Seukir Tinta

Seukir Tinta
Terjebak


__ADS_3

"Ara, aku ingin bertanya tentang Aisyah. Apa boleh?" Ara menelisik wajah Asyhar yang tampak serius membuat Ara mulai paham akan sesuatu.


Sejak pertemuannya bersama Aisyah, Ara sempat memperhatikan Asyhar yang selalu mencuri pandang menatap Aisyah diam-diam.


"Apa kau menyukai Aisyah?" mata Asyhar terbelalak, tidak percaya akan pertanyaan Ara yang tiba-tiba.


Tidak ingin berbohong, Asyhar mengangguk dengan wajah semakin serius. "Iya sejak pertemuan awalku di kampus, aku sudah menyukai Aisyah tanpa sepengetahuannya."


Mendengar pernyataan Asyhar membuat Ara ikut berbahagia, terlebih lagi jika Asyhar berhasil mendapatkan Aisyah itu artinya Ara dan Aisyah akan menjalin hubungan.


"Asyhar, kau harus berhasil mendapatkan hati Aisyah dan jika perluh kau harus berhasil memperistrinya agar aku dan Ica bisa jadi ipar."


Seolah mendapat lampu hijau, Asyhar langsung mengangguk. "Iya itu pasti."


Teringat akan sesuatu, Ara kemudian memfokuskan tatapannya pada Asyhar.


"Oh iya tadi kau ingin bertanya apa tentang Ica?" Ara kembali mempertanyakan niat Asyhar diawal.


Mengingat akan hal tersebut membuat Asyhar yang baru sadar langsung mengangguk. "Aku ingin bertanya, apakah Ica pernah dekat dengan seorang pria selama kau mengenalnya?"

__ADS_1


Sejenak Ara tampak berpikir atas pertanyaan Asyhar namun tidak lama setelah itu menggelengkan kepala.


"Dulu sewaktu aku bersama Ica, banyak pria yang mengejarnya. Ditambah lagi Ica yang dahulunya siswa berprestasi, cantik dan baik hati membuatnya banyak yang melirik namun diantara pria itu tidak ada satu pun dari mereka yang dapat meluluhkan hati Ica. Ica memang wanita baik tapi Ica bukan wanita gampangan yang mudah didapatkan."


Ara kemudian berdiri dan duduk disamping Asyhar yang sedari tadi menatap Ara dengan serius.


"Asyhar, jika kau ingin serius dengan Ica. Kau harus memperlakukan Ica layaknya wanita spesial, kau tidak boleh membuatnya kecewa karena Ica sama sekali tidak pernah dekat dengan pria setelah ayahnya meninggal." lanjut Ara.


Namun ucapan Ara membuat Asyhar begitu terkejut, mengetahui kebenaran Ayah Aisyah yang sudah tiada.


"Apa? Jadi Ayah Ica sudah meninggal?" Ara menjawabnya dengan anggukan membuat Asyhar mulai paham. Pantas saja Aisyah selalu dingin padanya, mungkin karena itulah alasannya.


Hari Asyhar terasa hampa bila sehari saja tidak menemui Isyhar. Seperti sekarang ini Asyhar berjalan memasuki ruangan Isyhar.


Setelah duduk disamping pembaringan, Asyhar menatap senduh punggung Isyhar yang membelakanginya.


Ingatannya kembali menerawang atas kejadian kemarin yang membuatnya ikut kesal kepada Isyhar.


"Maafkan aku Isyhar, tidak seharusnya aku membentakmu kemarin." gumam Asyhar pelan.

__ADS_1


Isyhar yang tadinya ingin beristirahat lalu menoleh setelah mendengar suara Asyhar yang samar-samar.


"Asyhar, kenapa kau baru datang? Sejak sore tadi aku menunggu kedatanganmu, aku pikir kau tidak akan kemari." Isyhar memberitahu.


Sedang Asyhar sudah menatap wajah pucat Isyhar dengan menggeleng. "Mana mungkin aku setega itu sampai-sampai tidak membesuk saudara kembarku sendiri."


Isyhar yang senang, sudah mengukir senyumannya. Begitu pun dengan Asyhar yang sudah mengelus bahu Isyhar lembut. "Sebagai penebusnya, malam ini aku akan menginap disini." lanjut Asyhar lagi.


Namun itu bukanlah hal yang lumrah bagi seorang Asyhar karena memang pria tampan itu sudah sering menginap di rumah sakit menemani Isyhar.


Malam semakin larut namun Asyhar dan Isyhar masih terjaga dalam sunyinya malam. Mereka sama-sama belum tidur, entah apa yang sedang mereka pikirkan.


Asyhar yang berbaring dilantai beralaskan karpet bulu, menatap Isyhar yang juga belum tidur.


"Isyhar, kenapa kau belum juga tidur?" tanya Asyhar namun Isyhar menghela napas dengan tatapan menatap langit-langit di ruangan itu.


"Asyhar, bagaimana jika aku pergi untuk selama-lamanya. Apakah kau akan kuat tanpaku?" Isyhar berucap dengan santai namun tidak untuk Asyhar yang sudah duduk.


"Kau itu sedang berbicara apa? Bukankah sudah berulang kali aku katakan jika kau pasti segera sembuh." saat ini raut wajah Asyhar berubah sedih.

__ADS_1


"Tidak Asyhar, tidak ada yang tahu bagaimana takdir mempermainkan kita. Begitu pun denganku, tidak tahu akan bertahan sampai berapa lama lagi."


__ADS_2