
Tak ingin Aisyah semakin berlarut dalam kesedihan, Ramdan menyeka air mata Aisyah dengan lembut.
"Jangan menangis lagi. Ica tidak mau kan Ayah Zaki lihat Ica nangis?" Aisyah langsung mengangguk.
Tentu, Aisyah tidak mau itu terjadi karena Aisyah sangat menyayangi Ayah Zaki melebihi apa pun.
Dan tanpa mereka sadari seorang pria diam-diam tengah melihat semuanya. Tampak pria itu terbakar api cemburu melihat kedekatan Aisyah bersama Ramdan.
"Ternyata memang benar jika Aisyah dan dokter Ramdan memiliki hubungan, buktinya saja mereka begitu mesrah." gumam Asyhar dibalik tembok.
"Baiklah, mulai saat ini aku harus mundur. Aku tidak ingin menjadi perusak dibalik hubungan mereka." Asyhar melangkah pergi, ia memutuskan untuk melupakan Aisyah.
...
Langkah kaki Asyhar menuju ke salah satu ruangan yang ada di rumah sakit. Tatapannya tertujuh pada pria yang terbaring diatas brankar.
"Assalamualaikum, Isyhar." ucap Asyhar ketika duduk.
Mendengar suara yang memanggil namanya membuat pria tersebut berbalik. "Asyhar."
Keduanya sama-sama menyunggingkan senyuman indah. Mereka adalah saudara kembar yang hanya berbeda 7 menit.
__ADS_1
Walau setiap hari Asyhar selalu datang membesuk Isyhar namun rasa rindu mereka selalu melanda hati dan pikirannya. Itulah mengapa Asyhar selalu pergi ke rumah sakit.
Seperti saat ini, Asyhar tengah menyuapi Isyhar makanan. "Bagaimana enak tidak?" pertanyaan itu yang selalu ditanyakan Asyhar ketika datang membesuk Isyhar.
"Namanya bubur mana ada yang enak, hambar? Iya!" Asyhar tertawa puas karena berhasil membuat saudara kembarnya itu kesal.
"Makanya kalau sudah bosan makan bubur, kau cepatlah sembuh agar bisa kembali merasakan nikmatnya makanan."
Seolah sindirian, wajah Isyhar tampak membendung kesedihan yang mendalam. Isyhar lalu menatap kearah taman.
"Iya, aku memang harus sembuh. Pokoknya aku tidak ingin tinggal disini dan merasakan hambarnya bubur ini lagi." jawab Isyhar.
Asyhar begitu senang kala mendengar adik kembarnya itu benar-benar sudah memiliki tujuan hidup.
"Is, apa aku boleh bertanya?" sontak ucapan Asyhar membuat Isyhar tertawa. Baru kali ini Asyhar sungkan terhadapnya.
Setelah puas tertawa, Isyhar memperbaiki posisi berbaringnya. Menatap Asyhar yang tampak serius. "Emangnya kau mau bertanya apa?"
Asyhar tampak ragu harus bercerita atau tidak dan melihat itu semua membuat Isyhar mendengus kesal.
"Kau jangan banyak tingkah, cepat katakan apa yang ingin kau tanyakan." Isyhar tidak suka bila digantung layaknya pakaian basah.
__ADS_1
Tahu akan hal tersebut, Asyhar ikut memperbaiki posisi duduknya dan mulai menceritakan permasalahan hatinya kepada adik kembarnya.
"Jadi kau ingin mengikhlaskan calon iparku?" tanya Isyhar yang langsung Asyhar jawab dengan anggukan.
"Kau itu bodoh sekali! Jika aku kau, aku tidak akan mengikhlaskan cintaku begitu saja. Bagiku cinta harus diperjuangkan, siapa pun lawanku termasuk jika itu adalah kau." jelas Isyhar panjang lebar.
Seolah mendapat jawaban, pikiran Asyhar mulai terbuka atas jawaban yang diberikan Isyhar barusan. Asyhar mengangguk.
"Kau benar! Tidak sepatutnya aku merelakan cintaku begitu saja, seharusnya aku harus memperjuangkannya bukan mengikhlaskannya." ucap Asyhar antusias.
Tangan Asyhar lalu terulur, memukul lengan Isyhar pelan. "Terima kasih atas sarannya! Jika bukan karena saranmu, aku pasti akan merelakan cintaku."
Keduanya sama-sama tersenyum dengan wajah penuh kebahagiaan namun tidak lama setelah itu, Asyhar tampak mengingat sesuatu.
"Oh iya, surat yang kemarin aku kirim itu buat siapa?" tanya Asyhar dan Isyhar langsung mengedikkan bahunya.
"Calon iparmu!" jawab Isyhar cepat
Tidak menyangka dengan apa yang didengarnya, mata Asyhar terbelalak mendengar jawaban Isyhar.
"Benarkah!? Wah aku sangat bahagia mendengar kabar ini kalau Abah dan Umi tahu soal ini dia pasti akan sangat bahagia." namun Isyhar menggeleng.
__ADS_1
"Kau jangan memberitahu mereka soal ini dulu." Asyhar yang bingung menghela napas mendengar perintah Isyhar.
"Loh kenapa? Bukankah bagus jika Abah dan Umi mengetahui soal wanita itu." tidak percaya akan keputusan Ishyar, Asyhar semakin dibuat bertanya-tanya.