
Isyhar menghela napas dengan tatapan menelisik langit-langit diruangan itu.
"Cukup sudah aku membebani Abah sama Umi, nanti setelah aku sembuh biarkan aku yang memberitahu mereka soal wanita itu."
Setuju akan jawaban Isyhar, Asyhar mengangguk paham. "Baiklah jika itu maumu." sambil tersenyum lebar. "Dan aku berdoa, semoga penyakitmu cepat diangkat agar aku bisa cepat-cepat mendapatkan ipar."
Keduanya sama-sama mengembangkan senyuman indah dengan wajah penuh kebahagiaan.
...
Setelah merasa tenang, Ramdan mengantar Aisyah pulang ke rumah. Setibanya didepan rumah, Aisyah menatap Ramdan.
"Mas Ramdan tidak mampir?" tanya Aisyah yang dibalas Ramdan dengan menggeleng.
"Tidak sekarang, Ica. Mas masih banyak urusan di rumah sakit." Aisyah mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Ica masuk sekarang ya Mas. Assalamualaikum." Aisyah melangkah setelah Ramdan menjawab salamnya.
Begitu pula Ramdan yang kembali masuk dan melajukan mobil untuk pulang ke rumah sakit.
Setelah memarkirkan mobil, Ramdan berjalan hingga berhenti didepan sebuah ruangan yang setiap hari ia datangi.
Dibukanya pintu itu dengan menghela napas terlebih dahulu. "Assalamualaikum." tatapan Ramdan menatap dua pria yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Asyhar dan Isyhar menjawab bersamaan.
Bila wajah Isyhar tampak bahagia, lain halnya Asyhar yang menatap Ramdan dengan tatapan risih.
"Astaga jadi inilah pria yang sudah membuat Aisyah tidak memandangku?" dalam hati Asyhar berucap.
Asyhar begitu kesal mengetahui kenyataan bila Aisyah memiliki hubungan bersama Ramdan. Pantas saja Aisyah sangat cuek terhadapnya.
Dan Ramdan yang memang memiliki maksud lain, sudah tersenyum menatap Isyhar.
"Isyhar, aku ingin menyampaikan kabar baik untukmu." dengan wajah penuh semangat, Isyhar menatap Ramdan sambil tersenyum.
"Kabar baik apa Dok?" penasaran akan kabar tersebut, Isyhar memperbaiki posisi berbaringnya.
"Aku ingin memberitahumu bila sebulan ini kau harus diberi perawatan ekstra. Kau tidak boleh banyak pikiran dan harus lebih memperbaiki pola istirahatmu." terang Ramdan panjang lebar.
Ingin segera sembuh, Isyhar langsung mengiyakan segala ucapan Ramdan dengan anggukan. "Tentu Dok karena tujuanku sekarang ingin segera sembuh." ucap Isyhar antusias.
"Nah, ini baru pasien spesialku. Aku pun mau kau segera sembuh karena aku sudah bosan melihatmu berada disini." Ramdan dan Isyhar tertawa bersama.
Namun bagi Asyhar, ucapan Ramdan sama sekali tidak lucu melainkan menyayat dihati.
"Tadi kau bilang apa? Kau sudah bosan melihat adikku?" bagi Asyhar ucapan Ramdan terdengar seolah sindiran.
__ADS_1
Ramdan dan Isyhar yang tadinya tertawa, mendadak diam kala mendengar ucapan Asyhar yang tak bersahabat.
Melihat reaksi Asyhar, Isyhar menatap Asyhar sambil menggeleng namun Asyhar lalu menatap Ramdan.
"Tidak Isyhar, omongan dia memang salah. Jika dia tidak ingin melihatmu ada disini, aku bisa kok mengganti dokter dan jika perlu aku akan mendatangkan dokter dari luar negeri untuk mengobatimu." jelas Asyhar tidak terima.
Asyhar benar-benar marah bahkan Asyhar sudah memincingkan matanya, menatap sinis Ramdan yang tampak terkejut dengan omongan Asyhar barusan.
"Maaf jika omonganku salah namun itu hanyalah sebuah candaan." Asyhar menggeleng.
"Candaan? Wah candaanmu itu benar-benar sudah kelewatan. Jika kau memang seorang dokter, kau tidak boleh berbicara seperti itu pada pasienmu sendiri." potong Asyhar cepat.
Isyhar yang dapat merasakan api amarah Asyhar lalu menatap Ramdan yang tengah menatap Asyhar.
"Aku mengerti maksud dokter tapi lebih baik dokter Ramdan pergi saja biar aku yang menjelaskan semuanya sama Asyhar." ucap Isyhar menengah dan itu langsung diangguki Ramdan.
Setelah kepergian Ramdan, tinggallah Asyhar dan Isyhar yang saling menatap dalam diam seolah berpikir akan sesuatu.
Kini tangan Isyhar telulur ingin menyentuh tangan Asyhar namun Asyhar menghindar. "Aku pulang sekarang. Assalamualaikum."
Asyhar pergi tanpa mendengar jawaban Isyhar membuat Isyhar semakin bingung akan reaksi Asyhar yang baru kali ini segitu marahnya.
"Asyhar kenapa, ya? Kenapa dia begitu marah, padahal dokter Ramdan kan hanya sekedar bercanda."
__ADS_1
Namun mendadak Isyhar mengingat ucapan Ramdan barusan membuat Isyhar langsung menggeleng. "Oh iya, aku tidak boleh banyak pikiran. Mulai sekarang aku harus memperbanyak istirahat."