Seukir Tinta

Seukir Tinta
Berita Bahagia


__ADS_3

Sedari tadi tangan lentik Aisyah sibuk mengotak-atik laptop hingga suara ponsel membuyarkan konsentrasinya.


Diraihnya ponsel tersebut diiringi senyuman indah.


"Halo, assalamualaikum Aqila." Aisyah memperbaiki posisi duduknya.


"Waalaikumsalam. Aisyah, apakah aku mengganggumu?" terdengar suara Aqila dari seberang telpon.


Aisyah menggeleng. "Tidak, kau sama sekali tidak menggangguku."


"Baguslah, oh iya aku hanya ingin menanyakan apakah besok kau akan ke kampus?"


Sejenak Aisyah tampak berpikir namun setelah mengingat ia masih perluh ke perpustakaan menambah buku referensi membuat Aisyah langsung mengangguk.


"Iya, besok aku masih ingin ke perpustakaan. Masih ada buku yang ingin aku cari."


"Syukurlah kalau begitu. Besok kita bertemu di kantin, ya? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu."


"Iya, pasti." Aisyah mengangguk dengan senyum yang mengembang.


"Kalau begitu, aku tutup telponnya dulu. Assalamualaikum." setelah menjawab salam, Aisyah meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas.


Namun pikirannya tidak tenang, mengingat Aqila yang besok ingin menyampaikan sesuatu yang entah berita apa itu.


"Sebenarnya, Aqila ingin memberitahu aku soal apa, ya? Sampai-sampai dia tidak ingin menyampaikannya melalui telpon?"

__ADS_1


Aisyah semakin bertanya-tanya karena baru kali ini, Aqila tidak seperti ini membuat Aisyah merasa aneh akan keganjilan Aqila.


...


Hari berganti lagi. Siang ini Aisyah sudah siap untuk menemui kedua sahabatnya. Tidak ingin menunggu lebih lama Aisyah langsung berlalu meninggalkan rumah.


Aisyah tidak meminta izin pada Ibu Amira karena Ibu Amira sedang ke pasar untuk membeli beberapa bahan kain.


Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Aisyah tiba di kantin kampus.


Senyumannya terukir indah kala melihat kedua sahabatnya sudah duduk ditempat biasa.


Dihampirinya Aqila dan Anisa yang tampak melambai tangan. Setelah duduk, Aisyah menatap semangkuk bakso yang sudah ada didepannya.


"Itu untukmu, makanlah." ucap Aqila yang seakan tahu maksud dari tatapan Aisyah.


"Ica, kau sehat?" pertanyaan polos Anisa lolos keluar dari mulutnya membuat Aisyah menjeda makannya.


"Maafkan aku, hanya saja hari ini aku belum makan sama sekali." jawab Aisyah apa adanya.


Aqila yang tahu kebiasaan Aisyah yang suka sarapan sebelum ke kampus langsung memperbaiki posisi duduknya.


"Emangnya Ibu Amira kemana?" Anisa lagi-lagi bertanya.


"Sejak pagi tadi, Ibu sudah keluar rumah untuk ke pasar jadinya aku belum sempat sarapan." Aisyah kembali melanjutkan makanannya.

__ADS_1


Lain halnya Aqila dan Anisa yang sudah mengangguk paham mendengar penjelasan Aisyah.


Tidak lama setelah Aisyah selesai makan, tatapannya menatap Aqila. Ia baru ingat akan ucapan Aqila semalam di telpon.


"Oh iya, Qil. Kau ingin menyampaikan apa?" Aisyah mengusap mulutnya dengan tissu.


Aqila yang tahu akan maksud ucapan Aisyah langsung meraih tasnya dan mengeluarkan undangan yang membuat Aisyah semakin bertanya-tanya.


"Aisyah, undangan ini untukmu. Hari ahad nanti aku ingin menikah dengan pria pilihan orang tuaku." ucap Aqila memberitahu.


Tidak ada angin, tidak ada badai, tiba-tiba saja Aqila menyampaikan hal tersebut.


Aisyah yang tidak pernah tahu akan Aqila yang dekat dengan seorang pria spontan melotot dengan wajah terkejut.


"Aqila tidak sedang bercanda?" tidak percaya dengan ucapan Aqila, Aisyah memilih menatap Anisa seolah meminta jawaban.


Pasalnya Aqila sering kali mempermainkan Aisyah membuat Aisyah sedikit ragu akan undangan pernikahan yang sudah ada ditangannya sendiri.


Anisa yang tidak pandai dalam berbohong langsung menganggukkan kepalanya dan itu berhasil membuat Aisyah percaya.


Dibukanya undangan tersebut dan membaca disetiap isi undangan itu lalu meraih tangan Aqila diiringi senyuman indah.


"Pasti, Qil. Aku pasti akan datang." ucap Aisyah namun tampak dari pelupuk matanya, secuil buliran bening ingin terjun membuat Aqila membalas tangan Aisyah.


"Ica, kau menangis? Apakah kau sedang memiliki masalah?" Aisyah menjawabnya dengan gelengan kepala. "Terus kenapa kau menangis?"

__ADS_1


Sebelum menjawab, Aisyah menghela napas. Berusaha menetralkan isi perasaan yang dirasakannya.


"Aku menangis bukan karena bersedih. Melainkan aku menangis karena terharu mendengar sahabatku memilih menuju ke jenjang halal dan aku sangat bangga padamu."


__ADS_2