Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(25) Cemburu?


__ADS_3

Brak!


Raina dan Kian kaget, mereka secara serentak menatap kearah pintu. Bola mata Raina membulat seakan akan keluar dari tempatnya.


Sorot mata dingin Alex menatap lurus pada gadis polos yang langsung berdiri dari posisi duduknya.


"Bos.. " gumam Raina. Kian menoleh pada Raina sebentar, lalu kembali menoleh pada Alex.


"Ada apa kau kemari? " tanya Kian cuek. Alex beralih menatap Kian, ia berjalan cepat mendekati mereka. Eh tidak, Alex hanya mendekati Raina. Menarik gadis itu keluar dari ruangan Kian.


"Mau kau bawa kemana dia! " cegat Kian, ia melihat Raina sedikit merintih karena luka di sikunya sedikit tergoyang. Kian yakin jika luka di siku Raina bukan hanya karena goresan, tetapi juga terhempas pada sesuatu yang keras.


"Jangan ikut campur urusan ku! " ucap Alex dingin.


"Kau yang ikut campur urusan ku! " balas Kian tak kalah dingin.


Alex tak menghiraukan nya, ia kembali menarik paksa Raina ikut dengan nya.


"Jangan paksa gadis itu!! " bentak Kian tak tahan melihat Raina semakin merasa kesakitan, Alex tidak tahu akan hal itu.


Alex berbalik, rahangnya mengeras menahan emosi. Tahu suasana sudah tidak baik, Raina berdiri di depan Alex, menghalangi pria itu yang hendak melangkah maju menghadang Kian.


"Maaf, pak. Saya tidak apa apa. Boss Alex memiliki urusan dengan saya. " ucap Raina cepat. Alex melirik nya dari belakang, begitu juga dengan Kian. Pria itu malah semakin penasaran dengan gadis lugu yang malah dekat dengan saingannya.


"Saya permisi" ucap Raina menunduk, lalu menarik paksa Alex keluar dari sana.


'Kok malah kebalik, tadikan aku yang menariknya" batin Alex merasa gengsi. Alex menghempaskan tangan Raina ketika mereka sudah berada di luar ruangan Kian.


"Ikut dengan ku! " ucap Alex dingin, lalu berjalan lebih dulu di depan Raina.


"Huhhhfffhaaa" Raina menghela nafas panjang, lu mengikuti Alex.


Semua pegawai menatap aneh pada gadis itu, sejak awal masuk Raina sudah mendapatkan banyak masalah dengan Alex, dan sekarang dirinya juga terkait dengan Kian. Mereka merasa penasaran, siapa Raina sebenarnya.


'Semoga kamu baik baik saja Raina'batin Dewi yang juga melihat Raina dari bawah.


Raina masuk ke dalam ruangan Alex, ruangan yang berawal kaca bening, berubah menajadi kaca gelap dan tidak terlihat dari luar.


"Apa yang akan pria itu lakukan pada adik nya?? " tanya Ega, mereka masih memantau Alex dari meja masing-masing.


"Mungkin dirinya kembali memarahi Raina" celetuk Justin.


"Jika dia mau memarahi Raina, dia pasti akan melakukannya di depan umum. tidak perlu melakukannya di ruang tertutup" jelas Jiandi, terlihat pada beberapa hari ini, Alex memarahi habis habisan Raina di depan semua pegawai.

__ADS_1


"Aku curiga, Raina bukanlah adik Alex" batin Ega. Namun dugaan itu hanya Alex simpan di dalam hatinya.


Di dalam ruangannya, Alex menatap dingin Raina. Entah apa yang membuatnya semarah ini pada gadis lugu yang berstatus sebagai istri nya.


"Kenapa kamu bisa berada di sana? " tanya Alex tegas. Raina tak menjawab, ia hanya menunduk.


"Hei, apa kamu tidak dengar aku bertanya?? " tanya Alex dengan nada yang sedikit lebih tinggi.


"Apa urusan mu? aku berada di mana pun. Apa urut mu? " tanya Raina dengan nada kesal. Kening Alex mengerut, Raina berani membantahnya.


"Tentu saja, karena kau adalah bawahan ku. Kau adalah tanggung jawab ku" jawab Alex beralasan. Sebenarnya dirinya juga tidak tahu mengapa ia bisa semarah ini ketika melihat Raina bersama Kian.


"Kau tidak perlu mencemaskan, aku bisa jaga diriku sendiri. Lagi pula kepala devisi keuangan juga adalah bos ku" jawab Raina.


"Kau itu bodoh, ada yang kau tahu!! " bentak Alex.


"Aku tidak bodoh!!! " teriak Raina kesal, Alex selalu menganggapnya seperti itu. Raina sudah jengah, ia tidak tahan lagi menahan kekesalannya setiap kali Alex mengatainya bodoh.


"Kau itu buta, kau yang bodoh!! " tambah Raina menatap tajam ke arah Alex. Pria itu tercengang, ia semakin kaget melihat reaksi Raina.


"Kau berbicara lantang pada ku? " tanya Alex tak percaya. Ia berjalan mendekat pada Raina. Membuat gadis itu menyadari kesalahannya.


"Maafkan aku kak, aku tidak sengaja. Aku hanya terbawa perasaan" jelas Raina menggelengkan kepalanya. Raina mulai panik, Alex menatap nt dengan tatapan sulit di artikan.


"Ah astaga aku lupa, pekerjaan ku masih banyak" ujar Raina berakting, lalu berlari keluar dari ruangan Alex.


Tuk!!! Tuk!!


Alex tersentak dari pemikiran nya, ia menatap Ega yang menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan nya.


"Ada apa? " tanya Alex garang.


"Wisss, garang banget bro.. " sahut Ega, ia berjalan pelan masuk ke dalam ruangan Alex.


"Aku tidak memberimu ijin masuk" dengus Alex.


"Aku tidak meminta persetujuan mu" balas Ega. Mereka sudah lama dekat, Alex juga paling dekat dan terbuka dengan Ega.


Alex duduk di kursi kebesaran nya, bersandar sembari menutup kedua matanya. Ega pun ikut duduk di depan meja Alex, ia menatap sahabatnya ini intens.


"Sebenarnya ada apa sih?? aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu dari ku! "


"Tidak ada" jawab Alex datar tanpa membuka matanya. Ega kembali menghela nafasnya, ia tahu jika masalah kali ini terlalu privasi, Jadi Ega harus bersabar hingga Alex menceritakan sendiri padanya.

__ADS_1


"Yasudah deh, aku akan menunggu lebih lama lagi" ujar Ega, pria itu beranjak keluar dari ruangan Alex. Ketika tiba di luar, Ega langsung di boyong Justin dan Jiandi menuju meja mereka.


"Apa yang terjadi? " tanya Jiandi penasaran.


"Apa Alex menceritakan padamu? "


"Apa dia memiliki sesuatu yang di tutupi dari kita?? "


Jiandi dan Justin bergantian melontarkan pertanyaan yang berputar putar dan bermakna sama.


"Tidak ada, Alex tidak mau bercerita pada ku" jawab Ega singkat menjawab seluruh pertanyaan kedua pria itu. Justin dan Jiandi mendesah kecewa.


"Sudah sudah kembali berkerja" ucap Ega.


"Huhhh percuma kita menunggu" kesal Jiandi.


Mereka kembali ke meja masing-masing, melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Sementara di meja kerjanya, Raina menutupi wajahnya dengan map kuning. Sejak tadi teman temannya menatapnya aneh.


"Dewi.... " panggil Raina pelan, hingga wanita itu menoleh padanya.


"Ada apa? " tanya Dewi. Raina menggeserkan kursinya lebih dekat pada Dewi.


"Mengapa mereka menatapku seperti itu?? " tanya Raina melirik sebentar teman temannya yang curi curi pandang padanya.


Dewi menghela nafas, ia juga tidak tahu mengapa Raina menjadi pusat perhatian sekarang.


"Sejujurnya aku tidak tahu, tapi seperti nya sejak kamu di panggil kepala devisi keuangan, dan... " ucap Dewi terjeda, membuat Raina menjadi penasaran.


"Dan apa? " desak Raina.


"Dan... setelah pak Alex masuk ke dalam ruangan pak Kian, yang katanya mereka adalah musuh bebuyutan" lanjut Dewi.


"Huh??, jadi mereka musuhan??? " tanya Raina kaget, pantes saja tatapan mereka sama sama dingin. Tapi, mengapa Alex seolah olah melarang dirinya untuk berdekatan dengan Kian. Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka??.


Raina malah melamun, memikirkan penyebab permusuhan Alex dan Kian.


"Raina... oikk Raina!! " panggil Dewi menggoyang goyangkan bahu Raina.


"Eh iya, sorry" ujar Raina tersadar.


"Melamun aja kamu, kesambet baru tahu" celetuk Dewi.


"Mana mungkin, kan ada kamu penangkal nya" kekeh Raina memeluk Dewi yang memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda" kekeh Raina.


...----------------...


__ADS_2