
Aqila memilih tersenyum sambil menatap Hero yang menatapnya dengan sinis. "Aku lapar, aku pun membutuhkan asupan -- ."
"Kau kan bisa buat sendiri." potong Hero ketus membuat wanita itu mendengus kesal.
"Masalahnya aku tidak tahu cara memasak." Hero melototkan kedua matanya, bagaimana bisa seorang wanita tidak tahu memasak.
"Kau benar-benar tidak pandai memasak?" Hero ingin memastikan yang Aqila balas dengan anggukan. "Astaga! Om gila itu benar-benar ingin membuatku ikutan gila." gerutu Hero, mengumpat papa Adit yang sekarang sudah menjadi papa mertuanya.
"Pokoknya aku tidak mau dengar alasan apa pun, mulai hari ini kau harus belajar memasak karena hanya kaulah yang akan memasak disini."
Mendengar hal tersebut membuat Aqila berdiri dari tempatnya bahkan kedua matanya sudah hampir jatuh. Aqila yang tidak pernah masuk ke dapur, bagaimana bisa tahu cara memasak.
Namun Hero tidak mempedulikan reaksi Aqila, ia memilih pergi namun langkahnya tiba-tiba berhenti karena Aqila sedang memeluk tubuhnya dari belakang. "Ku mohon, jangan meninggalkan aku sendiri."
Hero yang tidak suka langsung melepas paksa pelukan Aqila. "Jaga sikapmu! Dan aku tidak percaya dengan semua omong kosongmu itu."
Hero pergi begitu saja, meninggalkannya Aqila yang sudah menatap ke seluruh area dapur.
__ADS_1
"Ish jadi aku harus belajar memasak?" tanya Aqila pada dirinya sendiri. "Bagaimana aku bisa memasak jika menggunakan pisau saja aku tidak pernah." Aqila lalu meraih pisau dan memperhatikan benda tipis dan tajam itu secara teliti.
...
Sedang Hero yang baru tiba di kantor miliknya kini disambut hangat oleh semua orang yang sudah menunduk hormat.
Hero adalah salah satu pengusaha sukses yang ada di kota Malang bahkan cabang-cabang perusahaannya sudah terbagi di beberapa ibu kota yang ada di Indonesia.
"Tuan, apa kau membutuhkan sesuatu?" seorang pria tampan datang menghampiri Hero namun Hero tidak menjawab. Ia memilih masuk ke dalam lift.
"Ada apa dengan tuan Hero? Apakah semalam istri barunya tidak memberi jatah?" lanjut pria itu bingung karena melihat wajah Hero yang kusut.
"Daniel! Kau masuk atau gajimu mau ku potong lagi 20%." tidak ingin mendapat potongan gaji lagi, Daniel segera masuk sebelum gajinya tersisa 60% dibulan ini.
Daniel bahkan baru beberapa hari ini mendapat potongan gaji karena tidak sengaja membawa mantan kekasih Hero masuk ke dalam ruangannya.
"Apa tuan Hero belum puas dengan potongan gajiku yang baru saja kemarin karena nona Vera, mantan kekasihnya itu berhasil menerobos masuk ke ruangannya tapi kenapa aku yang selalu jadi korban?" Daniel berucap dalam hati.
__ADS_1
Sejak tadi Hero merasa gusar di tempat duduknya. Ia bingung harus berbuat apa pada wanita yang ada di rumahnya saat ini.
"Daniel, apa kau tahu cara menjinakkan seorang wanita agar menurut." ucapan Hero membuat Daniel yang tadinya menatap ponsel kini menatap heran kearah Hero.
"Entahlah tuan tapi setahu ku wanita akan menurut jika dibelikan sesuatu yang mereka sukai." jawab Daniel yang membuat Hero semakin frustrasi.
Bagaimana bisa, Hero membelikan sesuatu untuk Aqila sedangkan dia saja tidak mencintai wanita itu bahkan menikahinya adalah sebuah kesalahan terbesar bagi Hero.
Dengan mendengus kesal, Hero bangkit dari posisinya. Ia lalu meraih style jas yang tergantung disamping meja kerja. "Kau itu sama sekali tidak berguna."
Hero berjalan keluar ruangannya, percuma ia berada di kantor jika pikirannya saja tidak pernah fokus.
Sedangkan Daniel, ia pun sudah bangkit dan mengikuti Hero dari belakang. "Tapi tuan, kau mau kemana? Bukankan sebentar lagi ada meething."
Langkah Hero langsung berhenti kemudian menatap Daniel yang sudah mengangguk. "Perusahaan apa?" tanya Hero tampak serius.
"Perusahaan HR tuan, pertemuannya jam 10 nanti." jawab Daniel namun Hero kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Batalkan saja, lagi pula perusahaan itu sama sekali tidak berguna untuk perusahaan kita." sentak Hero memasuki lift, tanpa adanya Daniel yang ikut.
Daniel yang ditinggal hanya bisa menghela napas karena sudah tahu Hero orangnya tidak suka dibantah dan jika Daniel membantah gajinya yang akan korban.