Seukir Tinta

Seukir Tinta
Murkah


__ADS_3

Brenda yang sudah merencanakan segalanya lalu memberi kode pada 2 pemuda yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada.


Hingga mereka tiba di sebuah kamar penginapan. Hero yang masih setengah sadar mulai dibaringkan oleh kedua pemuda itu.


"Ini untuk kalian dan terima kasih untuk kerja samanya." kedua pemuda itu mengangguk kemudian pergi usai mendapat bayaran.


Melihat Hero yang sudah sangat gelisah membuat Brenda segera beraksi bahkan Brenda sudah berada diatas tubuh Hero.


"Sayang, tenanglah. Malam ini kau akan menjadi milikku dan kita berdua akan kembali bersama." sambil mengusap pipi Hero pelan.


Tangan Brenda kemudian terulur, melucuti satu persatu kancing baju yang Hero kenakan namun..


"Tuan Hero, apa kau ada di dalam?"


Suara yang tidak terduga terdengar dibalik pintu membuat Brenda kesal bukan main.


"Sial, kenapa kuda nil itu selalu saja datang diwaktu yang salah. Aku bahkan belum melancarkan rencanaku." gumam Brenda.


Hero yang berada dibawah Brenda tersenyum lebar kala melihat wajah Brenda yang sangat dekat. Dengan penuh gairah Hero menarik wajah Brenda dan mulai *menyesap bibir mungil itu sangat rakus.


Awalnya Brenda terkejut mendapat perlakuan Hero namun tidak ingin membuat rencananya gagal ia pun memulai permainannya.

__ADS_1


...


Tidak ada sahutan, Daniel melirik anak buahnya dengan tatapan penuh kemarahan. "Dobrak pintunya sekarang!" perintah Daniel.


Daniel sangat yakin jika tuannya pasti ada didalam sana. Ditambah keterangan resepsionis yang mengatakan Hero berada di penginapan ini.


"Sial!" tatapan Daniel menatap tidak percaya pada pemandangan yang ada di depannya sekarang.


Brenda sedang bermain bersama Hero yang sudah hilang kendali, untung saja pakaian mereka masih terpasang.


Segera Daniel mendekati Brenda yang sibuk memasang pakaiannya karena setengah tubuhnya terekspos. "Dasar, wanita murahan."


Daniel mencekal kuat tangan Brenda hingga wanita itu meringis kesakitan. "Ahhh lepaskan." Brenda memberontak.


"Hero itu milikku, wanita itulah yang mengacaukan semuanya." Brenda menatap Daniel dengan penuh amarah.


"Maksudmu nona Aqila?" Brenda mengangguk. "Kau salah, nona Aqila bukan wanita pengacau tapi dia adalah wanita yang paling beruntung karena sudah menjadi istri sah dari tuan Hero sedang kau? Kau hanyalah wanita j*lang yang hanya tergila-gila pada harta tuan Hero saja."


Brenda terdiam seribu bahasa, ia memilih bungkam daripada harus meladeni Daniel yang selalu saja membalas ucapannya.


Melihat Brenda diam, Daniel tersenyum puas. "Kalian, cepat bawah wanita j*lang ini jauh-jauh dari sini." perintah Daniel tegas.

__ADS_1


"Siap bos!"


Setelah kepergian Brenda, Daniel menatap Hero yang tampak gelisah mengaduh kepanasan.


"Sial, rupanya wanita j*lang itu sudah memberikan obat perangsang pada tuan Hero."


Dengan cepat Daniel membawa Hero masuk ke mobil untuk dibawa pulang, situasi disana tidak cocok untuk membantu Hero sadar.


Tidak menunggu lama, Daniel tiba di rumah Hero. Toni yang masih terjaga langsung menghampiri Daniel yang sedang membawa Hero dengan berjalan sempoyongan.


"Tuan, ada apa ini? Kenapa tuan Hero jadi seperti ini?" tanya Toni. Jelas Toni sangat terkejut karena baru kali ini Hero datang seperti itu.


"Kau jangan banyak tanya, sebaiknya cepat kau bantu aku membawa tuan Hero ke kamarnya." Toni mengangguk dan segera membantu Daniel membawa Hero masuk.


Tatapan bingung tampak diwajah Daniel kala tak menemui Aqila didalam kamar. Usai membaringkan Hero yang masih setengah sadar, Daniel menatap Toni.


"Ton, nona Aqila mana kok nggak ada?" tanya Daniel yang Toni balas dengan helaan napas.


"Nona Aqila ada tuan tapi di kamar sebelah. Sejak nona Aqila tinggal disini, dia hanya tidur di kamar tamu." mendadak mata Daniel membola, rupanya Hero memilih batasan pada Aqila.


Pandangannya menatap Hero yang masih mengaduh kepanasan lalu menatap Toni. "Toni, ayo kita ke kamar nona Aqila hanya dia yang bisa membantu tuan Hero sekarang."

__ADS_1


Walau tidak paham maksud ucapan Daniel namun Toni mengiyakan. Apa lagi melihat keadaan Hero yang memprihatinkan membuat Toni semakin tidak tega.


__ADS_2