
Dan melihat itu semua, seorang pelayan wanita sudah berlari naik ke atas. Ia berniat memberitahu masalah tersebut pada majikannya.
Setelah tiba di depan kamar, pelayan itu tampak ragu untuk mengetuk pintu.
"Apakah tidak masalah jika aku memberitahu semua ini pada tuan dan nyonya besar?" sekali lagi, pelayan itu bertanya pada dirinya sendiri.
Namun tidak lama setelah itu pintu terbuka lebar, memunculkan majikannya yang tampak heran menatap keberadaan pelayan tersebut.
"Mina ada apa? Kenapa kau berdiri di depan pintu?" tanya mama Laura, mama dari Aqila.
Sedang Mina yang ditanya langsung menunduk, ia masih ragu harus berbicara atau tidak.
"Mina ada apa?" sekali lagi mama Laura bertanya karena sejak tadi Mina masih enggan menjawab hingga membuat seorang pria ikut keluar dari pintu itu, menatap mama Laura yang tampak kesal.
"Ma ada apa? Kenapa kau terlihat kesal?" tanya papa Adit, papa dari Aqila.
Namun mama Laura langsung menunjuk Mina yang masih menunduk. "Itu Pa, sejak tadi Mina berdiri disini tapi setelah Mama bertanya ada apa, dia hanya diam."
Mendengar hal tersebut membuat papa Adit mengernyit. Tidak biasanya ada pelayan yang berani datang ke kamar mereka kecuali dalam keadaan darurat.
"Mina, ada apa? Apa ada masalah?" kini papa Adit yang bertanya yang membuat Mina memberanikan diri mendongak, menatap kedua majikannya secara bergantian.
__ADS_1
"I-iya tuan tadi saya melihat nona Aqila dibawa paksa sama tuan Hero keluar rumah." jelas Mina dengan nada rendah. Ia takut bila salah bicara.
Namun sedetik kemudian tawa papa Adit dan mama Laura menggema membuat Mina menatap dengan penuh keheranan atas kedua sikap majikannya.
"Kenapa mereka berdua hanya tertawa? Bukankah seharusnya mereka panik?" Mina yang bingung, bertanya dalam hati.
"Pa, aku tahu ini pasti akan terjadi. Hero begitu hanya ingin sok jual mahal." ucap mama Laura sambil memeluk papa Adit yang juga sudah mengangguk.
"Iya ma kau benar dan sebentar lagi kita pasti akan segera menimang cucu." jawab papa Adit lalu mendekatkan bibirnya ke telinga mama Laura. "Kalau bgitu kita pun juga harus buat Ma!"
Keduanya sudah kembali masuk, meninggal Mina yang masih bingung dengan sikap kedua majikannya yang sangat santai.
...
Malam semakin larut, Aqila yang dibawa paksa sama Hero tampak masih ketakutan bahkan Hero tidak segan-segan mencengram tangan Aqila hingga memerah.
"Kau ingin membawaku kemana?" tanya Aqila memberikan diri untuk bertanya namun Hero tidak menjawab. Ia memilih fokus menatap jalanan.
Hingga tak terasa mobil sudah memasuki pagar yang cukup tinggi dengan bangunan mewah nan luas.
Setelah memarkirkan mobil, Hero menatap kearah Aqila yang sudah tertidur. "Selain bawel, dia juga menyusahkan." gerutu Hero sambil berdecak.
__ADS_1
Dan mau tidak mau, Hero membopong tubuh Aqila masuk ke dalam rumahnya. Walau kesal namun Hero masih memiliki belas kasihan.
Setelah memasuki suatu kamar, Hero langsung membaringkan tubuh Aqila sambil menyelimuti tubuh Aqila dengan selimut hingga sebatas dada.
"Dia pasti sangat lelah karena disepanjang jalanan, dia selalu saja menangis hingga membuat telingaku terasa sakit." ucap Hero sambil menatap Aqila yang tampak tertidur pulas.
Hero melangkah keluar kamar setelah menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu kamar yang ada di kamar Aqila.
Walau mereka sudah menikah namun Hero tidak ingin sekamar dengan wanita yang tidak ia cintai sama seperti Aqila yang hanya sebatas penebus hutang.
...
Suara lengkingan alarm berbunyi, membuat tidur seorang wanita cantik terusik usai mendengar suara alarm itu yang terus berbunyi.
Dengan sangat terpaksa, Aqila meraih alarm itu dengan mata sembab. Perlahan namun pasti mata Aqila mulai melebar ketika mencium suatu aroma enak.
"Bau apa ini?" tanya Aqila dalam hati kemudian bangkit dari posisi tidurnya. Ia semakin dibuat bingung ketika melihat benda-benda disana tidak seperti yang ada di kamarnya.
Seketika..
"AHHHHHHHHHHHHH." Aqila berteraik, ketika sadar bila tempat yang ia tempati saat ini bukan di kamarnya.
__ADS_1