Seukir Tinta

Seukir Tinta
Kasih Sayang


__ADS_3

Masih dengan wajah menahan tawa, Aisyah menatap Asyhar yang tampak sangat serius menunggu jawaban.


Bahkan Asyhar sama sekali tidak berkedip, seakan tidak ingin melewatkan sedetik pun dari penjelasan Aisyah.


Sejenak Aisyah mengontrol ekspresi wajahnya sebelum menjawab pertanyaan Asyhar.


"Dokter Ramdan itu kakak sepupu saya, Pak. Dokter Ramdan adalah anak dari saudara Ayah saya." Aisyah menjawabnya dengan raut wajah datar.


Namun itu tidak berlaku untuk Asyhar yang tampak sudah menahan rasa malunya, ditambah lagi ketika mengingat sikapnya yang kemarin begitu kasar terhadap Ramdan.


"Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku sama sekali tidak berpikir sampai kesana? Astaga Asyhar, kau itu bodoh sekali!" gerutu Asyhar dalam hati.


Bahkan Asyhar yang tadinya menatap Aisyah dengan penuh keseriusan, sudah mengalihkan pandangannya menatap ke depan.


Seolah Asyhar tidak sanggup menatap Aisyah karena saat ini Asyhar benar-benar sangat malu.


Sedangkan Aisyah yang dapat melihat ekspresi malu Asyhar lalu mengembangkan senyuman indah.


"Melihat ekspresi wajah Pak Asyhar seperti ini, mengingatkan saya kepada kedua sahabat saya. Awalnya mereka pun juga mengira jika Mas Ramdan adalah kekasih saya tapi sebenarnya dia hanyalah keluarga yang sudah saya anggap layaknya kakak kandung saya sendiri."


Mendengar ucapan Aisyah membuat Asyhar memberanikan diri menatap kearah Aisyah yang sudah mengangguk.

__ADS_1


"Iya Pak dan lebih parahnya lagi, mereka bahkan mengira jika saya dan Mas Ramdan itu sudah menikah, astaga!" Asyhar dan Aisyah tertawa bersama.


Ucapan Aisyah barusan seakan sebuah lelucon untuknya bahkan Asyhar yang tadinya merasa malu sudah kembali bersikap seperti biasa.


Baru kali ini melihat Aisyah tertawa membuat Asyhar begitu bahagia. "Semoga saja, kamu selalu seperti ini bila bersamaku." ucap Asyhar bergumam dalam hati.


...


Setelah pertemuannya dengan Asyhar, Aisyah pulang dengan wajah diselimuti kebahagiaan.


Bahagianya bukan karena bertemu Asyhar melainkan karena mendengar kabar baik Aqila yang akan melangsungkan pernikahan.


"Sepertinya aku harus menyuruh Ibu membuatkan aku gaun pesta agar nantinya aku bisa memakainya di hari pernikahan Aqila." Aisyah mengangguk.


Ketika melihat Ibu Amira sedang menjahit, Aisyah dengan penuh semangat mendekati Ibu Amira.


"Assalamualaikum, Ibu. Ica pulang." ucap Aisyah membuat Ibu Amira menatap kearah putri semata wayangnya yang tampak sangat bahagia.


Dan melihat kebahagiaan tersebut membuat Ibu Amira mengernyitkan dahi, tanda penasaran.


"Sayang, ada apa? Apakah sudah ada pria yang menyatakan cintanya sama anak Ibu?" pertanyaan Ibu Amira berhasil membuat Aisyah malu.

__ADS_1


Ibu Amira memang selalu saja seperti ini, selalu membahas perihal pria kepada Aisyah namun Aisyah tidak pernah menanggapinya dengan serius.


"Ihhhh Ibuuuuu." Aisyah memanyunkan bibirnya, bagai anak kecil yang merajuk dan itu membuat Ibu Amira tersenyum.


"Iya sayang, ada apa?" Ibu Amira pun sudah bangkit dari duduknya. Menghampiri Aisyah dan menuntunnya untuk duduk di sofa.


Setelah keduanya sama-sama duduk, Aisyah menatap Ibu Amira yang tampak bingung.


"Cerita sama Ibu, siapa tau aja Ibu bisa memberikan Ica solusi." paham akan perasaan Aisyah, Ibu Amira meminta Aisyah segera bercerita.


Dan tidak ingin membuat Ibu Amira menunggu, Aisyah mulai menceritakan perihal Aqila yang akan menikah.


Setelah menceritakan semuanya, Ibu Amira mengangguk paham dengan wajah yang serius.


Dielusnya puncak kepala Aisyah dengan lembut, berharap kisah anaknya itu tidak seperti kisah Aqila yang berakhir perjodohan.


"Sayang, tidak semua orang tua seperti orang tua Aqila. Buktinya saja, Ibu. Kelak jika seorang pria datang menghadap Ibu namun Aisyah merasa tidak cocok dengan pria itu maka dengan senang hati Ibu akan menolak lamarannya." ucap Ibu Amira.


"Karena Ibu tidak ingin anak Ibu menjadi korban keserakahan Ibu." tangan Ibu Amira kembali mengusap kepala Aisyah. "Kebahagiaan Ica, kebahagiaan Ibu juga itu sudah cukup buat Ibu."


Aisyah yang mendengar segala ucapan Ibu Amira langsung memeluk tubuh yang selama ini menjadi pelindungnya. "Terima kasih, Bu. Ica sayang Ibu."

__ADS_1


__ADS_2