
Pagi harinya, Raina terbangun dalam keadaan tidur yang sangat puas. Ada sedikit keganjilan di pikiran nya. Sejak tadi gadis itu menggeliat di atas tempat tidur nya. Mengapa alarmnya tidak berbunyi?? padahal matanya sudah terasa sangat puas dalam tidur. Raina bertanya dalam hati, jika pagi belum tiba mengapa ia terbangun pagi sekali?? bahkan alarmnya masih belum berbunyi.
Angin berebut sedikit lebih kencang, memasuki sela sela jendela kamar Raina. Betapa kagetnya Raina ketika sinar matahari mencuri masuk ke dalam kamarnya.
"Sinar matahari? " bengong Raina. Ia langsung beranjak dari tempat tidurnya, berhambur membuka gorden.
"Sudah Siang?????? " teriak Raina melihat matahari sudah bersinar terik. Ia melirik jam nya di atas nakas. Jam itu menunjukkan pukul setengah 10. Kedua bola mata Raina membulat, ia sangat terlambat.
"Hampir jam sepuluh!! " teriak nya, Raina berhamburan masuk ke kamar mandi. Melakukan semua hal secara kilat.
Sementara di dalam ruangannya Alex tersenyum miring, ia tidak bisa membayangkan bagaimana histeris nya Raina ketika bangun dan mendapati waktu sudah siang.
Alex melirik meja Raina, betapa kagetnya dirinya mendapati gadis yang seharusnya masih tidur duduk di meja kerja nya dengan nafas terengah. Alex cepat cepat mengalihkan pandangan nya ketika mata bulat Raina melirik padanya.
"Mampus... Dia sudah datang" batin Alex harap harap cemas, Raina pasti mengamuk padanya.
"Ini pasti ulah pria kulkas itu!! " gumam Raina dalam hati, ia melirikAlex dari mejanya.
"Raina, tumben sekali kamu telat" sapa Ega.
"Benar, biasanya kamu paling cepat datang" sahut Jiandi.
"Huhh... begini ni kalo pegawai rajin kalo terlambat sekali. pasti keliatan" celetuk Raina sombong.
"Idihh gak adek, gak kakak sama aja" sahut Justin.
"Menurut ku, mereka tidak saudara" balas Ega.
Deg.
"Memang tidak!! " sahut Raina kesal.
"Tuh kan, bener" ketiga pria itu langsung mendekat pada Raina, menatap gadis itu dengan tatapan penasaran.
"Siapa yang mau saudara dengan bos kalian itu" ucap Raina lagi, membuat mereka mendesah kecewa. Raina benar-benar menyebalkan.
__ADS_1
"Aku rasa mereka memang saudara. Menyebalkan nya persis" sungut Jiandi.
"Dasar, om om rempong" ledek Raina kesal. Lalu gadis itu bangkit dari duduknya. Raina baru ingat, Erjo tadi menghubungi nya dan meminta nya untuk menemui CEO.
Tuk!!! Tuk!!!
Raina mengetuk pintu ruangan Dion, terlihat dari luar Erjo sudah ada di dalamnya.
"Itu nona Raina sudah datang" ucap Erjo. Dion mengangguk, dia menggerakkan jarinya agar Erjo mempersilahkan Raina masuk ke dalam ruangan.
"Silakan masuk Raina, tuan Dion sudah menunggu mu" ucap Erjo tersenyum ramah.
"Terimakasih" balas Raina menunduk sopan. Gadis itu masuk dan duduk di kursi depan meja kerja Dion. Sementara Erjo berdiri di samping Dion.
"Nona Raina, saya tidak akan basa basi lagi. Kita akan langsung ke inti pembicaraan" ucap Dion serius.
"Baik lah boss besar" jawab Raina.
"Apa kamu yakin, akan melakukan tugas yang sudah kita bicarakan kemarin? " tanya Dion lagi, ia harus memastikan jika Raina melakukan ini atas keinginan nya sendiri bukan karena terpakai. Karena tugas ini sangat berbahaya.
"Apa saya boleh tahu, mengapa Anda seyakin ini? "
"Sejujurnya ada hal lain yang membuat saya ingin melakukan nya. " Raina menarik nafas dalam, lalu kembali menghembuskannya.
"Pertama demi reputasi Alex agar tidak kehilangan proyek ini, dan untuk yang kedua saya tidak bisa menjelaskannya" jelas Raina. Dion mengerti, ia juga sudah menyelidiki tentang Raina.
"Saya yakin anda sudah tahu jika saya adalah istri Alex" lirih Raina, membuat Dion sedikit tercekat, Dion semakin yakin jika Raina bukan gadis sembarangan.
"Bagaimana kau tahu? " kaget Erjo.
"Haii... bagaimana boss besar memiliki asisten sebodoh dia" cibir Raina. Tentu saja dia tahu, mana mungkin Dion tidak mencari tahu tentang dirinya terlebih dahulu.
"Erjo jangan membuat ku malu" bisik Dion.
"Tapi, aku penasaran boss" balas Erjo juga berbisik.
__ADS_1
"Ehh.. berbisik?? tapi aku denger lah" gerutu Raina lagi. Ia mulai berpikir, bagaimana mungkin perusahaan sebesar AMD bisa berdiri dengan bos bos aneh seperti mereka.
"Huhh... Aku tidak sebodoh itu Erjo, aku yakin kalian pasti mencari tahu tentang profil ku. Meskipun aku menyembunyikan dari semua orang. Tetapi pemerintah tetap tahu, dan orang besar seperti tuan Dion pasti sangat mudah untuk mencari tahunya. " jelas Raina.
"Oooo" ujar Erjo mengerti.
"Dasar bodoh"
"Kauu... " geram Erjo melotot pada Raina. Tak mau kalah, Raina malah ikut melotot membalas tatapan Erjo.
"Sudah sudah, sekarang kembali ke topik pembicaraan" lerai Dio.
"Apa rencana mu untuk mendekati Dave? " tanya Dion menatap Raina serius.
"Aku akan memikirkannya nanti, tapi sebelum itu aku memiliki sebuah keinginan" ucap Raina.
"Apa? " tanya Dion. Erjo pun ikut penasaran.
"Tolong rahasiakan pernikahan ku dengan Alex, dan utus aku kerja keluar dari kantor. Jangan beritahu siapapun tugas ini. Termasuk Alex. katakan saja semua ini tidak di lanjutkan, atau boss sendiri yang mengurusnya"
Dion melirik Erjo, ia penasaran mengapa Raina meminta seperti ini.
"Kenapa? " tanya Dion kembali menatap Raina.
"Jika nanti kamu dinas Luar, maka semua orang akan mengira kamu berkhianat dari kami. Dan kamu akan buruk di mata teman teman mu" sela Erjo.
"Itu yang aku ingin kan" balas Raina tersenyum misterius. Diin dan Erjo kembali saling menatap.
"Jika mereka tahu tentang misi ku, maka lambat laun semuanya akan terbongkar dan akan menjadi bahaya untuk ku. Akan terlihat alami jika orang didalam perusahaan ini juga ikut membenci ku. " jelas Raina. Dion dan Erjo mengangguk paham, beruntung sekali Alex mendapatkan istri sepintar Raina. Meskipun terlihat dari luar gadis itu terlihat polos dan lugu.
"Baiklah, aku percayakan kepada mu" ucap Dion. Raina mengangguk hormat.
"Kalau begitu saya permisi boss" pamit Raina.
...----------------...
__ADS_1