Seukir Tinta

Seukir Tinta
Salah Paham


__ADS_3

Tidak lama Aqila datang menghampiri Hero dengan balutan gaun hitam yang senada dengan sandal kaca yang ia gunakan.


Hero yang melihat penampilan Aqila tanpa sadar mengukir senyuman kala melihat wajah Aqila yang sangat cantik.


Sebenarnya Hero mengakui kecantikan Aqila sejak di pesta pernikahannya namun sebisa mungkin Hero menutupi itu.


Hero tidak mau Aqila sampai mengambil posisi Brenda yang masih menyelimuti hatinya walau mantan kekasihnya itu lebih memilih dan menikah bersama pria lain.


"Aqila memang cantik tapi hatiku masih menginginkan Brenda untuk ku miliki." gerutu Hero dalam hati.


Sementara Toni yang masih makan, mendadak berhenti. Tatapannya mendapat istri tuannya yang sudah tampil begitu menawan.


"Wahhhh! Nona Aqila cantik banget." ucap Toni yang Aqila balas dengan tersenyum.


"Jangan tersenyum, jelek!" ketus Hero.


Baru saja Aqila berbahagia, senyumannya kini memudar kala mendengar perintah Hero yang menyuruhnya berhenti tersenyum.


"Tidak tuan, senyuman nona Aqila sama sekali tidak jelek malah sangat -- ." Toni yang mendapat tatapan mematikan Hero memilih untuk tidak meneruskan ucapannya.


Toni takut salah bicara karena sudah tahu jika gajinya yang akan menjadi taruhan. Tidak ingin itu terjadi, Toni memilih pergi.


"Kita mau kemana, mas?" Aqila mendekati Hero yang tampak meraih sandwich buatannya.


Melihat Hero memakan sandwich itu dengan lahap membuat hati Aqila menghangat. Untuk kali pertama Hero menghargai hasil usahanya.

__ADS_1


"Mau ke pesta perayaan perusahaan baruku." Aqila memilih mengangguk, ia tidak ingin mengganggu suaminya makan. Hero meraih segelas susu dan meneguknya hingga habis.


Dan itu lagi-lagi membuat Aqila sangat senang bahkan sejak tadi Aqila sudah melebarkan senyuman indahnya membuat Hero menatap Aqila.


"Aku bilang jangan senyum!!"


Hero bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Aqila melihat itu langsung mengikuti Hero dari belakang.


Sedang Toni yang melihat Hero yang sudah keluar segera menghampiri Hero.


"Ini tuan." ucap Toni.


Hero mengambil kunci mobil, menatap Toni yang tengah membuka pintu untuk Aqila.


Toni menjawabnya dengan anggukan. Begitulah Toni, ia selalu mengistimewakan seorang wanita. Berbeda sekali dengan sikap Hero.


Dan melihat itu semua, Hero sudah menatap Toni dengan penuh kekesalan dan mendapat tatapan itu membuat Toni tersenyum kaku. "Maaf tuan, mari!"


Hero berjalan, mengikuti langkah Toni namun baru saja Toni ingin meraih ganggang pintu, Hero langsung menghalanginya.


"Tidak usah, saya bisa sendiri." Toni terdiam, Hero masuk ke dalam mobilnya dan melanju pergi meninggalkan rumah.


Sementara Toni yang tahu nasibnya akan seperti apa, sudah menghela napas panjang. "Oh tidak, gajikuuuu!!"


...

__ADS_1


Aqila memperhatikan jalanan yang sudah dipadati kendaraan bahkan sudah banyak pengamen jalanan menghampiri mobil mereka kala mendapat lampu merah.


Dengan rasa ibah, Aqila menatap seorang pengamen wanita yang dibawah teriknya matahari bersama kedua anaknya tengah berjalan menghampirinya.


Spontan Aqila merongoh tasnya, menatap tas mini tersebut yang ternyata kosong.


Aqila menghela napas. "Astaga, aku lupa kalau aku sekarang bukanlah Aqila yang dulu." gumam Aqila berbatin.


Sedang Hero yang paham langsung membuka laci dashboard dan memberikan beberapa lembaran uang merah pada Aqila.


Senyuman Aqila hadir. Dengan semangat membuka kaca mobil dan uang yang diberikan Hero padanya langsung diberikan pada pengemis itu.


"Aku pikir wanita ini wanita matre sama seperti papanya namun sepertinya dugaanku salah. Dia bahkan memberi semua uang itu pada pengamen jalanan." Hero ikut bergumam.


Aqila tersenyum, mengelus puncak kepala kedua anak yang dibawa oleh pengamen tersebut. "Beli makanan yang banyak ya, sayang." ucap Aqila dengan wajah penuh kelembutan.


Mendapat uang sebegitu banyaknya membuat ibu dari 2 anak itu sudah mengucap syukur.


"Terima kasih, nyonya. Aku berdoa semoga kau dan suamimu selalu hidup rukun dan bahagia selalu hingga maut yang akan memisahkan kalian."


Sementara Aqila kembali menatap Hero yang hanya memasang wajah datar membuat Aqila tersenyum. "Iya Bu, aamiin."


Tidak lama, lampu hijau hadir dan Hero langsung melajukan mobilnya. Meninggalkan pengamen itu yang masih menatap kepergian.


"Dan semoga wanita itu selalu sabar dan kuat dalam menghadapi sikap suaminya." lanjut pengamen itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2