
Hero yang sedang berada di dapur begitu terkejut kala mendengar teriakan Aqila. "Belum sehari saja dia sudah berulah." gumam Hero.
Setelah mematikan kompor, Hero berjalan kearah kamar Aqila dan begitu terkejut mendapat wanita itu yang kembali tertidur.
"Apa dia tidur lagi?" tanya Hero pada dirinya sendiri lalu tangannya memukul pelan pipi Aqila. "Hey! Kau sedang tidur atau pura-pura tidur?" Hero kembali bertanya.
Namun Aqila sama sekali tidak menjawab membuat Hero sudah bisa menebak jika Aqila mungkin pingsan.
Diraihnya ponsel yang ada disaku celananya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Cepat kau panggil dokter datang kemari." ucap Hero setelah sambungan telpon terhubung.
Dan tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, seorang penjaga datang membawa seorang dokter pria.
"Dok, coba kau periksa wanita ini apakah dia sungguh tidur atau hanya pura-pura tidur."
Pertanyaan Hero benar-benar terdengar lucu bagi dokter dan penjaga itu bahkan tampak dari keduanya sudah memahan tawa.
Namun melihat wajah Hero yang tampak khawatir membuat dokter itu segera memeriksa keadaan Aqila.
__ADS_1
Usai pemeriksaan, dokter yang bername tag dokter Adi itu sedang memasang wajah serius.
"Jadi bagaimana dok? Apakah dia sungguh tertidur?" tanya Hero namun dokter Adi menjawabnya dengan menggeleng. "Terus apa dok?"
"Setelah saya memeriksa keadaan istri anda sepertinya istri anda pingsan akibat kelelahan." ucap dokter Adi membuat Hero sangat terkejut.
"A-apa dok pingsan?" dokter Adi mengangguk. "Tidak mungkin dok, tadi saya bahkan mendengar dia berteriak." Hero masih tidak percaya.
Namun dokter Adi menghela napas. "Ini wajar terjadi, apa lagi kemarin anda baru saja selesai menikah bisa saja istri anda kelelahan karena sudah menyelesaikan tugasnya."
Tidak mengerti akan dari ucapan maksud dokter Adi, Hero mengernyit dengan wajah kebingungan.
"Bagaimana dia mengerjakan tugas? Kalau dari semalam saja dia selalu menyusahakan aku." gerutu Hero dalam hati. Ia sungguh tidak terima dengan kenyataan tersebut.
Setelah kepergian dokter Adi. Hero duduk disisi pembaringan Aqila dengan menatap wajah Aqila yang sedikit memucat.
"Rupanya dia benar-benar pingsan? Apakah semua itu karena semalam aku yang terlalu kasar?" lanjut Hero bahkan tangan Hero terulur menyentuh pipi Aqila.
Sedang Aqila yang sensitif ketika di sentuh, perlahan menggeliat dengan wajah terkejut. "Ka-kau siapa?" tanya Aqila, menyembunyikan wajah cantiknya didalam selimut.
__ADS_1
"Hey! Apa kau lupa aku ini suamimu!" Hero berdecak.
Aqila mulai membuka selimutnya, setelah mengingat kemarin adalah hari pernikahannya. "Oh iya, aku lupa." Aqila nyengir.
"Kau itu." Hero bangkit setelah melihat keadaan Aqila baik-baik saja namun Aqila spontan meraih tangan Hero.
"Jangan pergi! Jangan marah lagi! Dia itu hanya masa laluku dan kamu adalah masa depanku." Aqila yang ingat Hero yang semalam marah kemudian membahas masalah yang membuat suaminya itu kesal.
Hero yang mendengar itu sudah menatap Aqila yang tampak bergeliat manja dilengannya.
"Lepaskan! Mau dia masa lalumu ataupun masa depanmu itu bukan urusanku." setelah itu melepas paksa tangannya membuat Aqila mendengus kesal.
"Isss tapi sungguh aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa lagi." teriak Aqila namun Hero semakin jauh darinya.
"Baiklah, lebih baik aku bersiap-siap sekarang lalu menyiapkan segalanya untuk minsua. Lagi pula kata mama sama papa, aku harus menjadi istri yang baik dan penurut untuk suamiku." Aqila menganggung.
Setelah Aqila selesai dengan drama bersih-bersihnya, Aqila langsung keluar menuju dapur dan melihat Hero yang sudah sarapan untung saja di kamar itu sudah tersedia banyak pakaian wanita.
"Kenapa tidak menunggu ku? Aku kan juga lapar?" Aqila memanyungkan bibirnya layaknya anak kecil namun Hero masih fokus makan.
__ADS_1
Dan melihat Hero kembali dinging membuat Aqila hanya bisa menghela napas kemudian meraih piring ingin mengambil makanan namun..
"Hey! Siapa yang menyuruhmu makan di meja yang sama denganku?" Hero menatap tajam Aqila yang diam ditempat.