
Aisyah yang tadinya fokus mengobati luka lalu menatap Asyhar yang tampak serius.
"Setiap hari Ahad, saya memang selalu datang kemari untuk ikut dalam operasi dokter Ramdan. Lumayan kan Pak untuk menambah wawasan."
"Dokter Ramdan?" Aisyah mengangguk lalu kembali mengobati lukanya.
"Apakah kalian memiliki hubungan khusus?" tidak menyangka akan pertanyaan Asyhar, Aisyah kembali menatap Asyhar yang tampak sangat serius.
"Iya Pak, ada!" jawab Aisyah.
Bagai ditusuk beribu-ribu kali belati, hati Asyhar terasa perih mendengar jawaban Aisyah yang secara tidak langsung menyakiti perasaannya.
Baru saja kemarin Asyhar berharap bisa menjadi pendamping hidup Aisyah kini harapannya terasa sirna setelah tahu kenyataan pahit ini.
Sambil memegang dada, Asyhar bangkit dari duduknya. "Aisyah kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum."
Asyhar berlalu tanpa menunggu jawaban Aisyah membuat Aisyah bingung dengan sikap Asyhar yang mendadak berubah.
"Kenapa Pak Asyhar bertingkah begitu aneh? Memangnya kenapa kalau saya dan Mas Ramdan punya hubungan? Toh, Mas Ramdan adalah kakak sepupu saya."
Tidak ingin berlarut dengan ucapan Asyhar, Aisyah memilih bangkit dan kembali melangkah ke tujuan utamanya untuk bertemu dokter Ramdan.
__ADS_1
Aisyah yang sudah tahu pasti dokter Ramdan ada dimana langsung masuk ke dalam sebuah ruangan. "Assalamualaikum, Mas." ucap Aisyah setelah duduk.
"Waalaikumsalam, Ica." Ramdan berucap tanpa melihat Aisyah yang ada dihadapannya.
Ramdan tampak disibuki dengan beberapa dokumen yang ada diatas meja.
"Mas Ramdan! Apa hari ini Mas ada operasi?" tanya Aisyah yang dijawab Ramdan dengan gelengan kepala.
"Yah!" Aisyah menghela napas. Ia sangat kecewa mendengar berita bila jadwal Ramdan kosong.
Ramdan yang tahu Aisyah pasti kecewa lalu menatap Aisyah yang sedang menunduk. "Adanya besok."
Tidak ingin Ramdan menunggu lama, Aisyah langsung menyetujui ucapan Ramdan dengan wajah berseri-seri.
Berbeda halnya dengan Ramdan yang kembali fokus membaca beberapa dokumen yang ada diatas meja kerjanya.
Melihat Ramdan yang begitu fokus membuat Aisyah ikut penasaran. "Mas Ramdan lagi baca apa sih? Serius banget!"
Dengan menghela napas, Ramdan menatap Aisyah yang tampak sangat serius. "Ica masih ingat tidak sama pasien spesial Mas?" Aisyah mengangguk.
Aisyah memang sangat tahu tentang pasien spesial Ramdan karena sepupunya itu begitu berimpati dengan pasien spesialnya itu. "Sekarang dia berkeinginan untuk melanjutkan hidupnya."
__ADS_1
Mendengar jawaban Ramdan membuat Aisyah mengernyitkan dahi. "Loh bukankah itu berita bagus Mas? Itu berarti dia sudah memiliki tujuan hidup."
"Iya, awalnya Mas juga bahagia mendengar berita itu tapi setelah Mas mengecek semua dokumen ini hasil pemeriksaan menunjukkan kalau peluang hidupnya sisa 2 bulan. Ica juga tahu kan kalau beberapa bulan ini pasien spesial Mas itu tidak ingin diberi tindakan apa pun." jelas Ramdan panjang lebar.
Seolah tahu bagaimana perasaan Ramdan, Aisyah memilih menggenggam tangan Ramdan. "Apakah sudah tidak ada jalan keluar untuk pasien spesial Mas itu?"
Ramdan yang ditanya langsung membalas genggaman tangan Aisyah diiringi helaan napas.
"Ada kok dengan cara transplatansi hati hanya saja peluang berhasilnya sangat sedikit dan Mas tidak yakin bisa memberinya harapan." tanpa sadar, cairan bening turun membasi pipi Ramdan.
Dan mengetahui berita itu membuat Aisyah ikut berimpati dengan keadaan pasien spesial Ramdan.
"Mas Ramdan tidak boleh berkecil hati. Jika pasien spesial Mas itu saja sudah ingin bangkit dari keterpurukannya maka Mas Ramdan harus membantunya." Aisyah menatap Ramdan sambil mengangguk.
"Mas Ramdan mau kan membantunya?" tanya Aisyah. Kali ini Aisyah menatap Ramdan dengan penuh harap. Berharap bila Ramdan akan menyetujui keinginannya.
Lain halnya dengan Ramdan yang tampak berpikir keras akan keputusan apa yang akan ia pilih.
"Iya, Ica memang benar. Tidak seharusnya Mas berpikiran seperti ini, mulai sekarang Mas harus yakin jika Mas bisa menolong pasien spesial Mas ini."
Dengan rasa penuh haru, keduanya saling menyunggingkan senyuman indah dengan perasaan legah.
__ADS_1