
Sunyinya malam membuat suasana sepertiga malamku terasa seperti hari-hari biasa. Tidak ada yang spesial namun aku selalu kagum bila mana Sang Khalik masih selalu mengingatkan ku hal-hal kecil seperti ini.
Sedari bangku SMA, lebih tepatnya setelah Ayah dipanggil oleh-Nya. Alhamdulillah, aku sudah rutin melakukan ibadah malam dan mengerjakan ibadah wajib lainnya.
Aku memang sudah berjanji pada diriku sendiri bahwasanya aku tidak ingin melihat Ayah bersedih, melainkan aku ingin Ayah bangga karena memilikiku.
Maka dari itu, ku putuskan disetiap paginya selalu menyambut hari-hari dengan senyuman indah. Berharap Ayah selalu melihatku bahagia sebelum menjalani aktivitas.
Bagiku, sosok Ayah adalah pahlawan dan cinta pertamaku, sebelum dia yang benar-benar halal untukku hadir menggantikan Ayah.
...
"Selamat pagi, Bu." sapa Aisyah setelah melangkahkan kakinya masuk ke dapur, dimana Ibu Amira tampak menyiapkan sarapan.
"Pagi sayang, sini sarapan dulu." Ibu Amira membawa anak semata wayangnya itu duduk di meja makan dan mulai memberikan lauk pauk untuk Aisyah. "Nanti Ica masuk jam berapa?"
"Jam 9, Bu. Insya Allah setelah ini Ica akan pergi kampus, nih tasnya aja sudah siap." Aisyah tersenyum sambil memperlihatkan tasnya yang sudah dikenakan.
Melihat semangat anaknya yang selalu bahagia membuat Ibu Amira ikut bahagia.
__ADS_1
"Bagus, ini baru anak Ibu." tidak lupa, Ibu Amira mengelus kepala Aisyah dengan penuh kelembutan.
Membuat Aisyah membalasnya dengan mengangguk dan mulai melahap makanannya sampai habis tak tersisa.
"Kalau begitu Ica pergi sekarang ya, Bu? Pagi ini ada presentasi soalnya." Aisyah berpamitan.
Setelah mencium tangan Ibu Amira, Aisyah bergegas keluar dengan langkah penuh semangat.
Hingga Ibu Amira yang melihatnya pun hanya bisa menggeleng-geleng, melihat anaknya pergi diiringi senyuman indah.
"Diatas sana kamu pasti bisa melihat putri kita kan, Mas? Iya mas, Ica kecil sekarang sudah tumbuh menjadi wanita solehah yang sebagaimana mas Zaki inginkan dan alhamdulillah kita berhasil, Mas."
...
Setiap hari, Aisyah selalu memakai jasa angkutan umum karena memang ia tidak suka menggunakan jasa ojek atau pun taksi. Selain mahal, Aisyah juga tidak suka boros dalam menggunakan uang.
15 menit berlalu, Aisyah sudah tiba di salah satu kampus terkenal yang ada di kota Malang. Dengan langkah terburu-buru, Aisyah melangkahkan kakinya menuju dimana kelasnya berada hingga ...
Brukkk
__ADS_1
Aisyah terpental hingga jatuh ke lantai karena ia tak sengaja menabrak seorang pria yang tidak tahu siapa.
"Maaf, maafkan aku." karena terburu-buru Aisyah langsung bangkit, beranjak pergi begitu saja setelah ia meminta maaf.
Saat ini, Aisyah benar-benar tidak fokus karena sebentar lagi kelasnya akan segera dimulai sedangkan ia sama sekali belum tahu apakah teman yang bersamanya presentasi sudah hadir atau belum di kelas.
Sementara sosok pria yang ditabraknya tadi masih terdiam, memperhatikan Aisyah yang perlahan menghilang dari indera penglihatannya.
"Mahasiswa wanita itu siapa? Kenapa saya merasa bagaikan melihat bidadari yang turun dari syurga?" gumam pria tersebut, belum puas memandangi wajah cantik wanita yang baru saja ditabraknya.
Namun tanpa pria itu sadari, salah seorang pria sedang jalan berjinjit menghampirinya. Pria ini tampak ingin mengusili pria itu.
"ASYHARRR!" tidak segan-segan, pria itu berteriak memanggil pria yang bernamakan Asyhar.
Asyhar yang memang kaget, masih membelalakkan matanya dengan ekspresi tidak percaya. Ia benar-benar masih syok.
Dengan gerakan cepat, Asyhar ikut membalas perbuatan pria itu dengan menjewer telinganya.
"Masih mau tambah? Emang enak?" kesal diperlakukan seperti itu, Asyhar ikut memberikan pelajaran untuk pria yang sangat berani mengusiknya.
__ADS_1
Namun pria itu tampak menikmati balasan Asyhar dengan tersenyum lebar. "Enaklah, apa lagi rasanya rasa coklat."
Sontak ucapan pria usil itu berhasil membuat Asyhar semakin kesal. "ZIANNNNNN."