
Pagi telah tiba, Raina masih belum sadarkan diri, mungkin,pengaruh obat yang dokter berikan tadi malam.
Di dalam ruangan itu tidak hanya ada Alex seorang, Kian dan yang lain sudah berkumpul menunggu Raina bangun. Beberapa polisi juga sudah menunggu di luar menunggu Raina sadar untuk di mintai keterangan.
"Engg.... " Lenguhan terdengar dari bibir pucat Raina. Kulit kening Raina terlihat mengerut, kepala Raina juga menggeleng kekiri dan kanan.
"Raina... " panggil Alex. Perlahan mata Raina mulai terbuka, ia menatap setiap wajah yang ada di dalam ruang pasien umum yang hanya di batasi oleh gorden hijau dengan pasien lainnya.
Raina mengalih tatapannya pada Alex, lalu beralih ke kian yang berdiri di belakang Alex.
"Kak... " lirih Raina. Alex pikir padanya, ia sedikit menegakkan tubuhnya ketika Raina duduk.
"Huh" lenguh mereka kaget, bukannya memeluk Alex Raina malah memeluk Kian, entah apa maksud nya mereka tidak tahu.
Alex berbalik menghadap Raina dan kian yang sedang berpelukan, lebih tepatnya Raina yang memeluk Kian.
"Kak.... " lirih Raina pada Kian.
"Sttt... Kamu yang tabah yah. Kamu gak sendirian Raina. Kami bersama mu" ucap Kian menenangkan dan berusaha, menguatkan gadis itu.
"Aku gak punya siapa siapa lagi Kak... "
"Tidak sayang, kamu masih punya mama, Alex, dan semua yang ada di sini" sahut Siren, di angguki oleh mereka semua.
"Raina... Kamu yang tabah yah, Kamu harus kuat. Aku yakin ibu Susi akan senang melihat kamu bahagia. " Ujar Dewi. Raina tak bergeming, ia masih terisak di dalam pelukan Kian.
Beberapa perawat menghampiri mereka, memberitahu bahwa jahat bu Susi sudah siap untuk di makam kan.
"Ayo Raina, kita harus segera mengkebumikan almarhum. Agar beliau cepat mendapatkan ketenangan" ucap Siren.
"Hikss... Hikss... " Raina mengangguk dalam tangisnya.
Sekarang tiba lah mereka di pemakaman umum, Raina di bantu oleh Dewi turun dari mobil.
Singkat cerita, pemakaman telah selesai. Raina menangis sembari memeluk batu nisan ibunya. Ia belum rela Susi pergi meninggalkan nya untuk selamanya.
__ADS_1
"Raina... " panggil Alex lembut. Pria itu memegang bahu gadis itu.
"Jangan katakan apa pun, aku sedang tidak ingin membicarakan apapun" tolak Raina tegas membuat Alex kembali menghela nafas berat.
"Permisi" ucap polisi. Ada dua orang polisi yang menghampiri mereka.
"Nona Raina, apa kami bisa meminta waktu anda untuk memberikan keterangan? "
Raina tidak menjawab ucapan pak polisi, gadis itu malah memeluk sembari mengusap batu nisan Susi.
"Semoga ibu tenang di alam sana" lirihnya pelan. Setelah merasa kuat, Raina pun berdiri dan balik ke belakang menghadap dua polisi itu. Matanya juga melirik Alex yang masih setia berdiri di sana.
"Baiklah pak, saya akan memberikan keterangan" ucap Raina. Lalu berjalan mengikuti polisi menuju kantor.
*****
"Hahahaha..... " Tawa Dave menggelegar mengisi seluruh ruangan kerjanya. Ia merasa sangat senang telah memberikan gertakan pada Raina.
"Itu balasan karena kau sudah bermain main dengan ku" ucap Dave tersenyum menyeringai. Awalnya Dave tidak ingin mengikuti campurkan otak lain, namun Raina tidak terlihat di mana pun. Dave memaksa ibu Raina untuk memberitahu dimana anaknya bersembunyi. Namun Susi tidak mau memberitahu nya, meskipun Susi juga tidak tahu dimana Raina.
Sehingga Dave melakukan tindakan yang sadis untuk memancing Raina keluar dari persembunyian nya.
"Biarkan saja, aku tidak takut. Mereka tidak akan bisa menangkap ku. Mereka tidak akan bisa menemukan bukti nya" gelak tawa Dave kembali menggelegar. Anak buahnya tadi hanya bisa menunduk, lalu berlalu dari sana.
"Huh, ini baru permukat gadis manis. Aku akan membuat mu bertekuk lutut di hadapan ku" Gumam Dave sembari menatap lembaran foto Raina yang sedang memeluk batu nisan. Melihat wajah menyedihkan Raina membuat hati Dave semakin senang.
Sementara di rumah sakit, Cia masih terbaring lemah. Ia sudah siuman, namun masih belum terlalu pulih.
"Nyonya, apa ada sesuatu yang nyonya ingin? " tanya linju menatap majikannya, ia pikir cia mencari sesuatu, karena melihat Cia melirik kiri dan kana.
"Tidak, aku hanya sedikit merasa bosan" jawab Cia datar.
"Apa nyonya mau keluar jalan jalan? " usul Linju, namun Cia menggeleng cepat. Ia takut jika berada diluar ia akan bertemu dengan Dave. Lalu Dave akan menyakitinya lagi.
"Nyonya.... " panggil Linju.
__ADS_1
"Tidak mbok Lin, aku tidak mau keluar" tolak Cia. Linju hanya bisa menghela nafas, lalu kembali duduk di kursinya.
Cia menoleh ke arah jendela, ia memang sangat bosan di rumah sakit terus. Namun ketakutannya jauh lebih besar di bandingkan rasa bosannya.
Kasian nyonya, pikir Linju. Namun ia tidak bisa berbuat apa apa.
...****...
Setelah pulang dari pemeriksaan kepolisian, Raina di bawah ke rumah besar Siren, karena rumahnya masih di amankan oleh pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan.
"Raina.... " panggil Arya.
Raina yang terduduk di sofa dengan kedua tangan memeluk lutut mengangkat tatapannya. Ia menatap Arya yang berjalan semakin dekat padanya, lalu duduk di depannya.
"Kakak tahu kamu sangat sedih, tapi kamu harus kuat. Kita harus menemukan pelakunya" ucap Arya.
"Untuk apa kak? aku tidak perlu mencari pelakunya. Karena aku tahu siapa dalang dari semua ini" lirih Raina menghela nafas berat, lalu membenamkan kepalanya diantara kedua kaki yang ia peluk.
"Siapa?? "
"Dave... Dialah yang melakukan semua ini. Karena membalas dendam. " jawab Raina kembali menatap Arya, butiran air mata kembali membanjiri wajahnya.
"Ibu mengalami semua ini karena aku kak. Jika bukan karena aku bersembunyi, maka Ibu tidak akan di sakiti oleh pria bajingan itu! " tangis Raina kembali pecah. "
Mata Arya melebar, mengapa ia tidak kepikiran soal ini.
"Aku akan membantu mu menangkap pria bajingan itu! " sahut Alex. Ia sejak tadi memperhatikan Raina dari atas tangga. Kini Alex sudah berada di hadapan Raina.
"Kamu tahu apa? jangan ikut campur dengan urusan ku" ketus Raina, ia tidak mau Alex ikut menjadi korban jika terlibat dalam urusan ini. Dave adalah mafia kejam, Alex yang tidak mengerti soal dunia mafia tidak akan mampu melawan mereka. Raina berdiri berhadapan dengan Alex, mata merahnya menatap Alex dingin.
Alex tersentak, Raina tidak memanggilnya dengan embel embel kak, nada dinginnya mampu menusuk ke ulu hati Alex.
"Aku hanya ingin membalas semua. Kamu mengalami ini karena menyelamat reputasi ku. Jadi, semua ini bukan karena dirimu" ucap Alex.
"Sudah!! kalian tidak perlu bertengkar" lerai Arya, ia berdiri di depan keduanya.
__ADS_1
Raina membuang tatapannya ke samping, sebenarnya ia tidak ingin bersikap seperti ini pada Alex. Namun Raina harus melakukannya, karena bisa saja Alex akan menjadi target Dave untuk menghancurkan dirinya. Tidak, Raina tidak akan membiarkan itu. Raina menggeleng pelan, lalu pergi dari hadapan keduanya.
...----------------...