Seukir Tinta

Seukir Tinta
s u r a t ?


__ADS_3

Setelah kepergian Aisyah, tinggalah Asyhar dan Zian yang masih berdiri diposisinya.


Jika Asyhar masih fokus menatap kepergian Aisyah, berbeda halnya dengan Zian yang sudah menatap sahabatnya.


"Maaf kawan, memandang wanita pun ada batasnya. Jika kau terus-terusan menatapnya seperti ini, kau pergi pengajaran kapan?" Zian mengingat.


Asyhar yang baru ingat ada pengajaran langsung mengecek jam yang ada dipergelangan tangannya. "Astaga, aku terlambat. Kenapa kau tidak memberitahuku?"


Dengan terburu-buru Asyhar segera pergi meninggalkan Zian yang masih melongok tidak percaya.


"Oh ya ampun! Apa yang barusan dia katakan? Aku tidak memberitahunya?" Zian berdecak dengan wajah yang kesal. "Baiklah jika lain kali aku ingin menambah kawan, aku harus lebih selektif dalam mencari sahabat lagi agar tidak mendapatkan yang seperti Asyhar."


...


Sore menjelang, cuaca tampak mendung. Kini awan hitam menyelimuti langit diiringi angin yang bertiup kencang.


Untungnya sebelum hujan turun membahasahi bumi, Aisyah sudah lebih dulu tiba dihalaman rumah.


"Alhamdulillah, aku tiba tepat sebelum hujan benar-benar turun." Aisyah tersenyum.


Kini langkah kakinya meneluri rumah yang sudah belasan tahun ini ditempatinya. Dihampirinya Ibu Amira yang tampak sedang menjahit.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bu. Ica datang." Aisyah mencium tangan Ibu Amira dengan penuh kasih.


"Waalaikumsalam, sayang. Ica sudah makan?" sambil mengelus puncak kepala Aisyah.


"Sudah Bu, tadi di kampus." jawab Aisyah.


Mendengar jawaban Aisyah membuat Ibu Amira tersenyum. "Kalau begitu Ica naik ke kamar ya, Bu?" izin Aisyah yang langsung diangguki Ibu Amira.


Setelah melaksanakan salat ashar, kini Aisyah melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya. Dipadangnya suasana luar yang sudah digenangi air.


"Alhamdulillah, hujan hari ini awet! Semoga besok cuacanya kembali cerah." gumam Aisyah kagum melihat hujan yang tidak usai.


...


Aisyah tipe wanita yang pekerja keras, pantang baginya menyia-nyiakan waktu walau hanya untuk bersantai.


Dan tidak lama setelahnya, Ibu Amira datang menghampiri Aisyah yang tampak masih fokus didepan laptop.


Tidak ingin mengganggu waktu anak semata wayangnya, Ibu Amira memilih duduk disamping Aisyah. "Ica sudah salat magrib?" tanya Ibu Amira.


Seketika pandangan mata Aisyah mengarah kepada Ibu Amira sambil tersenyum. "Alhamdulillah, sudah dong Bu."

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Aisyah, Ibu Amira langsung berdiri dari tempatnya. Begitulah Ibu Amira suka mengingat Aisyah soal ibadah.


"Baiklah nak, kalau begitu Ibu pergi memasak dulu. Nanti setelah pekerjaan Ica selesai, turunlah ke bawah." Aisyah pun mengangguk dengan tatapan yang masih terpusatkan di laptop.


Tidak ingin mengganggu aktivitas sang anak, Ibu Amira memilih keluar dari kamar Aisyah. Tidak lupa kembali mengunci pintu, begitu pun dengan Aisyah yang masih fokus mengerjakan tugas kuliahnya.


...


Hari esok tiba, cuaca hari ini benar-benar sangat dingin mungkin karena hujan kemarin yang tiada henti menimbulkan nuansa yang begitu menyejukkan.


Jadwal kuliah Aisyah hari ini pun kosong dan memutuskan untuk tinggal di rumah daripada harus keluar.


Seperti biasanya, saat ini Aisyah sedang menikmati udara sejuk dari balkon kamar. Di perhatikannya dari sudut ke sudut pemandangan yang ada disekitar rumah diiringi hembusan napas.


"Alhamdulillah, terima untuk hari ini ya Rob!" ucap Aisyah dipenuhi rasa syukur. Ia selalu bersyukur atas segala nikmat Allah disetiap hari.


Dan tidak lama setelah itu, indera penglihatan Aisyah terfokus pada sebuah benda ganjil yang berada di depan pagar rumahnya.


"Apa itu?" tanya Aisyah bingung sendiri atas apa yang saat ini ia lihat. "Surat?" karena dilihatnya berada ditempat surat maka apa lagi jika itu bukan sebuah surat.


Karena penasaran, Aisyah memutuskan turun untuk memastikan itu apakah itu benar-benar surat.

__ADS_1


Melintasi ruang makan, Ibu Amira tampak bingung melihat sang anak begitu terburu-buru keluar rumah bahkan tanpa meminta izin. "Mungkin darurat!" gumam Ibu Amira kembali fokus pada masakannya.


Dengan wajah terkejut, Aisyah mulai mengulurkan tangannya untuk meraih benda yang berwarna biru langit itu. "Ini benar-benar surat!"


__ADS_2