
Melihat semua orang menatap kearah tangga membuat Aisyah ikut menatap kearah tersebut.
Memasang wajah terkejut, Aisyah menatap kedatangan 2 pria tampan yang memiliki kemiripan wajah yang sama persis menuju kearahnya.
Deg!
Aisyah yang sejak tadi merasa ada yang berbeda, kembali merasakan hal yang sama. "Ya Allah, kenapa dengan hatiku? Ada apa ini?"
Bingung, itulah yang Aisyah rasakan saat ini. Ia sama sekali tidak paham dengan perasaannya yang sekarang namun 1 hal yang Aisyah yakini setelah melihat kedatangan pria yang bersama Asyhar rasa sulit dijelaskan itu kembali hadir.
"Maafkan saya karena sudah membuat semua orang menunggu." ucap Isyhar dengan menatap semua orang yang sudah berdiri.
Deg!
Spontan jantung Isyhar berdebar kencang kala menatap seorang wanita cantik yang juga sedang menatapnya.
"Tunggu sepertinya aku pernah melihat wanita ini tapi dimana, ya?" gumam Isyhar dalam hati, merasa pernah bertemu dengan Aisyah.
"Kau tidak perlu seperti itu sayang. Lagi pula kau kan masih proses pemulihan jadi tidak perlu sungkan, dokter Ramdan pasti akan paham." jelas Umi Sarah membawa Isyhar untuk duduk.
"Iya, kami disini tidak langsung marah hanya saja langsung membenci." ucapan Abdar yang langsung mendapat pelototan mata dari Umi Sarah.
__ADS_1
Si sulung dari keluarga Abraham itu selalu saja berhasil membuat keluarganya naik pitam. Itulah Abdar yang tidak pernah tenang jika belum mengganggu istri dan kedua adiknya dalam sehari.
"Kalau kau mulai lagi maka jangan salahkan Umi bila Umi akan membawa Ara pergi jauh-jauh darimu." Abdar membungkam mulutnya dengan tangan, sangat tidak rela jika istrinya pergi meninggalkannya.
...
Setelah berada di meja makan, mereka pun mulai makan dengan khitmat. Jika di ruang tamu mereka banyak bicara, lain halnya di meja makan yang tidak boleh ada pembicaraan.
Abah Abra memang orang yang ramah namun selalu tegas jika mengenai tata krama yang berlaku di rumah ini.
Sedangkan Isyhar masih menatap Aisyah, ia masih berpikir keras dimana pernah menemui wanita cantik itu. "Aku sangat yakin jika pernah menemuinya tapi dimana?"
Karena berpikir keras, kepala Isyhar tiba-tiba sakit. "Awwww!" lirih Isyhar memegang kepalanya yang terasa berdenyut membuat semua orang menatap kearah Isyhar.
Bahkan Asyhar sudah bangkit, mendekati Isyhar. "Umi, sebaiknya Isyhar istirahat sekarang saja. Takutnya kepalanya akan semakin sakit."
Semua orang mengangguk. "Kalau begitu biarkan saya ikut, saya ingin memeriksa keadaan Isyhar."
...
Setelah Isyhar berbaring di pembaringan, Ramdan mulai memeriksa keadaan Isyhar sedang Asyhar langsung kembali usai membawa Isyhar.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan gunakan otakmu berpikir keras karena kondisimu masih belum pulih." ucap Ramdan yang langsung diangguki Isyhar.
Usai pemeriksaan, dokter Ramdan tersenyum. "Semuanya baik tapi kau masih harus banyak istirahat dan jangan biarkan otak kecilmu itu terus berpikir."
Lagi-lagi Isyhar hanya mengangguk, setelah operasi Isyhar tidak lagi banyak bicara. Tidak seperti sebelum operasi yang begitu dekat dengan Ramdan.
"Kalau begitu saya permisi, kau istirahatlah dengan baik." Ramdan yang baru ingin keluar langsung tertahan karena Isyhar menahan tangannya.
"Dok, apakah saya boleh bertanya?" Ramdan mengangguk. "Apakah saya dan Aisyah dahulunya teman?"
Pertanyaan itu membuat Ramdan mengernyitkan dahi, pasalnya Aisyah tidak pernah tahu bila pasien pribadinya itu adalah Isyhar.
Setelah berpikir keras, akhirnya Ramdan menggeleng. "Tidak, kalian bahkan baru hari ini dipertemukan. Memangnya ada apa?" Ramdan balik bertanya.
"Tidak apa-apa, dok." Ramdan keluar setelah tahu Isyhar dalam keadaan baik-baik saja.
Sedangkan Isyhar, sudah menghela napas. Rupanya ia salah paham dengan keberadaan Aisyah. "Sepertinya aku sudah salah menduga, Aisyah ternyata baru hari ini mengenalku."
...
Ramdan berjalan kearah ruang tamu dan mendapat semua orang bercerita bahkan Aisyah tampak sudah bercengkrama dengan Ara dan Umi Sarah.
__ADS_1
Dengan tersenyum, Ramdan mendekati semua orang.
"Ica, sebaiknya kita pulang sekarang, ya? Mas masih ada keperluan yang harus segera diurus di rumah sakit." ucap Ramdan membuat Aisyah bangkit dari duduknya.