Seukir Tinta

Seukir Tinta
Pulang


__ADS_3

"Kalau begitu saya dan Ica pulang sekarang dan terima kasih atas jamuan makan malamnya." Ramdan menatap semua orang yang sudah bangkit dari duduknya.


"Iya dok, sering-seringlah kemari bersama Ica." Umi Sarah memeluk Aisyah, rasa akrab sudah terpancar begitu jelas dari raut wajah keduanya. "Dan Ica harus selalu jaga kesehatan ya, sayang?"


"Iya Umi."


Aisyah beralih memeluk Ara yang tampak memasang wajah sedih. Kehamilannya ini membuatnya sangat sensitif.


"Kau jagalah kesehatanmu dan jangan meminta mas Abdar ke rumah lagi biar aku yang datang kesini jika kau merindukanku." tangan Aisyah turun mengusap perut Ara. "Aku tidak ingin sampai membuat keponakanku kelelahan."


Tes!


Dan tak terasa buliran bening Ara terjatuh kala ia mengangguk, mengiyakan segala ucapan Aisyah. Bahkan semua orang sudah dibuat terharu melihat adegan tersebut.


Setelah berpamitan, Aisyah dan Ramdan langsung keluar rumah. Tanpa mereka sadari seorang pria tampan menatap kepergian Aisyah dari balkon kamar.


"Aku tidak tahu ini perasaan apa tapi setiap kali aku melihatnya rasa aneh itu muncul lagi." Isyhar menghela napas sambil memegang jantungnya yang lagi-lagi berdetak tak karuan.


Setelah melihat mobil Ramdan keluar gerbang, Isyhar menyunggingkan senyumannya. "Dan ku harap, kita akan berjumpa lagi."


...


Ramdan dan Aisyah sudah tiba di depan rumah, dipandanginya Ramdan dengan memasang wajah yang seimut mungkin.

__ADS_1


"Jadi Ica masuk sekarang, nih?" tanya Aisyah sekali lagi karena sejak tadi Aisyah terus merengek untuk ikut ke rumah sakit.


"Cepet masuk!" ucap Ramdan tegas membuat Aisyah melangkah pergi namun sekali lagi berbalik.


"Mas, Ica masih belum mau pulang. Ica mau balik ke rumah sakit lagi." Aisyah bergelayut manja dilengan Ramdan namun Ramdan masih tetap kokoh.


"Tidak boleh kalau Ica ke rumah sakit, Ibu masa ditinggal sendiri." Aisyah langsung menggeleng dengan wajah penuh keseriusan.


"Tidak mas, Ibu tidak tinggal sendiri kan ada jahitan yang selalu menemani Ibu." Aisyah mencoba membuat Ramdan yakin.


"Ish kau itu, emang jahitan bisa bicara seperti Ica." Ramdan melepas tangan Ica kemudian membalikkan tubuh mungil itu untuk masuk.


dengan wajah bersedih, akhirnya Aisyah melangkahkan kakinya dengan terpaksa. Berbeda dengan Ramdan yang tampak memikirkan sesuatu.


"Apa mas, Ica bisa ikut?" wajah yang tadinya sedih mendadak senang karena Aisyah sudah yakin bila Ramdan akan mengizinkannya untuk ikut ke rumah sakit.


"Bukan itu, hanya saja mas ingin bertanya sesuatu apa boleh?" walau kecewa, Aisyah mencoba bersikap tenang.


"Boleh." Ramdan memengan kedua bahu Aisyah lalu menatap mata indah itu tanpa berkedip.


"Mas ingin bertanya apakah sebelumnya Ica kenal sama Isyhar?"


Deg!

__ADS_1


Mendengar nama itu saja mampu membuat debaran jantung Aisyah kembali tidak beraturan. Entah apa yang sudah terjadi padanya.


Aisyah masih tidak berkutik, memangang jantungnya yang terasa berbeda dari sebelumnya. Masih dengan menatap Ramdan.


Sedang Ramdan yang melihat keanehan Aisyah ikut bingung. "Ica, ada apa?" Ramdan tahu Aisyah sedang melamun mencoba menyadarkan.


"Ti-tidak apa-apa mas!" Aisyah tersenyum, mencoba menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan.


"Oh mengenai mas Isyhar, Ica baru hari tahu kalau pasien spesial yang selama ini mas Ramdan bicarakan adalah mas Isyhar, kembaran dari pak Asyhar."


Mendengar sebutan Aisyah yang berbeda kala menyebut nama Isyhar dan Asyhar berbeda membuat Ramdan tertawa.


"Ica itu lucu sekali." Ramdan mengusap pelan kepala Aisyah membuat Aisyah bingung.


"Loh kok lucu sih mas? Ini Ica lagi serius bukannya ngelawak." ketuk Aisyah.


"Iya, Ica itu sangat lucu. Nama Asyhar dan Isyhar masa dipanggil dengan sebutan yang berbeda, Isyhar dipanggil mas sedang Asyhar sebutan pak, astaga!".


Dan mendengar itu Aisyah juga ikutan tertawa, "Siapa suruh pak Asyhar dosen Ica."


...


Setelah belajar seharian full, seorang wanita cantik tersenyum puas kala menatap beberapa hidangan dibuatnya sudah berada diatas meja makan.

__ADS_1


"Memang benar kata pepatah jika kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Buktinya saja Aqila bisa memasak." Aqila tersenyum bangga.


__ADS_2