Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(11) Fobia


__ADS_3

"Maaf kak, aku tidak sengaja"


"Sudah, aku mau tidur" ucap Alex ketus, ia berbaring di atas ranjang, menjaga jarak dari Raina yang masih berdiri di depannya.


Alex melotot waspada, Raina kembali mendekat padanya.


"Aku hanya mau ngambil ini" lirih Rain meraih bantalnya dan boneka pandanya. Lalu, Raina berbaring di lantai beralaskan selimut tebal. Raina menatap Alex dari bawah, pria itu terlihat sangat tampa dengan mata terpejam.


'Kamu adalah bintang, jauh dan sangat, berkilau. Bahkan kamu adalah pantulan bulan di dalam air, dekat tapi tidak bisa di raih' batin Raina. Ia tersenyum, lalu memejamkan matanya mulai menyusul Alex ke alam mimpi.


KringggGgg!!!!!!!!


Alarm di ponsel Raina berdering sangat kuat, Alex sampai terperanjat kaget, mendengar nya.


Raina cepat cepat menggapai gapai ponselnya untuk mematikan bunyi alarm.


"Jam berapa sekarang? " tanya Alex datar.


"Maaf kak, sekarang baru jam 5. Aku sengaja menyetel nya " ucap Raina nyengir.


"Huh" mendengus, ia kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya.


Raina membereskan selimut dan bantalnya, lalu mendekat pada Alex.


"Kak.... " ucap Raina pelan membangunkan Alex.


"Hmm... " sahut Alex membuka matanya malas, ia menatap wajah Raina yang terlalu dekat dengan wajahnya.


"Hari ini, ibu mau bagi bagi nasi kukus untuk anak yatim dan jalanan, ini adat dan tradisi untuk pengantin baru" jelas Raina.


Alex tak menjawab, ia hanya menatap Raina datar. Gadis itu kembali nyengir, adat dan tradisi itu dilakukan untuk pernikahan orang yang sungguhan, sedangkan mereka hanya karena perjodohan dan karena ingin menyelamatkan Alex dari mafia itu.


"Hem... itu untuk pernikahan sungguhan, heheh.. kak Alex boleh tidur lagi" ucap Raina nyengir. Alex kembali memejamkan matanya.


Raina masuk ke dapur, melihat ibunya sudah selesai membungkus beberapa bungkus nasi.


"Lah ibu, kenapa tidak menunggu Raina untuk membantu ibu"


"Tidak apa apa Sayang, ini tidak terlalu banyak" jawab Susi tersenyum.


"Ya sudah, Raina mandi dulu sebentar. Nanti Raina akan bantu ibu membagikan nya" Ucap Raina, lalu bergegas kembali ke kamar nya.


Nasi kukus sudah tersusun di keranjang, Susi menuliskan secarik surat di atasnya. Raina sudah siap untuk membantu ibunya, namun ia hanya melihat sekeranjang nasi kukus dan secarik kertas.

__ADS_1


"Lah, gimana mau antar sama kak Alex. Orang dia masih tidur" keluh Raina cemberut.


"Siapa yang masih tidur? " sahut Alex dingin. Raina menoleh pada Alex, matanya melebar melihat Alex sudah siap dengan stelan casual dan terlihat sangat tampan.


"Sejak kapan kak Alex bangun? "


"Apa aku terlihat semalas itu? sehingga jam segini kamu kira aku masih tidur"


"Hehhe.. " balas Raina menggeleng pelan.


Alex melirik nasi kukus, "Kemana akan di antar? " tanya Alex.


"Hem... Kak Alex mau ikut, mengantarnya? " tanya Raina tak percaya.


"Aku tunggu di depan" jawab Alex dingin. Lalu pergi ke depan lebih dulu.


"Kak Alex mau menemani ku??? benarkah? " Raina ke girangan, meski ini adalah pernikahan yang tidak di inginkan. Raina tetap merasa senang karena mereka melakukan semua tradisi yang orang lain lakukan untuk pernikahan nya.


"Terimakasih Tuhan" batin Raina berlari ke depan menyusul Alex dengan membawa keranjang nasi kukus.


Tiba di depan, Alex membantu Raina meletakkan keranjang pada keranjang depan motor pembawa barang Raina. Lalu mereka pergi ke alamat yang sudah Susi tuliskan.


"Katakan arah nya kemana" ujar Alex, ia mengendarai motor tidak terlalu laju.


"Baiklah" sahut Raina memeluk pinggang Alex dari belakang, senyum lebar tak pernah pudar dari bibirnya.


Alex ikut tersenyum, udara di perkampungan rumah Raina masih terasa asli. Entah mengapa Alex merasa hatinya menjadi temang dan damai.


"Kak.. berhenti di depan sana" ucap Raina menunjuk palang nama panti asuhan Azutlra Damai. Alex pun berhenti tepat di depan gerbang panti asuhan itu.


Raina langsung turun dan mengambil keranjang nasi kukus, lalu membawanya masuk ke dalam panti yang sudah di sambut oleh pengurus panti.


"Nak Raina, sudah lama tidak keliatan" ucap Ibu panti.


"Iya bu, Raina akhir akhir ini banyak kerjaan" jawab Raina sembari memperbaiki posisi poninya.


"Wahh, itu suaminya yah Kak? " tanya Anak panti yang lebih muda dari Raina.


"Tampan yah nak" sahut bu Panti.


"Hehehe.. makasih bu" jawab Raina ikut tersenyum. Ia ikut menoleh pada Alex yang membalas tatapannya datar, membuat Raina cepat cepat berpamitan dengan ibu panti.


"Ya sudah bu, Raina pulang dulu"

__ADS_1


"Ya sudah, hati hati yah nak" jawab bu panti.


Raina pun langsung berlari menghampiri Alex, mereka kembali melaju pulang. Tiba di perjalanan, Raina meminta Alex untuk berhenti di tepi pantai yang terlihat sangat indah.


"Kak, kita mampir sebentar yah" pinta Raina.


"Hem.. " sahut Alex, ia membelokkan motor menuju pinggir pantai, menatap Raina yang langsung berlari ke pinggir pantai dan bermain air dengan kakinya.


Alex duduk di atas pasir, ia menggeleng melihat Raina seperti anak kecil.


"Kenapa kamu seperti itu mainnya, langsung masuk dan berenang lah" ujar Alex.


"Tidak mau" ucap Raina, ia terus bermain air seperti tadi. Membuat Alex memiliki ide untuk kembali mengerjai Raina. Alex bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Raina.


"Ehh. Kak Alex.. jangan, jangan!! " teriak Raina meronta ronta ketika Alex menggendong nya dan membawanya ke dalam air.


"Kak Alex aku mau naik, Kak Alex!! hiks... " Teriakan Raina berubah menjadi ia akan tangis.


"Hei... ini tidak dalam. Ini masih dangkal"


"Hiks... hiks... "


"Hei.. ada aku di sini, kenapa kamu nangis? " Alex menatap bingung pada Raina yang memeluknya sangat erat, tubuh Raina bergetar kuat. Alex menggendong Raina kembali ke tepi pantai, lalu mendudukkan Raina ke atas pasir. Ia masih terisak, tubuhnya bergetar ketakutan.


"Kamu kenapa?? " tanya Alex penasaran.


Raina tidak menjawab, ia hanya menggeleng sembari terisak.


"Apa kamu tidak bisa berenang? " tanya Alex lagi.


"Aku bisa berenang" jawab Raina.


"Apa kamu ada fobia? " tanya Alex lagu, entah mengapa ia menjadi begitu penasaran.


"Hem.. " jawab Raina, Alex tak bertanya lagi, ia tidak tahu soal ini.


"Maaf" sesal Alex.


"Tidak apa apa" jawab Raina, ia tidak menyalahkan Alex. Hanya saja bayangan tentang Alex jatuh ke dalam laut masih membekas di dalam benaknya, bayangan ketika nafasnya mulai habis ketika di dalam laut.


"Ayo kita pulang" ucap Alex sembari menggendong tubuh Raina ke atas motor.


"Berpegangan, aku akan sedikit lebih lanjut" ucap Alex menarik tangan Raina agar memeluk pinggang nya.

__ADS_1


Raina memberikan jarak antara tubuh nya dan tubuh Alex, ia takut jika alek mendengar suara detak jantung nya yang berdetak sangat cepat.


...----------------...


__ADS_2