
Tidak berselang lama, seorang dokter datang membuat Hero bangkit dan menghampiri dokter itu.
"Dok, cepat periksa keadaan istri saya. Sejak tadi dia belum sadarkan diri." ucap Hero dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Sedang dokter wanita yang bername tag Dokter Lena sudah mengangguk. "Baik tuan."
Dokter Lena mulai memeriksa keadaan Aqila dan setelah yakin dengan prediksinya dokter Lena menghampiri Hero.
"Selamat tuan, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah."
Deg!
Tubuh Hero terasa kaku, ucapan dokter Lena membuat tubuh Hero mati rasa namun tidak bisa Hero pungkiri ada rasa bahagia yang ia rasakan mendengar Aqila sedang mengandung anaknya.
"A-apa dok? Istri saya hamil?" dokter Lena mengangguk sembari tersenyum.
"Iya tuan dan jika anda ingin memastikannya anda bisa pergi ke rumah sakit setelah istri anda sadar." Hero mengangguk.
"Terima kasih, dok." dokter Lena tersenyum.
Hero lalu menatap Daniel dan Toni yang juga sama bahagianya. Mereka berdua bahkan sudah melompat kegirangan ketika tahu baby Hero akan segera hadir.
__ADS_1
"Oh ya, istri tuan harus banyak-banyak istirahat, jangan sampai kelelahan karena itu bisa berakibat fatal dengan kondisi janinnya." jelas dokter Lena lagi.
Setelah Hero menyanggupi, dokter Lena pergi meninggalkan rumah Hero ditemani Toni. Daniel mendekati Hero yang kembali duduk disisi Aqila.
"Tuan, sekali lagi selamat karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah." ucap Daniel yang Hero balas dengan anggukan.
"Terima kasih, Niel."
Daniel bisa melihat raut kebahagiaan yang begitu jelas diwajah Hero. Melihat itu Daniel tersenyum legah.
"Semoga saja setelah hari ini nona Aqila bisa bahagia." ucap Daniel penuh harap.
Sedang Toni yang baru masuk lalu menatap Hero dengan penuh kegembiraan. "Tuan, selamat ya?" Hero mengangguk.
Kedu netra Hero kemudian menatap Aqila yang masih terlelap dan tidak lama setelah itu Aqila mulai sadar.
Aqila tersenyum ketika mendapat Hero yang sudah ada disampingnya. "Hero!" ucap Aqila ingin duduk yang langsung dibantu oleh Hero.
Mendapat perlakuan hangat itu membuat Aqila bingung. Ia menatap kedua pria yang berdiri dihadapannya seolah meminta penjelasan.
"Mulai sekarang, kau jangan bekerja yang berat-berat lagi. Hukumanmu sudah ku tiadakan. Mulai memasak, menyapu, menyiram tanaman bahkan menguras kolam renang, itu semua tidak boleh kau lakukan lagi." jelas Hero yang membuat Aqila semakin bingung.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak bisa melakukannya lagi, apakah aku sudah berbuat kesalahan? Kalau iya, maafkan aku." Aqila menunduk dan tidak lama terdengar isakan.
Aqila takut diusir Hero, apa lagi sampai dipulangkan ke rumah orang tuanya. Itu berarti Aqila tidak memiliki harapan untuk mempertahankan rumah tangganya lagi.
Dan melihat Aqila seperti ini membuat hati Hero remuk, tatapannya menatap ibah istrinya yang sedang menangis.
"Kau tenanglah, kau sama sekali tidak memiliki kesalahan apa pun." mendengar ucapan Hero membuat Aqila menatap suaminya yang sudah mengangguk.
"Lalu kenapa kau menyuruhku untuk tidak melakukan semua hukumanmu? Apakah kau ingin memulangkan aku ke orang tuaku?" tanya Aqila dengan wajah serius.
Namun Hero tersenyum sembari memegang perut Aqila yang masih rata. "Karena aku tidak ingin baby kita kenapa-kenapa disini."
Deg!
Aqila membisu mendengar ucapan Hero, tatapannya menatap tidak percaya pada suaminya yang tampak sangat bahagia.
"A-aku hamil?" tanya Aqila yang Hero jawab dengan anggukan.
"Iya, kau hamil." setelah menjawab pertanyaan Aqila, Hero menatap Aqila yang tampak bersedih. "Ada apa? Kau tidak bahagia?" tanya Hero dan Aqila menggeleng.
"Bukannya aku tidak bahagia tapi aku masih tidak percaya dengan semua ini. Apakah aku sedang bermimpi?" Aqila menatap semua orang yang sudah menggeleng.
__ADS_1
Bahkan Toni sudah dibuat menangis mendengar ucapan Aqila yang menurutnya terdengar memilukan, ditambah Hero yang sudah mulai berubah berbanding terbalik dengan perlakuannya tempo hari.
Dengan tersenyum, Hero meraih tangan Aqila. "Ini bukan mimpi, sayang. Ini adalah kenyataan dan aku tidak ingin kau banyak pikir, aku tidak ingin kau dan calon anak kita sampai kenapa-kenapa." Hero kembali mengusap lembut perut rata Aqila dengan wajah penuh kebahagiaan.