Seukir Tinta

Seukir Tinta
Ada yang hilang


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk Aqila. Selain mengetahui berita kehamilannya, ia juga mendapat perlakuan baik dari seorang Hero.


Seperti saat ini, Aqila sedang berada di ruang makan namun kali ini bukan Aqila yang memasak melainkan Hero.


Dan melihat semua itu, Aqila menyungingkan senyumannya sambil mengusap perut ratanya dengan lembut.


"Terima kasih nak karena kehadiranmu mama akhirnya merasa dihargai di rumah ini." tidak lama raut wajah Aqila berubah sedih.


Bayang-bayang Hero yang selama ini mengata-ngatai hingga menyiksanya kembali terbanyang dalam benak. Tak terasa buliran bening jatuh dipelupuk matanya.


Sementara Hero yang baru saja selesai memasak, mengambil semangkuk sup daging ayam buatannya untuk Aqila namun ia terkejut ketika mendapat Aqila yang tengah menangis.


Cepat-cepat Hero meletakkan sup itu ke atas meja kemudian duduk disamping Aqila yang masih terisak.


"Aqila, ada apa? Kenapa kau menangis? Apakah kau ada yang sakit?" tanya Hero panik.


Sementara Aqila yang mendengar pertanyaan Hero sudah menatap suaminya dengan tersenyum. "Aku baik-baik saja."


Namun Hero tidak percaya, menurutnya tidak mungkin seseorang menangis jika tidak ada penyebabnya.

__ADS_1


"Kau bohong, kau pasti menyembunyikan sesuatu padaku kan?" Hero menatap Aqila intens dan ditatap seperti itu membuat Aqila pasrah.


"Maafkan aku, hanya saja aku masih tidak percaya dengan semua ini. Baru tadi pagi kau menghina dan mengata-ngatai ku tapi setelah ini kau memperlakukan ku sebaik ini." Aqila menunduk.


Hero terenyuh mendengar ucapan Aqila. Hero paham jika selama ini ia terlalu kasar pada Aqila dan itu semata-mata ia lakukan agar tidak mencintai wanita yang bukan pilihan hatinya.


Dengan tersenyum, Hero meraih tangan Aqila. "Maafkan aku, maaf jika selama ini aku terlalu kasar padamu. Itu semua aku lakukan agar aku tidak -- ."


"Tidak mencintaiku kan?" Aqila menyambung ucapan Hero yang langsung dijawab Hero dengan anggukan.


"Tidak perlu meminta maaf, mas. Sejak awal sampai sekarang aku tidak pernah menaruh dendam padamu walau kau menyiksa dan mengata-ngatai ku sebagai wanita matre ataupun wanita murahan, aku tidak peduli karena aku sangat berharap pernikahan kita bertahan untuk selamanya." Aqila menghela napas dengan tatapan masih menatap Hero.


Deg!


Untuk kesekian kalinya, hati Hero terasa perih mendengar ucapan Aqila. Kali ini Hero seakan mendapat tusukan berlatih ratusan kali namun Hero masih belum tahu arti dari semua itu.


"Mengapa hatiku terasa sesak bahkan mengambil napas pun aku susah." Hero menatap Aqila dalam, seakan tidak ingin mengalihkan pandangannya. "Sebenarnya pertanda apa ini?"


...

__ADS_1


Aisyah dan Anisa sedang makan bersama dengan beberapa makanan yang terhidang diatas meja.


"Ica, makasih ya atas teraktirannya." Anisa menatap Aisyah yang sudah mengangguk.


"Iya masama." tidak lama, raut wajah Aisyah cemberut seperti sedang memikirkan sesuatu. "Andai Aqila ada disini bareng sama kita pasti suasana kebahagiaannya akan menjadi lengkap." lanjut Aisyah, ia masih berharap Aqila ada bersama mereka.


"Iya Ca, andai Aqila disini." Anisa menghembuskan napas, wajah yang tadinya bahagia mendadak suram karena memikirkan Aqila. "Nis, bagaimana kalau hari ini kita ke rumah paman Adit? Siapa tahu aja Aqila masih tinggal disana." Anisa menatap Aisyah yang sudah mengangguk.


Setelah membayar makanan, Aisyah berjalan menghampiri Anisa yang sudah berdiri didepan restoran. "Yuk!" Aisyah dan Anisa sama-sama keluar.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Aisyah dan Anisa tiba di halaman rumah Aqila.


"Ca, ayo!" seru Anisa tidak sabaran ingin bertemu Aqila dan Aisyah mengangguk.


Mereka pun berjalan cepat menuju pintu rumah dan mengetuknya beberapa kali hingga pintu terbuka lebar.


"Eh non Ica, non Nisa!" ucap Mina. Baik Aisyah dan Anisa sudah tersenyum menatap Mina.


"Mina, orang rumah ada?" tanya Aqila basa-basi.

__ADS_1


"Didalam hanya ada nyonya Laura saja. Tuan Adit dan den Dirga masih diluar, masih belum datang non."


__ADS_2