
Usai pembicaraannya bersama Ramdan, Aisyah memilih ke taman rumah sakit untuk menenangkan pikiran.
Baik setelah operasi maupun tidak ada jadwal, Aisyah selalu meluangkan waktu untuk duduk disalah satu bangku yang ada di taman.
Entah kenapa, Aisyah sangat suka berada disana. Berada di tempat itu membuat hati Aisyah selalu tenang dengan kesejukan yang ia dapat.
Namun kini ingatannya mengingat kembali akan perbincangannya bersama Ramdan.
"Setelah mendengar semua cerita Mas Ramdan, mengapa aku merasa gelisa, ya?" gumam Aisyah pelan lalu menghembuskan napasnya. "Padahal, melihat pasien spesialnya Mas Ramdan saja aku belum pernah tapi mengapa aku sangat cemas."
Dan tanpa Aisyah sadari, seorang pria dari atas gedung tersenyum menatap kehadiran Aisyah.
Dilihat dari kondisinya, pria itu tampak begitu mengkhawatirkan dengan selang infus yang berada dipergelangan tangannya.
"Pelangiku, terima kasih karena kembali hadir!"
...
Setelah seharian di rumah sakit, Aisyah tengah menikmati makan malamnya bersama Ibu Amira.
__ADS_1
Namun kali ini, Ibu Amira merasa aneh dengan tingkah Aisyah yang sejak tadi tampak murung.
"Sayang, ada apa? Kenapa sejak tadi Ibu perhatikan Ica selalu murung, apa terjadi sesuatu di rumah sakit?" Ibu Amira menerka-nerka.
Ibu Amira sangat tidak tega melihat Aisyah terpuruk dalam suatu masalah karena terakhir kali ia melihat putrinya seperti ini sewaktu sepeninggalan suaminya namun kali ini apa yang telah terjadi?
Dan melihat gelak kecemasan di raut wajah Ibu Amira membuat Aisyah merasa bersalah. "Tidak, aku tidak boleh membuat Ibu khawatir." dalam hati Aisyah berucap.
Tidak ingin membuat Ibu Amira semakin cemas, Aisyah memaksa untuk tersenyum. "Ica baik-baik aja kok Bu, Ibu tidak perlu mengkhawatir Ica." jawab Aisyah walau sejujurnya ia sedang berbohong.
"Ibu tahu kok nak kalau keadaan Ica sedang tidak baik hanya saja Ica tidak ingin melihat Ibu khawatir." Ibu Amira berbicara dalam hati.
...
Aisyah menyambut hari ini begitu bersemangat. Bagaimana tidak? Hari ini akan ada jadwal operasi maka tidak heran bila Aisyah sangat bersemangat.
Tidak mau menunggu lama, Aisyah langsung menuju rumah sakit usai meminta izin kepada Ibu Amira.
Suasana hati Aisyah benar-benar mood. Sejak diperjalanan sampai di rumah sakit Aisyah selalu melebarkan senyumannya.
__ADS_1
Hingga Aisyah dan Ramdan sudah berada diruang operasi bersama beberapa perawat yang akan membantu jalannya operasi.
Pasien kali ini seorang wanita yang berusia kurang lebih 20 tahun, wajahnya tampak begitu pucat dengan alat-alat operasi yang sudah melekat diseluruh tubuhnya.
Operasi berjalan 1 jam lebih. Walau Aisyah hanya sebagai pendamping namun Aisyah begitu telaten membantu Ramdan hingga operasinya berjalan selesai.
Sambil tersenyum, Ramdan menatap keseluruh perawat yang sudah membantunya. "Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Terima kasih atas kerjasamanya." kini tatapannya menatap Aisyah yang tampak keringat dingin. "Aisyah ada apa?"
Aisyah lalu menghela napas panjang dengan tangan yang bergetar. "A-aku masih belum percaya Mas kalau kita kembali menyelamatkan nyawa orang lain." sambil menatap kedua tangannya.
Mendengar jawaban Aisyah, Ramdan mengode semua perawat untuk membawa pasien tersebut pindah ke ruang rawat dan menuntun Aisyah keluar dari sana.
"Aisyah duduklah dulu." Ramdan menyuruh Aisyah untuk duduk dikursi tunggu yang ada didepan ruang operasi.
Sejenak Ramdan menatap Aisyah sembari menghela napas, seolah tahu apa yang sedang Aisyah rasakan.
"Ica, Mas tahu kamu pasti belum bisa melupakan kejadian Ayah Zaki kan?" ucapan Ramdan berhasil membuat Aisyah mendongak menatap Ramdan, tanpa berbicara sedikit pun.
"Dan Mas juga tahu, Ica pasti merasa terlambat kan? Andai saja kita tumbuh lebih cepat pada saat itu, pasti kita berdua akan berjuang mati-matian demi kesembuhan Ayah Zaki tapi takdir memilih jalan yang lain tapi mengertilah mungkin ini jalan terbaik untuk Ayah Zaki ." tambah Ramdan.
__ADS_1
Kini ia memeluk Aisyah yang mulai terisak dalam tangisnya, sungguh Aisyah begitu terpukul jika kembali mengingat Ayah Zaki.