Seukir Tinta

Seukir Tinta
Isyhar Pulang


__ADS_3

Aqila begitu terpaku menatap wajah pria yang kini berstatus menjadi suaminya.


"Astaga, jadi inilah wajah suamiku? Kalau aku tahu wajahnya setampan ini, sejak awal aku pasti dengan suka rela menerimanya." gumam Aqila dalam hati.


Hingga deheman 2 wanita mengalihkan pandangannya. Aisyah dan Anisa mulai mendekat ingin memberikan ucapan selamat pada Aqila.


"Selamat ya, Qil. Kami doakan semoga pernikahanmu ini samawa hingga maut memisahkan." Aisyah memeluk erat Aqila. Rasa haru terjabarkan diwajah mereka.


Begitu pelukan Aisyah lepas, Anisa ikut memeluk Aqila. "Semoga kau juga segera diberi momongan." ucapan Anisa membuat wajah Aqila merona namun sebisa mungkin Aqila mengkondisikannya.


"Terima kasih atas doa-doa kalian, aku berharap semoga kalian berdua juga cepat-cepat menyusulku." Aqila tersenyum, meraih kedua sahabatnya dan saling berpelukan.


Namun itu tidak berlaku untuk seorang Hero karena baginya pernikahan ini hanyalah sebuah settingan yang mau tidak mau harus diterimanya.


"Jika bukan karena ayahnya memiliki hutang ratusan juta padaku, aku tidak akan memperistri wanita seperti dia." ucap Hero ikut bergumam dalam hati.


Pasalnya Hero terpaksa melakukan pernikahan ini, daripada uangnya hangus begitu saja. Walau Ayah Aqila memiliki kekayaan yang cukup namun ia selalu menolak membayar Hero.

__ADS_1


Melainkan menawarkan anak gadisnya sebagai penebus hutang hingga membuat Hero tidak bisa menolak. Setidaknya Aqila bisa menjadi wanita sumber mendapatkan uang.


"Jika nantinya dia tidak berguna, aku akan mengirimnya keluar negeri dan akan ku jadikan dia TKI disana." lanjut Hero diiringi seringai licik disudut bibirnya.


Sementara Aisyah yang tidak sengaja menatap Hero dengan perilaku aneh, sudah mengernyitkan keningnya. "Sepertinya ada yang tidak beres." gumam Aisyah dalam hati namun setelah itu segera menggeleng. "Tidak tidak, aku tidak boleh berpikiran buruk tentang suami baru sahabatnku. Lagi pula, aku belum tahu dia itu pria yang seperti apa." lanjut Aisyah, mencoba menetralkan prasangka buruknya.


...


Sedang ditempat lain, Isyhar yang sudah diizinkan pulang kini bersama Alex menuju ke kediaman Isyhar. Asyhar tidak sempat hadir karena memiliki kesibukan.


Mata Isyhar melebar, menelusuri pemandangan yang ada didalam sana. "Oh jadi saya berasal dari keluarga yang mapan ya, Lex?" Alex mengangguk.


"Bukan mapan lagi, Tuan. Tapi keluarga anda adalah keluarga terkaya nomor 1 di kota Malang." jelas Alex sambil menatap wajah tuannya yang sudah mengangguk dibalik kaca deshboar mobil.


Setelah mobil terparkir, Alex keluar dan berlari membukakan pintu untuk Isyhar dan memanggil beberapa penjaga.


"Kalian, cepat kalian bawa semua barang tuan Isyhar masuk ke dalam." perintah Alex yang langsung diangguki semua penjaga.

__ADS_1


Setelah menyampaikan perintah, Alex menuntun Isyhar masuk ke dalam namun baru saja pintu terbuka suara menggema menghampiri Isyhar dan Alex.


"Selamat datang, sayang." ucap seorang wanita cantik yang kira-kira berumur 40 tahunan, memeluk tubuh Isyhar dengan haru. "Oh iya nak, aku Umi Sarah. Umi Isyhar." lanjut Umi Sarah.


Tidak mau kalah, seorang pria yang tidak kalah tampannya ikut memeluk Isyhar. Seolah tidak ingin tersaingi oleh Umi Sarah. "Dan aku Abahmu, nak. Abah Abra."


Melihat kedua orang tuanya sudah memperkenalkan diri, seorang pria tampan dan wanita hamil mendekati Isyhar dan melihat itu, Isyhar mengangguk.


"Kau pasti kak Abdar, kan?" Isyhar menunjuk Abdar yang langsung saja memeluknya.


"Dasar bodoh!" hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Abdar, ia masih tidak terima dengan keadaan sang adik yang belum sepenuhnya pulih.


"Kak, kata Isyhar aku itu pintar! Bahkan waktu kecil, aku selalu mengalahkannya." ucap Isyhar setelah Abdar melepaskan pelukannya dan beralih memeluk istri kesayangannya.


"Itu memang benar, kalian memang sama-sama bodoh!" baru saja Abdar berucap kini kupingnya sudah menjadi amukan Umi Sarah yang tidak suka jika Abdar selalu merendahkan kedua saudaranya.


"Ampun Umi, ampuuuuun! Abdar hanya keceplosan!" tidak tahan melihat anaknya kesakitan, Umi Sarah melepaskan jewerannya.

__ADS_1


__ADS_2