
Setelah menempuh perjalanan, Aqila dan Hero menuruni mobil. Banyaknya wartawan yang datang membuat Hero terpaksa menggenggam tangan Aqila dan berjalan bersama memasuki gedung.
Keduanya sama-sama mengukir senyuman indah kala semua orang menatapnya dengan sorakan meriah.
"Selamat, atas perusahaan barumu kawan." Asyhar memeluk Hero lalu menatap Aqila. "Oh iya dan kau sangat beruntung memiliki istri cantik seperti Aqila."
Tatapan Hero beralih menatap Aqila yang memang tampil sangat cantik. "Iya, kau benar."
Pesta berlanjut sangat meriah, banyaknya kolega perusahaan Hero datang memeriahkan acara tersebut hingga pemotongan kue berlangsung.
Hero yang sudah memotang kue, menatap satu persatu setiap orang yang ada disekitarnya. Dan tersenyum memberi Aqila potongan kue pertama.
"Ini, untukmu sayang." Aqila membisu mendengar Hero yang memanggilnya dengan sebutan sayang.
Aqila bahkan tidak pernah menyangka bisa diperlakukan seperti ini, buliran bening tampak membendung dipelupuk matanya.
Deg!
Ada rasa sakit yang ia dapat rasakan melihat wajah haru Aqila yang membisu. Hero meraih tubuh mungil istrinya dan memeluknya erat.
"Kau tidak boleh bersedih didepan seluruh tamuku. Apa yang akan mereka katakan jika melihatmu seperti ini." Hero berbisik ditelinga kanan Aqila.
Aqila mengangguk. "I-iya mas, maafkan aku."
__ADS_1
Aqila berusaha kuat, mencoba menetralkan perasaaanya. Ia tahu jika Hero pasti akan sangat marah jika pesta ini tidak berjalan sesuai keinginannya.
Tepukan gemurau kembali hadir, Hero menyuapi Aqila dengan penuh kelembutan. Keduanya sama-sama menyunggingkan senyuman indah.
Acara selesai, Hero dan Aqila berjalan keluar gedung. Mereka sudah ingin pulang namun langkah Hero terhenti.
Netranya menangkap seorang wanita cantik nan seksi yang sudah berjalan mendekati bahkan Hero sangat bahagia melihat kedatangan wanita tersebut.
"Hero, selamat atas kesuksesanmu. Aku turut berbahagia dengan berita ini." wanita itu mengulur tangannya, berharap Hero membalasnya.
Sementara Aqila menatap Hero dengan sorot wajah bingung bahkan suaminya membalas uluran tangan wanita tersebut.
"Terima kasih, Brenda." lama Hero menggenggam tangan Brenda membuat Brenda yakin jika mantan kekasihnya itu masih menaruh perasaan padanya.
Suara deheman Aqila membuat keduanya sadar, Hero sudah melepas tangan Brenda.
"Mas, aku lelah. Aku ingin pulang sekarang." tidak suka melihat adegan tersebut, Aqila beralasan.
Sejenak Hero menatap Aqila kemudian menatap Brenda yang masih tersenyum kepadanya. "Apa kau bisa pulang sendiri, aku masih ingin disini berbicara dengan Brenda."
Byarrrr
Hati Aqila sakit bahkan untuk bernapas Aqila sulit. Bagaimana mungkin suaminya lebih memilih bersama wanita lain dibanding dirinya. Siapakah wanita ini? Aqila dibuat semakin bertanya-tanya.
__ADS_1
Sementara Brenda mendengar Hero memilihnya, sudah menyunggingkan senyuman indah. "Bagus, ini kesempatan yang sangat baik untukku."
"Daniel!" Daniel yang tidak sengaja lewat langsung mendatangi Hero yang memanggil namanya.
"Iya tuan ada apa?" tanya Daniel lalu menatap tidak suka pada wanita yang ada dihadapan Hero.
"Aku mau kau mengantar Aqila pulang karena aku masih ingin berbicara sama Brenda." Hero tersenyum menatap Brenda yang ada dihadapannya.
"Ta-tapi tuan, aku -- " ucapan Daniel terpotong karena Hero sudah memotong perkataannya.
"Aku tidak suka dibantah atau kau mau mendapat potongan gaji." selalu saja Hero beralasan seperti itu membuat Daniel tidak bisa menolak.
Dengan tatapan ibah, Daniel menatap kearah istri tuannya. "Ayo nona biar saya antar pulang." ucap Daniel.
Sebenarnya Daniel tidak suka dengan Brenda, wanita yang sudah membuat hati Hero sakit bertahun-tahun lamanya dan muncul ketika tahu Hero sudah memiliki segalanya.
Dengan terpaksa Aqila mengangguk dan pergi bersama Daniel, meninggalkan Hero yang memilih Brenda.
Di sepanjang perjalanan, Aqila terus melamun. Pikirannya selalu mengingat Hero. Apa dan sedang melakukan apa Hero sekarang? Begitulah isi kepala Aqila.
Hingga tak terasa Daniel sudah tiba dan segera turun membukakan pintu untuk Aqila. "Silahkan nona, kita sudah sampai."
Aqila yang melamun bahkan tidak sadar jika mereka sudah tiba. Tatapannya menatap senduh rumah yang ada didepannya.
__ADS_1