
Sudah 1 jam lamanya, Aqila mencoba membereskan dapur namun hasilnya bukannya bersih malah semakin berantakan.
Bahkan untuk kesekian kalinya, Aqila kembali memecahkan piring membuat Hero menghela napas.
"Piring 8 ditambah 3 gelas." ucap Hero, ia menghitung sudah berapa banyak yang Aqila pecahkan. Wanita itu benar-benar tidak memiliki kemampuan dimata Hero.
Namun Aqila terus melanjutkan mencuci piringnya, menghiraukan semua perkataan dan cibiran Hero yang terus mencacinya bahkan isak tangis sudah terdengar tapi Hero sama sekali tidak memperdulikan itu.
"Sebagai seorang istri, kau sama sekali tidak berguna. Aku bahkan masih tidak habis pikir bisa memiliki istri seperti kau ini." Hero menatap Aqila yang berbalik dan menghamprinya dengan tatapan sinis.
"Apa kau sudah selesai menghinaku?" tanya Aqila yang Hero balas dengan gelengan kepala.
"Belum, sebelum kau pergi dari rumah mewahku ini." jawab Hero tegas dan hal itu membuat Aqila mulai paham akan sesuatu.
Jika ternyata Hero hanya terpaksa menikahinya dan sama sekali tidak menghargai sebuah arti pernikahan.
Mencoba tersenyum, itulah yang Aqila lakukan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi. Aku juga tidak ingin tinggal di rumah mewah yang hanya bagaikan neraka untukku." Aqila melepas celemek yang terpasang ditubuhnya lalu meleparnya kewajah Hero.
"Dan dengar, aku bersumpah tidak akan pernah kembali ke rumah mewah ini lagi." Aqila berjalan ingin pergi namun..
"Tunggu!" Hero menarik tangan Aqila membuat wanita cantik itu berhenti namun tatapannya enggan melihat Hero.
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja, tanpa menebus semua hutang piutang papa gilamu itu." Hero berdecih dengan wajah kesal.
Namun tidak untuk Aqila yang tampak sangat terkejut mengetahui jika papa Adit memiliki hutang pada Hero dan melihat reaksi Aqila membuat Hero yakin jika Aqila tidak tahu tentang segala hutang papa Adit.
Hero melepas tangan Aqila dan berjalan ke depan Aqila yang masih enggan menatapnya.
"Awalnya aku menolak keras tapi setelah Daniel, sekertaris pribadiku itu mencari tahu segalanya tentang Aqila Aditya Kusuma. Aku pun menyetujuinya karena tahu jika wanita itu adalah salah satu wanita berprestasi di kampusnya namun setelah melihatmu hari ini."
Hero menatap Aqila dari ujung rambut sampai ujung kaki yang sangat berantakan. "Percuma memiliki segudang prestasi jika di dapur saja dia tidak tahu apa-apa."
Aqila semakin terisak mendengar cancian demi cancian yang keluar dari mulut suaminya. Dengan menunduk, Aqila tidak bisa menyombongkan diri lagi.
__ADS_1
Namun tidak jauh dari tempat mereka berdiri, seorang pria tampan sudah mengepal erat tangannya. Cacian yang ia berikan pada Aqila membuatnya sangat murkah.
"Kak Aqil tidak sepatutnya diperlakukan seperti ini. Papa sungguh tegah mengorbankan kakak demi membayar semua hutang-hutangnya."
Dengan penuh amarah, Dirga membuang sekotak martabak kesukaan Aqila. Ia yang awalnya ingin mengunjungi kakaknya ke rumah kakak iparnya malah melihat kejadian yang tak terduga.
Dirga melangkah dan melayangkan bogem mentah ke wajah tampan Hero membuat Hero jatuh tersungkur ke lantai akibat diserang tiba-tiba.
"Papa sangat tega menjual kakak Aqil pada orang gila sepertimu." Dirga menunjuk Hero dengan sorot mata dipenuhi amarah.
Sementara Aqila yang mendengar suara Dirga langsung menatap Dirga yang lagi-lagi ingin memukul Hero.
"Dek jangan!" tangan Dirga tertahan kala mendengar suara Aqila. "Jangan dek, jangan kotori tanganmu ini dengan melakukan kebiasaan buruk." Aqila memeluk Dirga dari belakang.
Melihat Aqila yang menangis membuat hati Dirga tersayat-sayat. Bahkan di rumahnya saja tidak ada yang pernah membentak Aqila karena memang kakaknya adalah sosok yang baik hati dan penurut.
"Tapi kak, aku tidak bisa tinggal diam melihat pria berhati busuk ini menghina kakak." teriak Dirga menatap Aqila yang sudah menggeleng.
__ADS_1
"Jangan dek, biarkan saja dia mengatai kakak. Kakak tidak peduli lagi, kakak ikhlas, selagi kalian bahagia."