
Pak Bono menarik kupingku sedikit kasar. Hingga membuatku terpaksa harus berdiri karena tarikannya. Pedas sekali rasanya. Mungkin saat ini kupingku sudah memerah.
"Tunggu apa lagi? Nih bantu bawakan ke kelas!", tegas Pak Bono yang masih melihatku mematung di depan orang yang ku tabrak.
Aku menerima tas Pak Bono yang sedikit berat. Entah apa yang dosen kiler itu bawa di dalam tasnya. Dengan cepat aku mengikuti langkah kakinya menuju kelas. Tak ingin kupingku ditarik lagi. Sampai aku lupa berucap pada seseorang yang ku tabrak tadi.
Berbeda dengan seseorang tadi yang masih mengamatiku. Sampai sebuah senggolan menyadarkan lamunan orang itu. "Jangan bengong, namanya Jovan. Anak kedokteran!", jelas seorang temannya.
Sudah cukup lama aku duduk dengan tegang mengikuti dosen kiler. Hingga suara cacing di perutku ini tak mampu ku tenangkan lagi. Begitu gaduh dan menuntut dari dalam sana.
"Do, langsung ke kantin ya!", ucapku memberi perintah dan langsung ngacir mendahului Dodi.
"Ishhhh tumben-tumbenan anak itu? Apa tadi belum sarapan dia?", tanya lirih Dodi. Yang kemudian pergi menyusulku.
Terlihat kantin sedang ramai banyak orang. Sepertinya hanya tersisa bangku di pojok sana. Namun sayangnya, aku harus berhadapan dengan segerombolan para gadis yang sudah lebih dulu menempati di seberangnya.
Tak apa, sudah lapar juga. Ku buang jauh-jauh rasa malu dan canggung karena berdekatan dengan lawan jenis. Toh ini tempat umum juga.
Aku segera duduk setelah mendapat bangku yang ku maksud. Setelah memesan indokriting rebus beserta gorengan kepada mbak Tina pelayan kantin.
"Eh, kamu yang nabrak aku tadi kan?", pertanyaan itu tiba-tiba terdengar dari seorang gadis di seberang. Mau tak mau membuat aku harus melihatnya.
Sorot mata kami bertemu. Aku sempat tercengang. Ternyata dia gadis manis berwajah blasteran dengan rambut pirang yang sengaja di semir.
"Ah benarkah? Maaf tadi langsung meninggalkanmu begitu saja", ucapku tak enak. Tak lama Dodi datang menyusul duduk di sampingku. Ia nampak mendengarkan percakapan kami.
__ADS_1
"Aku Kintan!", mengulurkan tangan padaku.
Merasa tak enak atau dikira sombong lebih tepatnya, aku menerima uluran tangan itu dan menyebutkan nama. "Eh iya, kenalin ini Dodi sahabatku", karena mendapat tatapan penuh tanda tanya dari Dodi, akupun akhirnya juga memperkenalkan Dodi padanya. Dan disitulah terjadi aksi jabat tangan secara bergantian karena sahabat Kintan dengan antusias juga ngajak kenalan.
Jangan lupa habis itu cuci tangan pake sabun ya😎.
Kintan adalah anak jurusan perawat. Pertemuan tak sengaja dengan Jovan membuat blasteran keturunan Indo-Jepang itu diam-diam menaruh rasa pada Jovan. Hingga keberaniannya untuk berkenalan langsung pada sosok Jovan.
Untuk itu, ketika bertemu dengan Jovan di kantin tadi senangnya bukan main. Dengan begitu ia tak perlu lagi mencari Jovan ke kelasnya.
Hari berganti hari. Tak terasa sudah hampir dua tahun Jovan berkuliah. Dan Kintan secara terang-terangan gencar mendekati Jovan tanpa malu-malu. Rupanya gadis itu memiliki sifat keras dan pantang menyerah.
Lalu apa kabar dengan Jessy? Jessy sempat pulang ke Indo menjenguk sang mama bulan lalu. Ketika Jovan semangat mengejar cinta monyetnya itu tapi lagi-lagi harus terhalang pembatas besi.
Jovan melihat Jessy di jemput sopir rumahnya bersama dengan Bagas dan seorang anak kecil persis dengan foto yang ia lihat di medsos. Semakin menambah keyakinan bahwa Jessy sudah menikah dengan Bagas dan punya anak.
"Terus kamu nggak jadi nyamperin Jessy Jo?", tanya Dodi waktu itu.
Aku menjawab dengan gelengan kepala. Dodi masih melanjutkan perkataannya. "Aku nggak percaya Jo, kalau Jessy sudah menikah dan punya anak apalagi sama Bagas".
Ya, semenjak mendengar ceritaku. Dodi tak percaya dengan semua apa yang aku lihat. Ia masih saja menyangkal dengan ketidakmungkinan.
"Apanya yang nggak mungkin Do? Jelas dari dulu mereka dijodohkan", elakku membenarkan apa yang ada dipikiran.
"Itu dulu Jo. Bahkan kamu tahu Jessy tak pernah menyukai Bagas menurut cerita Amel. Amel nggak mungkin bohong sama aku Jo! Lagipula Amel bakal datang ke London begitu juga dengan mamanya kalau Jessy menikah Jo", Dodi masih saja mengotot tak percaya.
__ADS_1
Aku masih mencerna semua ucapan Dodi.
Flashback off.
"Hey, ayo pulang", Kintan mengagetkan dengan memegang lenganku. Sudah beberapa bulan terakhir ini aku dan dia terlihat akrab. Hanya saja aku selalu menganggapnya teman. Berbeda dengan Kintan yang menganggapku adalah kekasihnya. Haishhhh ada-ada saja.
Berulang kali aku menegaskan kepadanya aku tidak ada perasaan apapun padanya. Tapi, lagi-lagi gadis itu bilang akan sabar menunggu sampai aku membuka hati asal aku tetap mengijinkan dia selalu disisiku.
Bukankah rasa cinta itu ada karena terbiasa Jo? Kata-kata itulah senjata ampuh baginya untuk bisa menahanku disisinya.
Aku juga tidak ada alasan untuk menjauhinya. Ku akui Kintan adalah gadis yang baik. Ia tak pernah neko-neko. Ia juga tak pernah memandang rendah diriku meski tahu darimana seluk belukku. Tapi ia selalu menganggap aku spesial di matanya. Benar-benar cinta telah membuatnya buta.
"Jadi gimana? Apa mau masih disini? Ayo pulang, bukankah sudah tidak ada kelas?", tanya gadis itu lagi. Dia rela menunggu satu jam di luar sana hanya untuk menungguku, astaga!
Merasa tak enak, dan aku selalu menyia-nyiakan gadis sebaik dia, aku langsung berdiri. "Iya, ayo pulang".
Dan lihatlah. Kami kini sedang berada di cafe tempat kerjaku. Seperti tak ada kerjaan memang, Kintan seringkali ikut pulang denganku tapi ke cafe tempatku kerja. Dan gadis itu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk nongkrong disitu. Asyik memainkan laptopnya dan sesekali memandangiku.
Tak heran pemilik cafe yang tak lain om Dodi, mengira ia kekasihku. Sebenarnya muncul perasaan tak enak pada om Dodi, tapi lagi-lagi om Dodi mengerti. "Tak apa Jo, toh kekasihmu itu tak menganggu kerjamu dan kamu masih bisa fokus bekerja", ucapnya.
"Jo...Jo, sampai kapan kamu akan terus menggantung perasaannya?", tanya Dodi selepas kepergian Omnya. Sambil menunjuk ke arah Kintan dengan gelas di tangannya.
Kebetulan anak itu datang menghampiriku ke cafe. Bisa di tebak dia pulang berkencan. O ya, sekarang dia resmi jadi kekasih Amel ya. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya mendapatkan Amel. Nggak seperti diriku yang tanpa kejelasan.
"Siapa yang kamu maksud? Kintan? Sorry, aku nggak pernah ngegantung perasaan siapapun", jawabku sambil meracik minuman pesanannya.
__ADS_1
"Nggak ngegantung gimana? Emang pernah kamu jujur padanya kalau perasaan di hatimu itu nggak akan pernah kamu buka buat dia Jo? Karena sudah terisi gadis lain. Kasihan dia!", ucap Dodi penuh penekanan sekaligus penuh kata-kata menyinggung.