Seukir Tinta

Seukir Tinta
Keserakahan


__ADS_3

Dirga terhenyut, membalas pelukan Aqila dan membenamkan wajah kakaknya itu ke dada bidangnya. Walau Dirga berumur lebih muda dari Aqila namun ia memiliki pola pikir yang cukup dewasa.


"Kakak, menangislah! Jika tangasanmu itu membuatmu lebih tenang." Dirga mengelus punggung Aqila, berusaha menguatkan kakaknya untuk tetap kuat.


Sementara Hero sudah tersenyum pekik. Drama kakak beradik itu benar-benar membuatnya muak.


"Ck dia pikir bisa mengelabuiku dengan bersikap layaknya orang baik. Pecuma, semua itu tidak akan membuatku luluh." gumam Hero dalam hati.


Kemudian bangkit untuk duduk disalah satu sofa sambil memandangi Aqila dan Dirga yang masih berpelukan.


"Jadi apa yang akan kalian lakukan demi melunasi semua hutang papa gila kalian itu."


Aqila dan Dirga saling menatap kemudian melihat Hero yang sudah tersenyum.


Dirga belum menjawab, ia memilih bangkit dan membantu Aqila untuk berdiri. "Kalau masalah itu saya masih belum punya jawaban tapi saya akan membawa kakak Aqil pergi darimu agar kau tidak menyiksanya lagi."


Hero tertawa menatap keberanian adik iparnya dengan tatapan serius. "Kau ingin membawa kakak tidak bergunamu itu pergi dari sini?" tanya Hero.

__ADS_1


"Tentu! Buat apa kakak Aqil tinggal disini jika kehadirannya saja tidak pernah dihargai oleh suaminya." Dirga lalu menatap Aqila sambil tersenyum. "Ayo kak, kita pergi."


Aqila mengangguk, melangkah pergi bersama Dirga. Aqila benar-benar menjadi lemah setelah kejadian ini.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja karena jika kau berani membawa kakakmu pergi dari sini maka papa mu akan menikam di penjara." ancam Hero.


Membuat langkah Aqila maupun Dirga berhenti dan melihat itu Hero tertawa dengan seringai licik disudut bibirnya.


"Jika kau membawa kakakmu pergi maka kalian pun harus bersiap mendengar kabar buruk dari papa kalian yang akan menikam di perjara dalam waktu yang cukup lama." lanjut Hero lagi.


"Hero, ku mohon jangan lakukan itu. Aku tidak ingin keluargaku hancur!" isakan Aqila kembali hadir membuat Hero tersenyum puas.


"Good! Maka kau harus tinggal disini selama yang aku mau." tatapan Hero kemudian kearah Dirga yang sudah menggeleng. "Dan kau, pergilah dari sini dan jangan pernah datang kesini lagi karena jika itu terjadi kau pasti sudah tahu apa yang akan aku lakukan bukan?"


Dirga mengepal erat kedua tangannya, Hero benar-benar tidak sebaik yang ia pikir. Wajah tampan nan penuh kewibawaan itu tidak sebanding dengan sikap teramat kejamnya.


"Dek, disini kakak pasti akan baik-baik saja maka pulanglah." suara lembut itu membuat pertahanan Dirga meredam, ia menghampiri Aqila yang masih duduk tersimpuh dihadapan Hero.

__ADS_1


"Kak, aku tidak bisa membiarkan ini. Semua ini salah, kak. Kakak orang yang baik tidak seharusnya menjadi korban." Dirga berteriak, ia berusaha menjelaskan semua ini salah.


"Tidak dek, semua sudah benar dan hanya cara ini yang bisa kakak lakukan agar kamu, mama sama papa hidup damai."


"Membiarkan kakak terus menderita?" Dirga meraih tangan Aqila. "Kakak tidak perlu melakukan ini biar aku yang akan bekerja keras untuk melunasi semua hutang-hutang papa."


Sementara Hero yang sedari tadi mendengar percakapan Aqila dan Dirga sudah tertawa dengan tatapan sinis menatap Dirga.


"Memangnya bocah seperti kau itu bisa apa? Kau masih siswa SMA yang masih bergantungan hidup dengan keluargamu dan ingin melunasi hutang papamu?" Hero kembali tertawa.


Namun Dirga segera berdiri dan ikut menatap sinis Hero. "Walau saya masih kelas 3 SMA tapi saya masih memiliki tangan dan kaki yang bisa ku gunakan untuk bekerja apapun."


Hero berdecih. "Mau jadi kulih bangunan?" ucapan Hero benar-benar membuat Dirga murkah namun sebisa mungkin ia menutupi itu semua.


"Apapun akan saya lakukan, toh menjadi kulih bangunan juga bisa menghasilkan uang yang halal."


"Baiklah lakukan apa yang kau mau tapi jika setahun ini kau tidak bisa melunasinya maka kau tidak akan pernah lagi menemui kakakmu."

__ADS_1


__ADS_2