Seukir Tinta

Seukir Tinta
Ga Ada Akhlak


__ADS_3

Seolah dikejar waktu, Aisyah terus berjalan hingga tiba di kelas. Di hampirinya 2 teman kelompoknya yang rupanya sudah duduk di meja presentasi.


"Qila gimana? Makalahnya sudah siap, kan?" tanya Aisyah yang tampak serius menunggu jawaban dari seorang wanita bernama Aqila.


Sementara Aqila yang dapat melihat keseriusan diwajah Aisyah, berniat untuk mempermainkan sahabatnya.


Dengan menggeleng pelan, Aqila merubah mimik wajahnya menjadi sedih membuat Aisyah ikut bersedih.


"Gimana sih, Qil? Bukankah semalam aku sudah mengirim semua filenya? Itu pun aku mengirimnya setelah salat magrib loh."


Dengan langkah kesal karena kecewa, Aisyah duduk disamping Aqila yang terlihat masih memasang wajah sedih. "Maaf Ca, aku lupa nge-print." tambah Aqila lagi.


Berhasil membuat Aisyah semakin kesal membuat Aqila lalu mengode teman satu kelompoknya lagi, berharap situasinya akan semakin seru.


Dengan mengangguk, teman satunya itu ikut mendekati Aisyah yang tampak mengotak-atik ponselnya yang entah apa yang sedang dilihatnya.


"Ica, sebenarnya makalahnya sudah siap kok kalo Ica tidak percaya nih Nisa liatin." Nisa memperlihatkan makalah tersebut pada Aisyah.


Sontak Aqila kaget mendengar kejujuran Nisa sambil memukul pelan keningnya, seakan belum percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

__ADS_1


Bagaimana bisa, Nisa memberitahu akan kebohongannya begitu cepat, tanpa adanya perdebatan diantara mereka bertiga membuat Aqila ikut kecewa.


"Nisa, enggak asik deh!" dengan wajah cemberut, Aqila menatap Nisa yang hanya menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.


Dan melihat semua itu membuat Aisyah hanya bisa menggeleng dengan wajahnya yang sudah kembali berseri. Senang karena pada kenyataannya Aqila hanya mempermainkan dirinya.


"Qil, kita sebagai sahabat tidak boleh mempermaikan perasaan sahabat kita sendiri. Bagaimana jika itu bukan aku melainkan orang lain, pasti dia akan sangat marah padamu." jelas Aisyah panjang lebar.


Dan omongan Aiysah berhasil membuat Aqila menundukkan wajahnya, merasa malu dengan sikap yang barusan ia lakukan.


"Maafkan aku Ca, tadi itu aku hanya ingin membuatmu sedikit kesal itu saja." Aqila menatap senduh Aisyah yang sudah tersenyum kepadanya.


"Iya, kami memaafkanmu. Bukankah kita ini adalah sahabat." kata Aisyah membenarkan.


Dan tidak lama setelah itu, seorang dosen pria bertubuh besar memasuki kelas dan memulai perkuliahan.


...


Akhirnya presentasi Aisyah berjalan dengan lancar. Aisyah memang terkenal akan kecerdasannya, ditambah kedua sahabatnya yang juga pintar-pintar.

__ADS_1


Maka tak heran bila mereka bertiga bersahabat karena pada kenyataannya bakat mereka memang sama. Sama-sama dapat membuat orang lain tercengang.


Nisa yang terlihat sudah sangat kelaparan langsung berdiri dari tempat duduknya. "Ke kantin, yuk!" ajak Nisa yang langsung mendapat anggukan dari kedua sahabatnya.


Dan sesampainya mereka di kantin. Seperti di hari-hari biasa, mereka pasti akan duduk di kursi pojokan bagian belakang sebelah kiri. Dimana jarang sekali ada mahasiswa yang duduk disana.


Entah mereka sengaja tidak duduk disana ataukah karena tahu, itu adalah tempat favorite mereka bertiga yang jelas Aisyah suka duduk ditempat itu dikarenakan nuansanya yang sejuk, apa lagi berdekatan dengan taman kampus.


Setelah mereka bertiga duduk dibangku. Nisa lalu menatap kedua sahabatnya.


"Masih menu yang sama kan?" tanya Nisa yang langsung mendapat ajukan jempol dari kedua sahabatnya.


"Mbak, bakso spesialnya 3 mangkok!" Nisa berteriak penuh semangat karena memang ia sudah sangat-sangat lapar.


Dan tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, pesanan mereka akhirnya datang hingga mereka pun memulai makan.


Setelah selesai makan, tidak segan-segan Nisa bersendawa layaknya mahasiswa pria, Nisa orangnya memang setengah pria, setengah wanita.


"Astaga Nisa." walau Nisa yang bersendawa namun Aqila lah yang merasa malu karena pada saat ini tatapan orang-orang tertujuh ke meja mereka.

__ADS_1


"Hehehe maklum, Nisa kan memang setengah wanita setengah pria." celutuk Nisa, tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun.


Dan lagi-lagi Aisyah hanya bisa pasrah, melihat tingkah konyol dari kedua sahabatnya.


__ADS_2