jessy yang aku kenal saat ini akan tetap sama untuk beberapa tahun yang akan datang?


__ADS_2