
Seorang pria tampan memasuki perusahaan yang sudah hampir 3 bulan ia tinggalkan. Rio Kiansiano adalah kepala devisi keuangan di perusahaan AMD group. Karena ada tugas dari Dion selaku pamannya ke luar negeri, membuat Rio kiansiano yang selalu ingin di panggil Kian itu tidak terlihat di kantor.
Kian berjalan santai menuju ruangannya, ketika melewati lantai dimana devisi desain bekerja, Kian tertegun melihat seorang wanita yang tak asing di matanya. Kian berhenti, ia memperhatikan wanita itu secara mengingat ingat dimanakah ia melihat wanita itu.
"Ada yang bisa saya bantu pak? " tanya Dewi menghampiri pria yang sejak tadi berdiri menatap ke arah mereka. Raina yang sejak tadi menunduk lesu sembari meniup niup sikut nya pin ikut menoleh.
Kian melirik Raina yang juga menatap ke arahnya, mata Kian menangkap luka yang ada di lengan dan sobekan kecil di lutut Raina. Ketika mata mereka bersirobok pandang, Kian baru ingat dimana ia bertemu dengan Raina.
"Tidak ada yang perlu di bantu" ucap Kian tanpa menoleh pada Dewi, matanya masih menatap lurus pada Raina yang sudah menunduk menghindari tatapan darinya. Lalu Kian pergi begitu saja dari sana.
"Ada apa dengan nya? " gumam Dewi menatap kepergian Kian.
"Eh Raina, seperti nya pria itu menatap mu" ucap Dewi duduk di samping Raina, karena memang meja mereka bersebelahan.
Raina kembali meniup niup siku nya, ia mengacuhkan ucapan Dewi. Mana mungkin pria yang bergaya seperti seorang boss itu mengenal dirinya.
"Raina!!! apa kamu tidak mendengarkan ku? " ujar Dewi kesal, karena Raina tak kunjung menyahuti nya.
"Aduh Dewi, coba kamu pikir deh. Mana mungkin orang seperti dia mengenal ku. Ada ada saja" gerutu Raina, suasana hatinya sedang tidak baik sekarang. Dewi hanya nyengir, betul juga apa yang Raina katakan. Jika pria itu kenal dengan Raina, tentu saja kenal juga dengan dirinya.
Tiba di ruangannya, Kian langsung memanggil asisten nya.
Ceklek.
Gio memasuki ruangan Kian. "Ada apa bos memanggil saya? " tanya Gio.
"Kamu tahu siapa gadis yang ada di bawah sana? " tunjuk Kian pada Raina. Gio mengikuti arah tunjuk tangan Kian, ia mengerut menebak antara Raina atau Dewi.
"Gadis yang sedang meniup sikunya" tambah Kian. Gio kembali menatap Kian.
"Dia adalah Raina boss, salah satu pegawai pilihan Dari anak cabang perusahaan kita yang di gabungkan ke perusahaan ini. " Jelas Gio.
"Ohh baguslah" gumam, Kian secara spontan. Gio yang mendengar nya menautkan keningnya.
__ADS_1
"Bagus apa nya bos? " tanya Gio. Kian pun tersadar, ia menormalkan ekspresi nya yang semula tersenyum senang. Tak jauh beda dengan Alex, Kian adalah salah satu bos dingin yang sangat jarang tersenyum apalagi bicara.
"Panggilkan dia keruangan ku" titah Kian, matanya masih saja menatap luruh kearah Raina. Ruangan kerja di perusahaan ini hanya di batas batasi dengan dinding kaca saja. Mereka bisa melihat ke luar ruangan tanpa hambatan, namun tidak mendengar suara dari luar, maupun suara dari dalam.
Meskipun ada begitu banyak pertanyaan di benaknya, Gio tetap pergi memanggil Raina.
"Nona Raina, bos Kian memanggil mu" ucap Gio.
Raina kaget, ia menghampiri pria yang ia tahu adalah asisten kepala Devisi keuangan.
"Mengapa Kepala keuangan memanggil ku? " tanya Raina setengah berbisik. Dewi juga ikut berdiri di samping Raina, ia ikut penasaran mengapa asisten kepala keuangan menemui sahabatnya.
"Ada apa? " bisik Dewi pada Raina. Gadis itu menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.
"Nanti anda juga akan tahu nona, silahkan ikuti saya" ucap Gio dingin.
"Huh.. dasar pria sombong" cibir Dewi, Gio yang mendengarnya melebarkan mata. Bisa bisanya gadis itu memanggilnya dengan seperti itu. Ingin rasanya Gio berbalik dan memaki gadis itu. Tapi di urungkan nya, nanti ia akan urus gadis judes itu.
Raina menunduk takut, ia tidak tahu mengapa kepala keuangan memanggilnya.
"Bapak memanggil saya? " tanya Raina tidak berani menatap Kian. Hingga deheman keras dari Kian membuat Raina kaget dan mengangkat kepalanya.
"Maaf, pak" lirih Raina cepat cepat kembali menundukkan kepalanya. Ia menyadari jika pria yang menatapnya tadi adalah kepala keuangan.
"Siapa nama mu? " tanya Kian dengan nada dingin.
"Ra-ina pak" jawab Raina gugup.
"Apa kau tidak di ajarin sopan santun?? "
"Huh?? " Raina menatap Kian. Ia kaget mendengar penuturan Kian.
"Nah begini, kalau bicara itu, biar sopan lihat lawan bicara mu" tegur Kian, membuat Raina mengangguk pelan, ia menyadari kesalahannya sekarang.
__ADS_1
"Maafkan saya pak" lirih Raina dengan nada menyesal.
"Tidak masalah" balas Kian, pria itu bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekat pada Raina yang berdiri di depan mejanya. Raina yang melihat pergerakan Kian, membuatnya semakin gugup. Raina berjalan mundur ketika Kian semakin mendekat padanya.
"Apa yang akan bapak lakukan? " tanya Raina menunduk takut, jarak Kian tinggal 2 langkah lagi dari nya. Kian tak menjawab, ia meraih sikut Raina dan mengangkatnya sedikit.
"Apa sesuatu terjadi pada mu?? mengapa luka mu tidak kau obati?? jika infeksi, perusahaan tidak akan memberikan mu asuransi apapun" ucap Kian dengan nada dingin. Ia menahan lengan Raina ketika gadis itu menarik lengannya dari tangan Kian.
"Tetap diam" titah Kian, pria itu menarik Raina ke sofa, lalu mendudukkan nya di sana. Kemudian Kian kembali berdiri dan bergegas mengambil kotak P3K di salah satu lemari kecil di belakang meja kerjanya.
"Berikan siku mu" titah Kian lagi. Raina tidak mendengarkannya, ia tetap diam saja.
"Eh.. " Kian menarik paksa siku Raina, lalu mengobatinya dan memberikan Ansaplas untuk menutupi luka itu.
"Sekarang kamu baru bisa bekerja dengan baik" ucap Kian tersenyum tipis. Raina menatap sikunya, ia hanya menunduk takut.
"Maafkan saya pak, saya sudah merepotkan bapak" ucap Raina bangkit dari duduknya.
"Raina, jangan panggil saya bapak. Saya tidak setia itu" gerutu Kian.
"Maaf Pak.. eh hm.. saya tidak tahu harus memanggil siapa. Di kantor bapak,, eh.. pokoknya panggil bapak saja" putus Raina di buat bingung oleh Kian.
'Sungguh gadis yang polos'batin Kian.
Dari luar, Alex baru saja keluar dari ruangannya. Tidak sengaja pria itu mengedarkan matanya pada ruangan Kian yang berada di sebrang ruangannya. Mata Alex semakin melebar ketika melihat Raina ada di dalam ruangan Kian. Langkah kaki Alex tiba tiba melebar menuju ruangan Kian.
"Eh eh... Alex mau kemana? " tanya Justin yang melihat Alex dari dalam ruangannya.
"Eh iya, tumben dia mau ke ruangan Kian " sahut Ega.
"Heh, kalian gak lihat. Ada Raina di dalam ruangan Kian" ujar Justin. Kedua temannya langsung meneliti ruangan Kian dan mencari keberadaan Raina di sana. Benar saja, Raina tengah duduk bersama Kian di sifa milik Kian.
"Buset... seperti nya akan ada perangkat lagi ni" celetuk Ega.
__ADS_1