
Sudah 2 minggu lamanya Raina tidak masuk kerja, hal ini menjadi tanda tanya bagi pegawai biasa. Bagi mereka yang tidak tahu apa apa, tentu saja meresakan ada kejanggalan.
"Dewi. Si teman kamu kemana? "
"Iya wi, kenapa dia gak masuk kerja lagi? "
Dewi menatap kedua wanita kepo itu, lalu menghembuskan nafas gusar. Sejujurnya dirinya juga tidak tahu kemana perginya Raina.
"Kemarin dia bilang, ada dinas luar kota" jawab Dewi lesu, ia merasa kesepian tanpa Raina. Biasanya gadis itu selalu menemaninya makan siang.
"Eh kalian lagi ngomongin apa? " tanya Linda, ia baru saja selesai mengcopy beberapa dokumen. Melihat teman teman nya berkumpul dan terlihat menggosip, sedikit tidak afdol jika Linda tidak ikut.
"Lagi bicarain Raina" jawab wanita berdua tadi.
"Ohh Raina, kemarin aku melihatnya. Apa dia tidak masuk hari ini? " bingung Linda, ia melihat gadis itu kemarin di sebuah hotel. Linda pikir Raina sudah pulang dari luar kota.
"Masa sih? tapi Raina tidak terlihat hari ini di kantor" sahut mereka lagi. Dewi menjadi diam, ia merasa ada sesuatu yang Raina sembunyikan darinya.
"Eh aku masih ada yang harus di kerjakan" gumam Dewi, ia kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan nya. Ketiga gadis itu berpindah menggosip ke meja Linda.
"Kemana Raina? " batin Dewi.
Di dalam ruangannya, Alex tampak merasa bosan. Perutnya sangat lapar, sejak Raina pergi Alex jadi tidak teratur makannya. Kadang perutnya sudah terasa sakit baru ia memasukkan asupan sedikit ke dalam perutnya. ***** makan Alex mendadak hilang tanpa masakan Raina.
"Astaga Alex, kenapa wajah mu begitu pucat dan.... " Ega menggantung ucapannya. Alex menatap datar pada pria itu, ia tidak memiliki selera humor yang bagus kali ini.
"Astaga!!! Alex!! Alex!!!! kamu harus liat ini" Jiandi berlari dari meja nya ke arah Alex dan Ega.
"Ada apa? " Alex mengerut bingung. Jiandi dengan segera memperlihatkan berita yang ia lihat di ponselnya.
"Bagaimana mungkin!! " geram Alex, ia segera masuk ke dalam ruangannya. Semua dokumen di periksa ulang olehnya.
"Sial!!!! " umpat Alex, semua datanya sudah di duplikat oleh mereka.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin" ucap Ega dan Jiandi ikut memeriksa semua data dan rancangan milik Alex. Rahang Alex mengeras, ia benar-benar tidak habis pikir. Siapa yang telah berani melakukan semua ini padanya.
"Alex... "lirih Ega takut takut, ia tahu suasana hati Alex sedang tidak baik baik saja.
" Aku tidak apa apa, aku akan segera menangkap pelakunya " gumam Alex penuh keyakinan, ia tidak akan memberikan ampun jika sudah menangkap siapa pelakunya.
Alex mengotak atik komputer nya, terdapat beberapa pemberitahuan bahwa komputer nya mendapat beberapa virus. Seperti nya seseorang telah berhasil membobol sistemnya.
Drrrttt.... Drrrttttt
"Hallo"
"Sekarang temui aku!! " titah Dion dari sebrang sana, lalu memutuskan sambungan telfonnya.
Alex terdiam, membuat kedua temannya ikut bingung. Mereka penasaran, siapa yang menghubungi Alex barusan.
"Alex kamu mau kemana? "
"Aku ke ruangan CEO" jawab Alex singkat. Pria itu berjalan cepat memasuki lift. Tiba di dalam lift, ia bertemu dengan Raina. Gadis yang selama seminggu ini tidak ia temui. Langkah Alex sempat terhenti, namun melihat dengan Siapa Raina saat ini membuat tatapan rindu berubah menjadi tatapan dingin dan datar. Alex ikut masuk ke dalam lift, ia berdiri tepat di depan Raina dengan posisi membelakangi gadis itu.
"Senang bertemu dengan mu lagi tuan Alex" sapa Dave tersenyum menyeringai, ia berdiri tepat di samping Alex.
Alex tidak membalas sapaan Dave, ia hanya melirik Dave sebentar lalu kembali menatap ke pingu lift.
3 menit kemudian, pintu lift pun terbuka. Mereka melilit tujuan yang sama ternyata. Alex cukup terkejut melihat Raina berjalan di belakang kedua pria itu. Ayah Cia sempat, melirik Alex, pria tua itu masih memantau gerak gerik keduanya.
Alex memasuki ruangan Dion, ternyata Raina juga memasuki ruangan itu. Namun Dave dan ayah Cia tidak memiliki tujuan yang sama. Mereka memasuki ruangan pemegang saham terbesar di AMD group.
Di dalam ruangan Dion, Raina dan Alex duduk bersebelahan. Manik mata Alex tidak beranjak dari Raina, sejak awal masuk pria itu tak melepaskan pandangan nya dari Raina. Gadis itu hanya bisa menunduk, ia tidak berani membalas tatapan pria itu.
"Baiklah, tujuan saya memanggil kalian adalah ingin mengatakan sebuah informasi" ujar Dion. Barulah Alex mengalihkan pandangan nya kearah Dion. Sorot matanya masih sama, dingin sedingin es batu. Banyak pertanyaan muncul di benak Alex.
"Data kita bocor, apa itu benar Alex? " tanya Dion.
__ADS_1
"Benar, seseorang telah membobol sistem ku! "
"Bagaimana ini, proyek sebentar lagi harus di presentasi kan. Dave tidak boleh lebih dulu mempresentasikan nya. Jika mereka lebih dulu maka kita akan di tuduh plagiat.
" Tenang saja Tuan, aku akan segera menangkap pelakunya. " Ucap Alex yakin, ia tidak akan melepaskan tikus got itu sembarangan.
"Aku percayakan kepada mu Alex"
"Terimakasih" balas Alex menunduk hormat.
"Lalu bagai dengan mu Raina, mengapa kamu tiba-tiba ingin mengajukan surat berhenti menjadi asisten Alex? " tanya Dion membuat Alex langsung menoleh pada Raina.
"Maaf tuan, tetap saya pikir saya tidak pantas menjadi asisten tuan Akex Selain pengalaman saya kurang., tuan Alex terlalu genius jika saya yang menjadi asisten nya. Saya takut Alex malah terganggu. " Kila Raina melirik Alex sebentar, lalu kembali fokus pada Dion.
"Apa karena ayah Cia mempercayai mu? dan kau tidak ingin terlihat dekat dengan kami? " ucap Dion.
"Sudah lah boss.. Jika dia ingin berhenti jadi asisten saya. Maka tidak masalah" balas Alex.
"Kalau begitu saya undur diri boss" pamit Raina berdiri dari duduknya, lalu menunduk hormat.
Tak berapa lama Alex pun ikut ke luar dari ruangan Dion. Ia sengaja berjalan cepat menyusul Raina. Lalu Alex menarik tangan gadis itu ke sudut lorong yang jarang di lewati oleh pegawai lain.
"Lepas!! " sentak Raina menarik tangannya, ia sedikit kaget dengan perlakuan Alex.
"Ada apa dengan mu!! kenapa kamu menjadi seperti ini? " desak Alex dengan pertanyaan yang menghantui benaknya. Ingin sekali Alex berteriak di depan Raina saat ini.
Raina hendak berkata lembut, namun ekor matanya melihat seseorang tengah mematai mereka.
"Memangnya kenapa? apa kamu merasa takut sekarang? " balas Raina balik bertanya membuat Alex mengerut keningnya. Raina semakin aneh, gadis ini semakin terlihat brutal dan angkuh. Ini bukan Raina yang Alex kenal.
"Apa yang membuat mu berubah! "
"Kau!! kau yang membuat ku seperti ini. Sekarang pergilah!! aku tidak mau orang lain melihat ke dekatkan kita" Raina mendorong dada Alex agar segera pergi dari hadapannya. Namun Alex tak kunjung beranjak, sehingga membuat Raina yang pergi dari hadapannya.
__ADS_1
...----------------...