Seukir Tinta

Seukir Tinta
Sebutan Formal


__ADS_3

Aisyah yang tidak tahu harus berkata apa memilih pergi, tidak mempedulikan Asyhar yang terus mengikutinya.


Mereka bahkan telah menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang berada di perpustakaan hingga keduanya sama-sama keluar.


Asyhar yang terus berjalan dibelakang Aisyah lalu menghentikan langkahnya.


"Aisyah Nur Annisa." teriak Asyhar yang sontak membuat langkah Aisyah berhenti.


Saat ini Aisyah begitu terkejut, mengetahui pria yang mengikutinya ternyata tahu nama aslinya.


Melihat Aisyah yang diam ditempat membuat Asyhar kembali menyusul Aisyah hingga berhenti tepat dihadapannya.


"Aisyah, setidaknya kamu ambillah buku ini. Bukan kah buku ini yang kamu inginkan?"


Ingat akan tujuannya, mau tidak mau Aisyah pun meraih buku yang ada ditangan Asyhar. "Terima kasih. Maaf jika aku sudah merepotkan, Mas."


"Sama sekali tidak, Aisyah. Malah aku senang melakukan ini semua." Asyhar kembali mengulurkan tangannya. "Oh iya aku Asyhar, dosen baru disini."


Mendengar ucapan Asyhar membuat mata Aisyah membola, tidak menyangka bila ternyata orang membantunya saat ini adalah seorang dosen bukannya mahasiswa.


Jika dilihat dari segi penampilan, style Asyhar bagaikan mahasiswa pada umumnya.


Berpenampilan rapi, memiliki wajah tampan dan bentuk tubuh yang tinggi membuatnya masih layak dianggap mahasiswa.

__ADS_1


Dengan tertunduk malu, Aisyah merasa sangat bersalah sudah memperlakukan Asyhar seperti itu.


"Ma-maaf pak, aku sama sekali tidak tahu jika anda itu ternyata seorang dosen." ucap Aisyah dipenuhi rasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Setidaknya kamu mau mengambil buku itu kembali sudah cukup untukku." Asyhar menunjuk buku yang sudah ada ditangan Aisyah.


Namun Aisyah tampak terlihat masih tertunduk. "Sekali lagi, saya meminta maaf pak."


Dan entah kenapa, Asyhar merasa tidak enak bila Aisyah menyebut namanya dengan sebutan formal layaknya dosen dan para mahasiswa.


Dengan mengangguk paham, Asyhar tampak sedang berpikir. "Baiklah, aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat."


"Syarat? Syarat apa ya, Pak?" Asyhar tersenyum puas.


"Aku akan memaafkanmu bila kamu berhenti memanggilku dengan sebutan Pak karena sejujurnya umur kita masih terpaut tidak berbeda jauh bahkan tadi saja kamu masih mengira aku ini seorang mahasiswa." ucap Asyhar panjang lebar.


"Tidak Pak yang namanya guru tidak dilihat dari segi umurnya melainkan dari ilmunya. Bila mana Pak Asyhar merasa tidak pantas disebut dengan sebutan itu maka bagaimana Pak Asyhar akan dihargai?" terang Aisyah yang membuat Asyhar semakin kagum.


"Baiklah, jika itu kemauan Aisyah. Aku tidak akan membantah lagi. Toh, ucapan Aisyah memang benar."


Di selah perbincangan mereka, entah dari mana asalnya Zian datang dengan memasang wajah yang lelah.


Saat ini Zian tampak kewalahan karena sudah mencari kebenaran Asyhar yang rupanya sudah ada diluar.

__ADS_1


"Astaga, Syar. Rupanya kau disini? Apakah kau tahu aku sangat lelah mencarimu?" keluh Zian.


"Tidak, aku tidak tahu." ucapan Asyhar sontak membuat Zian terperangah akan jawabannya.


Namun sebisa mungkin Zian menahan kekesalannya dan kini tatapannya mengarah pada seorang wanita cantik yang berada ditengah-tengah mereka.


"Assalamualaikum Aisyah." sapa Zian yang dibalas Aisyah dengan anggukan.


"Waalaikumsalam, Pak Zian. Bapak sehat?" Aisyah yang bingung melihat wajah lelah Zian memberanikan diri untuk bertanya.


Dan pertanyaan tersebut berhasil membuat Asyhar ikut menatap sahabatnya yang memang tampak kurang sehat.


"Seperti yang kamu lihat, sepertinya aku harus mengecek tekananku. Apakah Aisyah bisa memeriksanya untukku?"


Tidak ingin kalah dari Asyhar, Zian berniat untuk memanasi sahabatnya dengan memperalat Aisyah untuk mengecek tekanannya.


Namun baru saja pikiran itu terbesit, kini Zian harus menelan rasa kekecewaan untuk yang kedua kalinya.


"Maafkan saya, Pak hanya saja saat ini saya tidak membawa peralatan apa pun."


Serasa langit runtuh didepan mata, Zian pun memilih pasrah dengan wajah yang fokus menatap Asyhar yang tampak menahan tawa.


Lain halnya dengan Aisyah yang kini menatap Asyhar dan Zian secara bergantian.

__ADS_1


"Oh iya, Pak Asyhar, Pak Zian. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Asyhar dan Zian menjawabnya bersamaan.


__ADS_2