Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(50) Aku mohon, selamat kan...


__ADS_3

Tapp... Tapp....


Langkah kaki Raina menggemah di lorong rumah sakit, tubuh tak berdaya sang ibu berada di punggung nya. Entah dapat kekuatan dari mana Raina mampu menggendong sang ibu.


"Dokter!! Dokter!! " teriak Raina ketika ia sampai di depan ruang UGD.


"Tolong ibu saya Sus, selamat kan, tolong selamatkan ibu saya" mohon Raina histeris. Suster mengambil alih tubuh Susi, lalu membawa masuk ke ruangan agar di periksa.


"Mohon tunggu di luar yah mbak" ucap Suster itu menahan Raina yang ingin ikut masuk ke dalam. Lalu suster itu menutup pintu rapat.


"Tolong selamatkan ibu saya Sus" mohon Raina. Tubuhnya tubuhnya masih bergetar, Raina duduk di kursi tunggu dengan gelisah.


"Tante Siren" Gumam Raina ingat pada mantan mertuanya. Ia harus memberitahu Siren kabar ini.


"Hallo tante... " ucap Raina dengan suara bergetar ketika Siren menerima panggilan darinya.


"Raina, ada apa?? mengapa kamu menangis sayang? " jawab Siren di sebrang sana terdengar panik. Raina tak sanggup mengatakannya, hanya isak tangis yang terdengar oleh Siren.


"Sayng tenang, coba katakan perlahan" ucap Siren lagi.


"Tantee.... Ibu... I-Ibuu"


"Ibu kamu kenapa Raina? "


"Ibu masuk rumah sakit tante" ucap Raina berusaha menahan tangisnya.


"Apa??. Raina, kamu tenang yah. Mama ke sana sekarang"


"Iya tante" balas Raina. Gadis itu kembali duduk di kursi tunggu, matanya terus menatap ke arah pintu ruang UGD, tempat Susi di tangani.


Di dalam ruang UGD Dokter dan beberapa perawat yang membantunya menghela nafas berat.


"Dokter, denyut nadi pasien tidak ada lagi. Seperti nya Pasien sudah tidak ada sebelum di bawah kemari" ucap Suster yang memeriksa denyut nadi pasien.


"Darah yang muncul dari luka pasien juga sudah sedikit mengering, Pasien sangat terlambat di selamatkan dokter" sahut perawat yang lainnya.


"Sebaiknya jangan menyentuh pasien dok, ini bekas penganiayaan. Karena pasien sudah tidak bernyawa lagi, alangkah baiknya kita biarkan polisi melakukan otopsi terlebih dahulu. " Jelas perawat. Dokter pun mengangguk setuju, ia juga sudah memastikan bahwa pasien ini benar-benar tidak bisa di tolong.


"Pindahkan Pasien, saya akan menemui keluarga nya" ucap Dokter.

__ADS_1


"Baik dok. "


Di luar, Raina masih menunggu dengan gelisah. Sudah 20 menit Raina menunggu.


"Raina!!! Raina!! " suara Siren menggemah di ujung lorong. Siren semakin mempercepat langkahnya ketika melihat Raina terduduk di kursi tunggu. Siren, Arya dan Sandra menghampiri Raina, Siren langsung memeluk gadis itu.


"Tante... " sahut Raina, ia masih belum terbiasa memanggil mama, lagi pula Siren sudah tidak menjadi mertuanya lagi. Raina tidak tahu jika Alex tidak menanda tangan surat perceraian itu.


"Kamu tenang yah... " Ucap Siren menenangkan Raina yang terisak di pelukannya.


Ceklek.


Raina melepaskan pelukannya pada Siren, menghampiri dokter yang tampak kebingungan melihat mereka.


"Siapa di antara kalian keluarga pasien" tanya Dokter.


"Saya dok, saya Putri nya. Bagaimana keadaan ibu saya dok? ibu saya bisa di selamatkan kan dok? " tanya Raina bertubi tubi, ia menghapus setiap air mata yang mengalir di pelupuk matanya.


Dokter menghela nafas berat, sulit bagi dokter untuk mengatakan pada Raina bahwa ibu nya sudah tidak ada. Dokter tidak tega melihat Raina yang sangat kacau.


"Maaf nona, ibu anda tidak terselamatkan. Pasien sudah tidak bernyawa ketika Anda membawanya ke rumah sakit" jelas Dokter. Raina terduduk lemas, Siren mengatup mulutnya mendengar penjelasan Dokter. Sandra ikut sedih, ia memeluk suaminya.


"Tidak mungkin, ibu pasti bisa di selamat kan"


"Eh nona, jangan lakukan hal itu" dokter berusaha mengangkat Raina agar tidak melakukannya.


"Saya mohon dokter, selamat kan ibu saya. Hanya dia satu satunya keluarga saya"mohon Raina.


" Raina, kamu yang tabah yah" ucap Siren ikut duduk di lantai sembari merengkuh tubuh Raina.


Dokter menatap iba pada Raina. Arya melangkah mendekati Dokter, ia penasaran apa yang terjadi pada bu Susi.


"Dok, apa sebenarnya yang terjadi? " tanya Arya mengalihkan pandangan sang dokter dari Raina.


"Kita perlu membicarakan sesuatu" ucap Dokter. Arya mengangguk setuju, lalu mengikuti sang dokter ke ruangannya. Sandra yang juga penasaran ikut bersama suaminya.


"Pasien mengalami banyak luka tusuk di bagian perut, bahkan lehernya juga. Kami sarankan keluarga pasien untuk melaporkan pada polisi untuk menindak lanjuti kasus ini" jelas Dokter.


"Apa dok?? luka tusuk? "

__ADS_1


"Iya, pasien seperti nya telah di aniaya" jawab dokter. Tangan Arya mengepal, siapa yang telah berani melakukan semua ini. Sandra mengusap bahu suaminya, ia tahu suaminya sedang emosi.


"Baiklah dok, terimakasih atas informasinya" ucap Arya. Lalu mereka keluar dari ruangan dokter.


"Siapa yang telah tega melakukan semua ini pada bu Susi? " gumam Sandra.


"Entahlah, aku akan menyelidiki kasus ini" ucap Arya. Mereka berjalan beriringan menuju ruangan tempat ibu susi di letakan sementara menjelang proses administrasi untuk mengeluarkan bu Susi dari rumah sakit selesai.


"Ma.. Raina mana? " tanya Sandra, ia tidak melihat Raina.


"Raina pingsa, ia di bawa suster ke ruang perawatan" jawab Siren lemah. Bukan hanya Raina yang terkena dampak ke hilangan Susi, wanita baru baya itu juga merasakannya. Susi adalah saudara bagi Siren.


"Lalu bagaimana dengan Alex, apa mama sudah memberitahunya? " tanya Arya.


"Huhh... Mama sudah menghubungi nya, sekarang Alex sudah menuju ke sini" Arya mengangguk mengerti.


"Ma, Arya rasa ada seseorang yang sengaja, melakukan nya" bisik Arya.


"Hemm.. mama juga Berpirasat begitu"


"Lalu apa yang harus kita lakukan ma? " tanya Arya lagi. Sementara Sandra hanya diam mendengarkan keduanya berbicara.


"Untuk sekarang kita selesaikan pemakaman Susi, setelah itu baru kita bahas soal ini"


"Baik ma" jawab Arya.


Di ujung lorong rumah sakit, terlihat Alex berlari cepat. Langkah kakinya semakin melebar ketika matanya menangkap sosok mama dan kakaknya.


"Mama!!! Kak Arya. dimana Raina? " Tanya Alex dengan nafas tersengal.


"Raina ada di ruangan ujung sana, tadi Raina pingsan" jawab Siren. Alex tak mendengarkannya lagi, ia langsung berlari memasuki ruangan yang Siren tunjukkan.


Alex masuk ke dalam ruangan umum, terdapat banyak pasien yang di rawat di sana. Siren tidak memasukkan Raina ke ruang VIP, karena gadis itu hanya pingsan dan Raina hanya butuh istirahat sebentar.


"Raina... " lirih Alex. Pria itu, mendekati brankas Raina yang terletak paling depan, sehingga ketika Alex masuk ke dalam ruangan ini, ia bisa langsung, menemukan Raina.


Di tatapannya wajah sendu wanita itu, mata Raina terlihat sembab. Mungkin efek gadis itu terlalu banyak menangis.


"Raina.... " lirih Alex lagi, tangannya terangkat mengusap pipi Raina.

__ADS_1


"Pasien sudah siuman, dokter berikan nya sedikit vitamin agar nona Raina bertenaga. Oleh karena itu pasien tertidur untuk sementara" jelas Suster pada Alex setelah memeriksa infus Raina. Alex mengangguk pelan, ia menarik kursi di samping Raina, lalu duduk di sana. Tatapan mata Alex tidak beralih dari wajah Raina.


...----------------...


__ADS_2