
Pagi sudah menjelang, sinar mentari sudah memasuki celah-celah setiap sudut diruangan itu. Menampakkan pasangan suami istri yang masih terlelap.
Merasa sinar mentari menerpa tubuhnya, seorang pria mengerjap, mencoba memfokuskan matanya kesana-kemari.
"Oh ya ampun ternyata hari sudah pagi." gumam Hero. Ia lalu menatap kesamping dan begitu terkejut mendapat Aqila yang tidur disana. "Aqila, kenapa dia bisa disini?"
Karena terkejut, Hero langsung membangunkan Aqila dengan memukul bahunya. "Aqila, ayo bangun!"
Aqila yang dipanggil langsung mengerjap, melihat Hero yang sudah menatapnya dengan sinis. "Sedang apa kau di kamarku?" tanya Hero lagi namun Aqila bungkam.
Kesadarannya masih belum sepenuhnya pulih, ia masih bingung harus menjawab apa namun Aqila memilih duduk. "Aku aku -- " Aqila yang sudah ingat, tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku apa?" bentak Hero namun Aqila membisu.
Melihat itu semua, Hero yang emosi memilih bangkit dari pembaringan. Ingin berjalan masuk ke toilet namun langkahnya terhenti ketika tubuhnya terasa dingin. "Apa jangan-jangan -- ."
Dengan tatapan ragu, Hero menunduk dan melihat tubuhnya yang tidak memakai apapun.
"Ahhhhhhhh!"
Hero berteriak, menatap tubuhnya polos itu lalu menutupi bagian intimnya. Tatapannya kemudian menatap Aqila yang menutup mata.
"Tunggu, ada apa ini? Kenapa aku bisa telanjang seperti ini?" Hero bergumam. Segera berjalan kearah almari untuk mengambil setelan pakaian.
__ADS_1
Setelah tubuhnya sudah tertutup semua, Hero berjalan kearah Aqila yang masih menutup mata. Hero yakin jika Aqila pasti tahu segalanya.
"Cepat buka matamu dan jelaskan kenapa aku bisa seperi tadi?"
Mendapat tatapan tajam membuat Aqila sedikit ragu untuk menjawab. "Semalam kita -- ." Aqila menunduk, ia benar-benar sangat takut.
"Semalam kita apa?" Hero kembali berteriak. Aqila yang dibentak semakin takut.
"Ma-maafkan aku." mendengar Aqila meminta maaf membuat Hero menerka-nerka apa yang sudah terjadi.
"Apa semalam kau menyentuhku, jawab!" untuk kesekian kalinya Hero membentak Aqila.
"Maafkan aku, aku melakukan semua itu untukmu. Aku tidak tega melihat -- ."
Sedang Aqila yang disuruh mengangguk, segera berjalan meninggalkan Hero dengan selimut yang masih dikenakan untuk menutupi tubuhnya.
Hero yang tidak habis pikir akan terjebak dalam situasi seperti ini, sudah mendudukkan dirinya kembali ke pembaringan. "Sial, beraninya dia menjebakku." sambil mengacak-acak rambutnya.
Tatapan Hero lalu tertujuh pada sebercak darah segar yang tidak jauh darinya dan Hero tahu tanda apa itu. "Dia akan menanggung akibatnya sendiri."
...
Hari demi hari berlalu begitu cepat dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini adalah jadwal ujian Aisyah.
__ADS_1
Aisyah keluar dari sebuah pintu gedung dengan hati penuh kegembiraan. Dilihatnya Anisa yang tersenyum menghampirinya.
"Akhirnya tahap ini sudah kau lewati duluan. Selamat ya Ica?" Anisa meraih tubuh Aisyah dan memeluknya. Tatapan haru terpancar dari keduanya.
"Alhamdulilah, semoga kau juga segera menyusulku bersama Aqila." Anisa melepas pelukannya diiringi helaan napas.
"Aamiin tapi Aqila sekarang bagaikan ditelan bumi. Sudah hampir sebulan ini dia tidak pernah masuk kelas bahkan mengabariku saja dia tidak pernah." gerutu Anisa dengan wajah cemberut.
"Kau benar." Aisyah membenarkan dan itu hanya membuat keduanya sama-sama bersedih.
Namun karena ini adalah hari kebagiaan Aisyah, Anisa tidak ingin melewatkan hari ini begitu saja.
"Daripada memikirkan Aqila terus, bagaimana kalau kita pergi mall. Sudah lama kita tidak pergi nonton film sama makan bersama." Aisyah langsung mengangguk.
Dengan tersenyum lebar, keduanya pergi begitu saja. Bagaikan tidak ada lagi beban diantara mereka.
Berbeda halnya dengan Aqila, setelah kejadian itu Hero selalu menghukumnya bahkan Hero tidak segan-segan menyuruh istrinya berbuat apa saja.
Seperti saat ini, Aqila sedang memotong rumput yang ada dihalaman depan rumah Hero.
"Nona, sini biar saya saja yang lanjutkan. Kasihan nona Aqila yang sudah hampir sebulan ini selalu mengerjakan tugas saya." ucap Toni yang ingin mengambil alih pekerjaannya.
Aqila menggeleng. "Tidak Ton, aku tidak apa-apa. Aku memang pantas mendapatkan hukuman ini dari Hero. Dia pasti sangat kecewa."
__ADS_1