
Mobil dikemudikan oleh mama tiri Jessy. Papanya kalang kabut melihat kondisi anaknya yang sudah pucat. "Sayang, cepat sedikit bawa mobilnya!".
"Ini sudah cepat Mas! Kamu mau kita semua celaka?".
"Jessy, Jessy sayang ini Papa Nak! Bertahanlah! Papa nggak mau kamu kenapa-napa".
Istri barunya melihat kemesraan itu di balik kaca spion merasa kesal. Mengapa tidak dibiarkan mati saja itu anak daripada menyusahkan. Pikirnya dengan sangat kejam.
Setelah sampai di rumah sakit dokter segera memeriksa pasien. "Kenapa baru dibawa kesini sekarang? Ini bisa gawat kalau saja kamu bawa anak ini selang sepuluh menit saja", ucap seorang dokter yang merupakan teman kuliah papa Jessy dari Indonesia.
"Tolong, berikan yang terbaik untuk anakku!".
Dokter selesai memeriksa dan menuliskan resep untuk Jessy. Hari ini Jessy harus dirawat inap do rumah sakit agar mendapat perawatan intensif.
"Steve, kita bicara dulu berdua di ruanganku", ajak dokter itu pada papa Jessy. Papa Jessy menyuruh istrinya menunggu Jessy di kamar inap.
"Kamu gila apa? Membawa anakmu jauh dari ibu kandungnya? Itu akan menggangu kondisi psikisnya!", ucap dokter tadi pada sahabatnya.
Ia merupakan sahabat dengan papa Jessy. Ia juga mengenal baik mama Jessy. Jadi ia tahu apa yang sedang terjadi dengan rumah tangga sahabatnya.
Dengan masalah perceraian, sampai sekarang menikah lagi dan membawa Jessy ikut paksa dengan papanya. Dokter itu semuanya tahu.
Papa Jessy memijat-mijat keningnya. Ia tak menyangka datang ke ruangan dokter hanya untuk dimarahi. "Kamu nyuruh aku kesini cuma mau marah-marah?", tanyanya tidak terima disalahkan.
"Steve, terserah kamu mau bilang apa! Tapi kembalikan Jessy pada Eva. Kalau kamu pengen lihat dia sehat dan bahagia".
"Apa maksud kamu? Mana mungkin, anak yang sudah aku perjuangkan mendapat hak asuhnya tapi sekarang aku kembalikan begitu saja?", papa Jessy meentang keras saran temannya.
"Berpikirlah jernih, dia masih kecil. Butuh kasih sayang seorang ibu. Dan kasih sayang yang diberikan ibu sambungnya tak akan pernah sama. Kamu harus tahu itu", ucap dokter tadi lalu pergi meninggalkan papa Jessy di ruangannya.
"Sialan!", ucap papa Jessy.
Di dalam kamar. Jessy terus mengigau memanggil nama mamanya. Memang anak itu sakit karena benar-benar merindukan mamanya. Siska ibu tirinya yang sedari tadi menunggu tambah kesal.
__ADS_1
Hingga papanya datang ke kamar masih terdengar Jessy mengigau. "Jessy sayang, ini Papa Nak!", ucapnya mengelus kening Jessy lalu menciumnya.
Jessy perlahan membuka matanya. "Pa, Jessy mau ikut mama. Antar Jessy pulang ke Indonesia Pa!", rintihnya.
Papa Jessy hanya terdiam. Ia sangat tak ingin Jessy ikut dengan mamanya. Karena ia hanya memiliki satu anak yaitu Jessy.
Bagus deh kalau dia minta ikut mamanya. Aku bisa bebas hidup berdua sama Mas Steve. Aku harus pintar-pintar bujuk Mas Steve supaya dia mau mengembalikan Jessy pada ibunya. Senyum licik mama tirinya.
"Kenapa Papa diam? Papa nggak sayang Jessy".
Siska mama tirinya mengajak suaminya keluar kamar. "Mas, apa sebaiknya kamu penuhi permintaan Jessy? Kasihan Mas, aku nggak tega lihat dia seperti ini", ucapnya sambil berakting sedih memulai bermain peran.
"Tapi aku sangat menyayangi dia. Dan aku hanya memiliki satu-satunya anak yaitu dia".
"Mas, soal anak, aku bisa memberikannya untukmu. Apa kamu tidak ingin anak dariku Mas? Kamu pasti bisa punya anak lagi dari aku Mas", bujuknya dengan mulut manisnya. Sambil bergelayut manja.
Papa Jessy nampak bingung. Tapi menurutnya perkataan Siska barusan ada benarnya juga. Ia bisa mendapat anak lagi dari Siska.
"Beneran? Papa nggak bohong kan? Jessy terima syarat dari Papa", sangat antusias. Jessy berjanji akan berusaha mendapat nilai yang terbaik demi bisa pulang berkumpul lagi dengan mamanya.
Tiga bulan berlalu.
Jessy bisa menepati janjinya. Menjadi lulusan dengan nilai tertinggi di sekolahnya.
Gurunya di London sangat menyayangkan Jessy melanjutkan di Indonesia. Kalau Jessy mau, sekolah-sekolah terbaik disini bisa menampungnya sesuai dengan prestasinya.
Tapi keputusan Jessy sudah bulat. Hatinya lebih berat ke mamanya. Pendidikan bisa ia dapat dimana saja. Tapi kasih sayang dari mama tak akan ia dapat dari wanita lain manapun.
"Sayang, apa kamu sudah siap?", tanya papanya. Papanyalah yang akan mengantar Jessy ke Indonesia. Sedangkan Siska mama tirinya akan tetap menunggu di London.
Jessy mengangguk. Tak lupa ia berpamitan dengan mama tirinya. Raut kesedihan yang ditampakkan dari mama tirinya hanya akting belaka. Hal itu Jessy sudah tahu. Wanita itu sangat lihai memainkan perannya.
"Apa Jessy senang?", tanya papanya di dalam pesawat. Sebenarnya ia tak rela.
__ADS_1
"Ya Jessy bahagia Papa".
"Maafkan Papa kalau Jessy tidak bahagia tinggal dengan Papa. O ya, Jessy harus berjanji satu hal dengan Papa".
"Apa itu Pa?".
"Jessy harus mau ikut Papa. Jika suatu saat nanti Papa meminta Jessy kembali".
"Oke Pa".
Jessy hanya bisa menjawab ia. Tanpa ia sadari apa makna perkataan papanya barusan. Jika ia harus dibagi menjadi dua bagian itu tidak mungkin. Yang bisa ia lakukan hanyalah bersikap adil kepada kedua orang tuanya.
Papanya sudah baik hati mengijinkan ia tinggal dengan mamanya saat ini. Oleh karenanya jika suatu saat nanti papanya menginginkan dia kembali Jessy harus patuh. Itulah makna yang ia cerna.
"Sekarang tidurlah di bahu Papa. Kalau sudah sampai Papa akan bangunkan", ucap papanya.
Di bandara. Pak sopir yang dulu biasa mengantar jemput Jessy sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu. Ia senang akhirnya majikan kecilnya telah kembali.
"Non, Jessy. Sampai jumpa lagi. Selamat datang ya Non", ucapnya setelah bertemu dengan Jessy.
"Pak, antar Jessy ke rumah. Saya titip dia", ucap papa Jessy.
"Kenapa Papa tidak ikut saja?".
"Papa ada urusan. Papa besok juga harus kembali ke London. Jangan lupa selalu kasih kabar ke Papa ya sayang", ucapnya mencium pipi kanan kiri Jessy.
Semua tanpa sengaja. Papanya memilih bermalam di hotel. Ia tak mungkin pulang ke rumah. Ataupun mengantar Jessy sampai rumah dan bertemu mantan istrinya.
Jessy menangis dan memeluk papanya. Meski ia bahagia akan segera bertemu dengan mamanya dan tinggal kembali di Indonesia tapi bukan itu sebenarnya yang ia inginkan. Yang ia inginkan adalah papanya ikut kembali tinggal bersamanya dan menjadi keluarga yang utuh.
Namun semua itu hanyalah mimpi. Yang tak akan pernah terjadi lagi. Kini papanya sudah menikah lagi. Dan kenyataannya sudah kedua orang tuanya sudah bercerai.
Ia segera menghapus air matanya. Dan melambaikan tangan pada papanya yang sudah berada dalam taksi. Hati-hati Pa! Jessy sayang Papa!
__ADS_1