Seukir Tinta

Seukir Tinta
"Langitku! Siapakah Kamu?"


__ADS_3

Aisyah tengah duduk dikasur. Seusai sarapan bersama Ibu Amira, ia memilih langsung menuju kamar.


Tatapannya kini menatap tidak percaya pada seukir surat yang sudah ada dihadapannya.


"Surat dari siapa, ya?" Aisyah bertanya-tanya sebab baru kali ini ia mendapat surat namun karena rasa penasarannya sudah menggebuh perlahan ia membuka surat tersebut.


Untukmu, Aisyah.


Assalamualaikum.


Aku tahu kamu pasti akan terkejut ketika mendapat surat ini. Jujur saja, aku pun sama sepertimu yang belum memiliki cukup keberanian untuk menemuimu tapi percayalah, kelak atas izin Allah kita pasti akan dipertemukan :)


Pelangiku.


Sebutan yang paling pantas untukmu. Sejak kehadiranmu, aku merasa jauh lebih baik dari hari-hari kemarin. Entahlah, mungkin karena aku sangat mengagumimu layaknya ketika pelangi hadir diwaktu yang paling tepat!


Sekedar mengagumi? Ya, itulah aku.


Maaf bila aku sangat lancang memasuki hidupmu, ku harap kamu tidak keberatan jika sementara waktu ini aku hadir menemanimu :)


Dariku, Langitmu


Setelah membaca surat itu, hati Aisyah berbedar tidak karuan. Aisyah masih belum menyangka akan memiliki seorang pengagum rahasia seperti si pemilik surat ini.


"Pelangiku? Sebutan yang unik!" seulas senyum terbit dipeluk bibir Aisyah dan beralih meraba dadanya.

__ADS_1


"Mengapa jantungku berdebar tak karuan, ya?" dengan wajah tersipu malu, Aisyah pun menutup surat itu.


"Langitku! Siapakah kamu?"


...


Hari esok kembali hadir, setelah melaksanakan salat subuh dengan terburu-buru Aisyah menuruni anak tangga.


Kali ini Aisyah berniat untuk mencari tahu siapakah si pemiliki surat itu. Aisyah sangat yakin bisa menemukan si pengagum rahasianya itu dengan cara memergokinya mengirim surat.


Entah sudah berapa lama, Aisyah menunggu si pengagum rahasinya itu dilentera rumah sembari menikmati matahari yang semakin terang.


"Kenapa dia belum datang, ya? Apakah hari ini dia tidak mengirim surat?" Aisyah menghela napas panjang.


Sedikit kecewa itulah yang dirasakannya sebab itu artinya ia belum bisa mengetahui siapakah pria yang sudah berani mengirimkannya surat.


...


Hari ini adalah hari ahad dan seperti biasanya disetiap hari ahad Aisyah selalu meluangkan waktu untuk pergi ke salah satu rumah sakit yang ada di kota Malang.


Dengan berpakaian rapih, Aisyah keluar untuk berpamitan. Dihampirinya Ibu Amira yang sedang menyiram tanaman.


"Ica sayang sudah mau berangkat?" tanya Ibu Amira karena ia sangat tahu jika selama ini Aisyah selalu meluangkan waktu kesana.


"Iya Bu, Ica berangkat sekarang ya? Takut kalau Mas Ramdan menunggu lama." Aisyah lalu mencium tangan Ibu Amira.

__ADS_1


"Iya nak, Ica hati-hati!" dengan wajah tersenyum, Ibu Amira menatap punggung Aisyah yang semakin menjauh meninggalkannya.


...


Waktu berlalu begitu cepat, Aisyah sudah tiba di rumah sakit yang selama beberapa bulan ini menjadi prioritasnya.


Dengan langkah terburu-buru, Aisyah berjalan menelusuri koridor dan lagi-lagi..


Brukkk


Aisyah terpental jatuh ke lantai karena kembali menabrak seseorang. Bedanya ini bukan di kampus lagi melainkan di rumah sakit.


Merasa perih, Aisyah menjerit kesakitan sambil menatap tangan kirinya yang terluka. "Awww!" ritih Aisyah.


Berbeda halnya dengan seseorang yang ditabraknya yang tampak terkejut menatap keberadaan Aisyah disana.


"Aisyah! Apa kamu terluka?" kemudian pria itu berjongkok, menatap Aisyah yang masih merintih.


Mendengar suara pria itu, Aisyah pun mendongak melihat Asyhar yang hanya berjarak beberapa centi dengannya. "Pak Asyhar."


Tidak bertahan lama, padangan keduanya terpaut hingga Aisyah mengakhirinya dengan wajah tertunduk malu. "Eh, ma-maaf Pak." tambah Aisyah.


Karena masih panik, Asyhar ingin meraih tangan Aisyah. "Eh tidak usah Pak, Aisyah bisa ngobatinnya sendiri kok." tolak Aisyah lembut.


Mengingat Aisyah memang calon dokter membuat Asyhar mengangguk paham. "Oh iya, emang Aisyah kan calon dokter."

__ADS_1


Seketika Aisyah dan Asyhar tertawa, seolah ucapan Asyhar barusan lelucon untuknya.


Diobatinya luka Aisyah di bangku yang sama bersama Asyhar yang terus memperhatikannya. "Aisyah ke rumah sakit buat apa?" tanya Asyhar penasaran.


__ADS_2