
Hero memperhatikan Toni yang bahkan memaksa makanan yang ada dimulutnya itu untuk masuk. "Bagaimana? Apakah enak?" tanya Hero.
Sejenak Toni menatap Hero yang tampak menahan tawa lalu menatap Aqila yang juga memasang wajah serius.
Toni yang tidak ingin membuat majikannya kecewa, mau tidak mau mengangguk. Walau harus berbohong.
"I-iya tuan, makanan nona Aqila sangat enak." sebisa mungkin Toni menyembunyikan kebenaran yang ada.
Dan mendengar jawaban Toni, Aqila sudah menepuk tangan dengan bangga. "Kan aku bilang juga apa, aku pasti bisa memasak." ucap Aqila sambil menantap Hero yang juga menatapnya.
Namun Hero sudah mengerutkan alisnya. "Apa kau yakin makananmu itu memang enak?" tanya Hero yang langsung diangguki Aqila. "Tapi aku tidak percaya bukankah untuk membuktikannya kau juga harus mencobanya?" Hero seolah menantang.
"Tapi Toni sudah mencobanya dan mengatakan jika makananku itu sangat enak!" seru Aqila dengan nada ikut menantang.
"Iya itukan penilaian dari Toni tapi apakah kau sudah mencobanya?" Aqila yang memang belum mencoba langsung menggeleng. "Nah kan, kalau begitu cobalah dan buktikan jika makananmu itu benar-benar sangat enak."
__ADS_1
Toni menggeleng cepat kala melihat Aqila yang sudah mengambil piring itu dari tangannya. "Ta-tapi nona, kau tidak perluh ikut mencobanya dan jika perluh biarkan saya yang menghabiskan semua makanan itu."
Aqila menghiraukan segala ucapan Toni, ia mulai memasukkan 1 potong daging ke dalam mulutnya namun di detik itu juga ia memutahkannya dan segera minum.
"Astaga! Makanan apa ini?" merasa makan itu tidak jelas rasanya apa, Aqila bertanya membuat Hero tertawa terbahak-bahak.
"Bukankah makanan itu sangat enak?" Hero kembali memojokkan Aqila membuat wajah wanita itu merona karena malu.
Namun tidak ingin merasa salah seorang diri, Aisyah sudah menatap sinis Toni yang sudah tersenyum kikuk. "Toni, kenapa kau membohongi saya dan mengatakan jika makanan buatan saya ini sangat enak."
"Ma-maafkan saya nona hanya saja saya ingin menghargai masakan yang nona buat dengan susah payah. Sekali lagi saya minta maaf." Toni tertunduk, takut melihat wajah Aqila yang pasti akan sangat marah.
"Kita lihat, seberapa gregetnya dia kalau sedang marah." gumam Hero, melihat Aqila yang berjalan kearah Toni masih dengan memasang wajah kesal.
Namun semua harapan Hero tersisihkan kala Aqila mengusap lembut bahu Toni. Mereka bahkan sudah saling menatap. "Tidak apa-apa, Toni. Aku bahagia jika masih ada orang yang mau menghargai kerja kerasku."
__ADS_1
Seolah sebuah cacian, Hero menatap Aqila yang tampak menatapnya dengan sinis. Aqila tahu jika Hero pasti tersindir dengan ucapannya.
"Hentikan drama kalian ini dan sekarang juga kau harus membereskan semua masalah yang sudah kau perbuat." Hero menatap semua wajan, piring, gelas yang ada dimana-mana.
Bahkan beberapa piring dan gelang pecah tampak berhamburan dilantai. Suasana dapur benar-benar dalam keadaan darurat.
Melihat Aqila yang hanya diam membuat Hero sudah tahu jika Aqila akan semakin membencinya dan itulah yang Hero inginkan membuat Aqila tertindas hingga memutuskan pergi dari rumahnya.
"Kenapa? Kenapa kau masih diam disitu, cepat kerjakan!" bentak Hero. "Atau kau mau aku pulangkan ketempat asalmu?" tidak ingin dipulangkan, Aqila langsung bertindak dan satu persatu mulai mebereskan benda-benda yang berantakan.
Toni yang tidak tega melihat majikannya diperlakukan layaknya seorang pembantu ingin menghampiri Aqila.
"Toni, apakah kau sudah tidak suka dengan pekerjaanmu?" Toni yang ditanya langsung menggeleng. "Kalau begitu kau tidak boleh membantunya."
Aqila yang melihat Toni yang berdiri disampingnya, sudah menggeleng. Memberikan isyarat pada Toni untuk tidak membantunya.
__ADS_1
Bahkan Toni memilih pergi daripada harus melihat seorang wanita disiksa seperti itu sedang Hero sudah duduk di kursi dan memperhatikan Aqila berberes.
Hero ingin melihat seberapa kuatnya, wanita yang sedang ia hadapi itu bahkan Hero tidak segan-segan untuk mencari kesalahan kecil Aqila agar wanita itu semakin tertekan.