Seukir Tinta

Seukir Tinta
Pingsan


__ADS_3

Sekali lagi, Toni hanya bisa menghela napas. Menurutnya Hero sudah sangat keterlaluan karena selalu menyuruh Aqila untuk bekerja.


"Terus hari ini tuan Hero menyuruh nona Aqila apa?" tanya Toni penasaran.


"Aku masih harus membersihkan kolam renang, menyapu halaman belakang sama mencuci pakaian." jawab Aqila yang terdengar santai.


Namun tidak untuk Toni yang sudah berdecak. "Apa nona tidak capek? Bukankah pekerjaan itu pekerjaan berat? Kalau nona Aqila kelelahan terus pingsan lagi gimana?"


Aqila tersenyum, akhir-akhir ini Aqila memang sering pingsan jika melakukan banyak pekerjaan namun Aqila tidak pernah menyerah. Baginya mendapatkan perintah Hero adalah suatu kewajiban yang harus ia kerjakan.


Dengan tersenyum lebar, Aqila menatap Toni yang masih setia menemaninya. "Kau tenanglah, bukankah kau selalu mengja -- ."


Aqila tidak menjawab, pandangannya tampak berputar-putar. Penglihatan Aqila pun ikut gelap dan tidak lama Aqila terjatuh.


Toni yang melihat Aqila tergeletak di rumput langsung mendekati Aqila sembari menepuk-nepuk pipi Aqila pelan.


"Tuh kan kejadian." Toni menghela napas sambil menyebut nama Aqila yang sudah dalam keadaan pingsan.


...


Dilain tempat, seorang pria menatap sendu foto wanita yang selama beberapa minggu ini dicarinya namun belum juga ditemukan.


"Brenda, kamu dimana?" tanya Hero diiringi helaan napas. Sebab Hero belum pernah menemui Brenda setelah terakhir kali mereka bertemu.

__ADS_1


Dan tidak lama setelah itu Daniel masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa. Melihat itu Hero sudah tahu apa yang terjadi.


"Ada apa? Apa dia pingsan lagi?" tanya Hero dengan wajah acuh. Berbeda dengan Daniel yang sudah mengangguk.


"Iya tuan, saat ini nona Aqila kembali pingsan. Ini sudah pingsan ke 7 kalinya selama tuan menghukumnya."


Tatapan Hero menatap tajam Daniel yang juga membalas tatapannya. "Itu bukan urusanku, lagian siapa suruh dia menjebakku." Daniel menggeleng.


"Tidak tuan, bukankah sudah berapa kali saya jelaskan jika nona Aqila sama sekali tidak menjebak anda tapi -- ."


Hero menghela napas sembari meletakkan telapak tangan didepan dada. Daniel selalu saja membela Aqila yang jelas-jelas sudah salah.


"Bukankah sudah berapa aku katakan jika aku tidak akan pernah percaya karena jika Brenda yang sudah menjebakku, dia pasti tidak akan pergi dariku."


"Hey! Kau mau kemana?" tanya Hero membuat langkah Daniel berhenti dan kembali berbalik.


"Aku ingin ke rumah anda tuan karena aku ingin membawa nona Aqila pergi ke rumah sakit." ucap Daniel namun Hero menggeleng.


"Tidak usah, wanita murahan sepertinya tidak boleh diberi hati karena jika terus seperti itu lama-lama dia akan ngelunjak."


Ucapan Hero membuat Daniel tersulut emosi. Bisa-bisanya Hero berbicara seperti itu kepada istrinya sendiri.


"Tolong jaga omongan tuan Hero. Lagian istri tuan sedang sakit apakah pantas tuan berkata seperti itu."

__ADS_1


Deg!


Hati Hero tiba-tiba terasa sesak, ucapan Daniel seakan menusuk di hati teramat paling dalam namun dengan segera Hero bangkit.


"Baiklah, kita pergi sekarang." Daniel tersenyum lebar, saat Hero mengambil keputusan.


...


Langkah Hero memasuki kamar Aqila yang menampakkan Toni sedang berdiri didepan Aqila yang masih pingsan.


"Bagaimana dengannya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Hero yang dijawab Toni dengan gelengan kepala.


"Tidak tuan, sudah sejam lamanya nona Aqila masih saja belum sadarkan diri." jelas Toni memberitahu dan itu membuat Hero geram.


"Kenapa kau diam saja, cepat panggil dokter." bahkan Hero sudah berteriak membuat Toni mengangguk dan segera menghubungi dokter.


Sedangkan Hero, entah kenapa perasaannya merasa ibah melihat Aqila berwajah pucat seperti ini. Dengan pelan, Hero duduk disamping Aqila.


"Aqila, apa kau mendengarku?" tanya Hero namun masih belum ada sahutan sama sekali. "Cepatlah bangun, melihatmu seperti ini membuatku cemas."


Ucapan Hero membuat Daniel dan Toni saling menatap, baru kali ini merekanmelihat Hero yang begitu lembut kepada Aqila.


Sejak kejadian itu, Hero memang memberi batasan pada Aqila namun wanita itu selalu sabar dan sama sekali tidak pernah menolak.

__ADS_1


__ADS_2