Seukir Tinta

Seukir Tinta
Senjata makan tuan


__ADS_3

Kemudian berjalan ke ruang tamu dengan wajah kegirangan. "Sambil menunggu misuaku pulang lebih baik aku menonton tv saja."


Setelah duduk disalah satu sofa, Aqila meraih remot kemudian memutar beberapa chanel hingga terputar sebuah acara entertainment yang memunculkan berita tentang pernikahannya yang kemarin.


"Astaga jadi benar ya kalau pernikahanku diliput beberapa media?" gumam Aqila lalu meraih cemilan yang ada diatas meja hingga tak fokus pintu terbuka lebar.


Hero yang baru tiba, menatap Aqila dengan penuh kesal. Bahkan wanita itu tidak menyambut kedatangannya layaknya para istri yang menunggu kepulangan suami mereka.


"Ish dia itu sama sekali tidak profesional. Sebagai seorang istri seharusnya dia menyambut kepulanganku." gerutu Hero dalam hati.


Hero yang seharian ini berada diluar rumah, memutuskan untuk naik ke kamar namun baru melewati dapur, Hero dibuat terkejut kala melihat dapur itu yang berubah layaknya kapal pecah.


"AQILAAAAAAAAA!"


Hero berteriak memanggil nama tersangka yang menurutnya sudah melakukan semua itu.


Aqila yang sedang makan cemilan seketika dibuat terlonjak kala mendengar suara pria yang ditunggunya sudah memanggil namanya.


Aqila mengikuti sumber suara hingga mendapat Hero yang berdiri membelakanginya dengan pandangan menatap kearah meja makan.


Hero pasti terharu melihat beberapa makanan yang sudah ia siapkan susah payah, itulah dipikiran Aqila.

__ADS_1


Dihampirinya Hero dengan penuh semangat. "Bagaimana? Kau pasti sangat terharu kan aku berhasil memasak -- "


Ucapan Aisyah tergantung di udara kala tatapannya menatap wajah Hero yang tidak sesuai dengan dugaanya karena saat ini Hero menatapnya layaknya musuh sendiri.


Dan melihat wajah kesal Hero membuat Aqila tersenyum kikuk sembari meraih makanan yang menurutnya masakan paling enak dari semua makanan yang ada.


Sebuah makanan yang layaknya rendang dengan bentukan cukup menarik jika dilihat secara sekilas.


"Jangan marah dulu karena aku yakin kemarahanmu itu akan menghilang setelah kau mencoba makanan buatanku ini." Aqila mencoba membujuk.


Sedang Hero melirik makanan yang ada di tangan Aqila. "Benar, semua makanan ini buatanmu?" tanya Hero memastikan yang Aqila jawab dengan anggukan.


"Ya sudah kalau kau tidak percaya biar aku suapin, ya?" Aqila mengambil salah satu daging ingin menyuapi Hero namun pria itu menggeleng.


"TONIIIIIIIII!"


Hero berteriak memanggil salah satu penjaga yang ada di rumahnya, pria yang kemarin membawa seorang dokter datang ke kamar Aqila.


Sedang Toni yang dipanggil langsung datang dengan wajah takut kala majikannya sudah memasang wajah kesal yang mampu membuat bulu kuduknya ikut berdiri.


"I-iya tuan, a-ada apa?" tanya Toni bingung untuk apa ia dipanggil sedang Hero kemudian menunjuk makanan yang ada ditangan Aqila.

__ADS_1


"Cepat kau coba makanan buatan dia, aku tidak ingin lidahku sampai tercemar dengan masakan buatannya."


Toni yang disuruh langsung menyunggingkan senyum, ternyata tuannya itu memanggilnya hanya untuk mencoba masakan buatan nona Aqila, istri dari tuan Hero.


Dengan senang hati, Toni berjalan kearah Aqila. "Sini nona biar saya yang mencoba masakan nona karena saya yakin jika masakan nona pasti sangat enak."


Aqila yang senang mendapat pujian Toni langsung memberi Toni sepiring masakan itu. "Baiklah, terima kasih atas pujianmu. Ku harap kau menyukainya karena ini adalah masakan pertamaku."


Gleg!


Dengan susah payah, Toni menelan salivanya. Mata Toni bahkan sudah melebar mengetahui kenyataan bila masakan itu adalah masakan pertama Aqila.


Seolah Toni bisa merasakan bila sesuatu akan terjadi pada tenggerokannya.


Dan Hero yang dapat melihat perubahan wajah Toni, sudah tersenyum. "Cepat makan dan jika perluh kau harus menghabiskannya karena sepertinya kau sangat yakin jika masakan dia masakan paling enak di dunia."


Aqila pun sudah mengangguk, menatap Toni yang masih diam ditempat. "Tamatlah, aku!" gumam Toni didalam hati.


Perlahan mulut Toni melebar, memasukkan daging yang berukuran paling kecil masuk ke mulutnya. Seperti dugaanya, daging itu terasa tidak sesuai dengan ekspektasi.


"Oh tidak, setelah ini lidahku pasti akan mata rasa."

__ADS_1


__ADS_2