Seukir Tinta

Seukir Tinta
Kelicikan Hero


__ADS_3

"Kau itu!" Umi Sarah kembali memeluk tubuh Isyhar yang berbulan-bulan ini tidak pernah ditemuinya.


Memiliki keluarga yang sangat harmonis membuat Isyhar sangat bahagia. Terlebih lagi Ibu Sarah selalu memanjakannya.


"Oh iya nak, kau kan baru selesai operasi maka harus banyak istirahat biar tubuhmu cepat pulih." Isyhar mengangguk paham.


...


Setelah duduk di ruang tamu, mata Isyhar melebar mencari keberadaan Asyhar yang sejak tadi belum terlihat.


Ara yang tahu Isyhar sedang mencari seseorang kemudian tersenyum. "Kau sedang mencari Asyhar?" tanya Ara yang langsung Isyhar jawab dengan anggukan.


"Iya, kemana dia? Kenapa sejak tadi Asyhar belum terlihat?" Isyhar balik bertanya.


Sedang Abdar yang mendengar itu sudah menghela napas. "Asyhar sedang ke pesta pernikahan sahabat kalian dan aku yakin kau pasti tidak mengingatnya kan?"


"Sahabatku?" Abdar mengangguk. "Siapa kak?" Isyhar yang tidak tahu kembali bertanya membuat Abdar lagi-lagi menghela napas. Ia sudah tahu percakapan ini akan berlanjut panjang.


"Hero! Sahabat masa kecil kalian itu hari ini menikah dan Asyhar yang pergi mewakilimu sekaligus mewakili keluarga kita karena kami semua ingin menyambut kepulanganmu dari rumah sakit setelah 3 bulan lamanya." jelas Abdar panjang lebar.


Tidak ingin bertanya lebih banyak, Isyhar memilih mengangguk hingga beberapa pelayan datang dengan membawa cemilan dan minuman.

__ADS_1


"Jus jeruk ini untuk anak kesayangan Umi." Umi Sarah memberikan segelas jus jeruk ke Isyhar namun baru saja Isyhar ingin meminumnya ia langsung mual hingga semua orang menatapnya dengan heran.


"Ada apa, nak? Bukankah selama ini kau menyukai jus jeruk?" Umi Sarah yang panik langsung meraih jus jeruk itu jauh-jauh dari Isyhar.


"Mungkin itu efek dari operasi Isyhar. Mungkin saja pemilik sebagian hati Isyhar tidak menyukai buah jeruk." Abah Abra memberi pendapat.


Dan mendengar hal tersebut, membuat semua orang mulai mengerti. Setelah operasi banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi.


...


Pernikahan Aqila berlanjut sangat ramai bahkan sejak tadi Aqila dan Hero tidak henti-hentinya menyambut para tamu yang tak kunjung usai.


"Lihatlah! Suami Aqila itu sangat tampan!" ucap Anisa lalu meneguk jus lemon kesukaannya. "Kalau aku jadi Aqila, aku pasti sangat bahagia memiliki suami seperti Hero."


Aisyah hanya menjawab celotehan Anisa dengan anggukan, ia tahu bila sahabatnya itu sangat memuja pria yang berwajah tampan.


Lain halnya dengan Asyhar yang baru tiba karena Zian ngotot ingin ke salon lebih dulu membuat Asyhar sangat terlambat.


"Liatlah, semua ini karenamu. Jika saja kita tidak ke salon pasti kita sudah berada disini sejak tadi." gerutu Asyhar. Zian benar-benar menguji kesabarannya.


Sedang Zian langsung memasang wajah sedih. "Kau enak sudah memiliki ketampanan paripurna sedang aku? Aku hanya memiliki ketampanan dibawah standar."

__ADS_1


Tidak ingin meladeni Zian yang selalu mempunyai 1001 alasan, Asyhar menggeleng sambil melangkah cepat untuk menghampiri Hero.


Hero yang melihat kedatangan Asyhar tersenyum dengan wajah penuh kebahagiaan. "Wihhh!" Asyhar memeluk Hero dengan erat.


"Selamat ya bro! Hari ini kau sangat tampan." ucap Asyhar setelah pelukannya terurai.


"Kau salah, setiap hari aku memang tampan." Hero tidak terima dengan ucapan Asyhar namun setelah itu mendelik seperti mencari seseorang.


"Oh iya, kalian hanya berdua? Isyhar mana?" tanya Hero, ia ingin tahu keberadaan Isyhar yang sudah beberapa bulan ini tidak ada kabar sama sekali.


Bahkan orang-orang kepercayaannya saja tidak ada yang pernah berhasil mengetahui keberadaan Isyhar setelah kejadian itu.


"Dia sedang sakit makanya tidak sempat datang ke acara pernikahanmu."


Dengan mengernyitkan dahi, Hero bermaksud memancing Asyhar untuk berbicara. "Isyhar sakit? Sakit apa?"


Sejenak Asyhar tampak berpikir keras, setelah itu langsung menggeleng. "Ini masalah pribadi, Isyhar menyuruhku untuk merahasiakannya termasuk pada keluargaku sendiri."


Untung saja Asyhar ingat ucapan Isyhar yang selalu menyuruhnya menutupi penyakitnya dari siapa pun.


"Oh gitu, its ok." Hero menepuk bahu Asyhar sambil tersenyum, walau sebenarnya ia sangat tahu tentang keberadaan Isyhar.

__ADS_1


__ADS_2