Seukir Tinta

Seukir Tinta
Berkunjung


__ADS_3

Setelah mengerjakan laporan, Aisyah memutuskan pergi ke rumah sakit. Hari ini cuaca begitu bersahabat membuat Aisyah sangat bahagia.


Aisyah yang baru tiba di parkiran, tersenyum lebar kala melihat Ramdan yang keluar dari rumah sakit.


"Mas Ramdan mau kemana? Rapi banget." melihat tampilan Ramdan yang sudah rapi membuat Aisyah bertanya.


"Mau ikut tidak? Kalau mau ayo." Aisyah yang merasa bosan langsung mengangguk. Ia pun pasti akan sangat bosan jika tidak ada Ramdan di rumah sakit.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, kini Aisyah dan Ramdan tiba disebuah rumah elite nan sangat mewah.


"Mas Ramdan, ini kita di rumah siapa?" tanya Aisyah yang baru keluar dari mobil dan menghampiri Ramdan.


"Rumah pasien spesial, Mas. Alhamdulillah sekarang kondisi pasien spesial Mas itu semakin membaik setelah beberapa hari yang lalu selesai operasi."


Aisyah mengangguk. "Alhamdulillah."


Dan tidak lama setelah itu, mobil yang tatkala mewah berhenti dibelakang mobil Ramdan.


Melihat siapa yang keluar dari mobil membuat Aisyah semakin terkejut. "Pak Asyhar." Aisyah menunjuk Asyhar yang sudah tersenyum, menghampiri Aisyah dan Ramdan.


Lain halnya dengan Ramdan yang tampak bingung, melihat Aisyah dan Asyhar yang sudah akrab.

__ADS_1


"Kalian sudah saling kenal?" Aisyah dan Asyhar sama-sama mengangguk.


"Iya mas, Pak Asyhar ini salah satu dosen Ica." ucap Aisyah yang dijawab Ramdan dengan anggukan.


Sedang Asyhar sudah menunjuk rumahnya. "Oh iya, mari masuk dari tadi kalian sudah ditunggu sama keluarga saya."


Ramdan dan Aisyah mengangguk namun entah mengapa Aisyah merasa ada perasaan yang sulit terjabarkan ketika baru masuk di dalam rumah itu.


"Ada apa ini? Kenapa jantungku berdebar tak karuan seperti ini?" tanya Aisyah dalam hati, mencoba menetralkan perasaannya yang tidak biasa itu.


Dan benar saja, rupanya semua orang sudah berkumpul di ruang tamu, menyambut hangat kedatangan Ramdan dan Aisyah.


Bahkan Ara yang melihat kedatangan Aisyah langsung berlari membuat Abdar menghampiri istrinya. Ia takut jika sesuatu terjadi pada istri dan calon anaknya.


"Maafkan aku, maaf bila aku begitu langcang ikut dalam pertemuan ini." hanya kalimat itu yang bisa Aisyah ucapkan namun Asyhar segera menggeleng.


"Untuk apa meminta maaf, Aisyah kan keluarga dari dokter Ramdan sekaligus sahabat Ara jadi tidak perlu sungkan." ucap Asyhar.


Dan mendengar itu, Umi Sarah mendekati Aisyah. Sejak tadi perhatian Umi Sarah tertujuh pada wanita cantik itu.


"Oh nama kamu Aisyah, nak?" Aisyah mengangguk. "Wah! nama dan orangnya sama-sama indah." lanjut Umi Sarah yang dibalas Aisyah dengan tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo semuanya duduk. Aku tidak mau ya istri dan calon anakku kelelahan karena kelamaan berdiri." Abdar yang tidak ingin istrinya kelelahan, menyuruh semua orang untuk duduk.


"Kak Abdar ini selalu saja begitu." gerutu Asyhar karena merasa tidak sopan pada Aisyah dan Ramdan yang baru saja tiba.


"Biarin, makanya cepet nikah." balas Asyhar tidak mau kalah dari adik-adiknya membuat seluruh keluarganya hanya bisa menggeleng.


Berbeda halnya dengan Aisyah yang sudah tersenyum, seolah bisa merasakan keharmonisan keluarga itu. "Masya Allah, keluarga ini begitu sejuk."


...


Setelah semua orang duduk, Umi Sarah lalu menatap Asyhar yang duduk disamping Abdar yang sejak tadi menatap istrinya yang memilih duduk disamping Aisyah.


"Asyhar! Kau pergilah panggil adikmu, katakan jika dokter Ramdan sudah datang." ucap Umi Sarah.


"Iya Umi." tidak ingin membuat semua orang menunggu, Asyhar bangkit untuk naik keatas. Dimana kamar Isyhar berada.


Tanpa mengetuk pintu, Asyhar langsung memasuki sebuah kamar yang berseblahan dengan kamarnya.


Dipadanginya Isyhar yang sedang salat dengan penuh haru. Rupanya saudaranya itu sama sekali tidak berubah hanya ingatannya saja yang hilang namun kebiasaannya tidak.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Isyhar selesai salat. "Asyhar ada apa kau kemari?" tanya Isyhar ketika melihat Asyhar yang duduk disisi pembaringannya.

__ADS_1


"Dibawah sudah ada dokter Ramdan. Umi menyuruhku untuk membawamu turun menemuinya."


__ADS_2