
Alex pulang dari kantor, pria itu tidak langsung pulang ke rumah nya. Ia malah melajukan mobilnya menuju rumah Siren. Entah mengapa Alex merasa Raina ada di sana.
Menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya Alex tiba di depan rumah besar bakal istana itu.
"Ada apa kamu datang ke sini? " ketus Siren ketika melihat Alex masuk ke dalam rumah. Di perhatikan nya penampilan putranya. Alex terlihat sangat kacau, ia juga terlihat mulai kurus.
"Ma, apa Raina tidak ada mengunjungi mama? " pertanyaan Alex menyadarkan Siren, ia mengubah raut wajahnya menjadi acuh.
"Tidak, buat apa menantu ku kemari"
"Ma, aku serius. Jangan sembunyikan Raina dari Alex! " ucap Alex. Suara pria itu terdengar semakin meninggi. Siren malah tersenyum kecut, ia melangkah lebih dekat pada putranya.
"Sekarang kau baru sadar? wanita itu sangat berarti untuk mu"
Alex tak menjawab, ucapan mama nya memang benar. Namun Alex masih tidak mengakuinya.
"Aku hanya khawatir padanya. Dia masih tanggung jawab ku" elak Alex, ia selalu mengatakan hal itu setiap kali orang orang di sekitarnya menyadarkannya.
"Bersembunyi saja terus dengan alasan yang tidak masuk akal itu" cibir Siren. Ia tidak mengerti dengan pola pikir putranya.
"Alex, sadar lah nak. Lihat hati kamu, di hati kamu hanya ada Raina"
"Sudah lah, kabari pada ku jika Raina menghubungi mama" titah Alex.
"Aku tidak akan mengabari mu" tolak Siren berteriak pada Alex yang kembali keluar dari rumah nya.
Pria itu sudah kehilangan akal mencari keberadaan Raina, ia juga sudah memerintahkan beberapa bodyguard untuk memantau rumah ibu Susi, namun sampai saat ini mereka masih belum memberikan laporan.
"Huh!! kemana sebenarnya gadis itu!! " gumam Alex, ia benar-benar bingung. Raina menghilang tanpa jejak, Alex sudah mencarinya ke seluruh penjuru kota. Bahkan Alex sudah mengutus anak buahnya untuk mencari ke berbagai negara. Data diri Raina tidak terdeteksi di mana pun.
Sementara itu, Raina masih nyaman duduk di taman lantai 30 hotel Admudiano. Berkat nama Siren, Raina bisa menyembunyikan identitas nya agar tidak terlacak oleh Alex. Tidak ada yang tahu jika Raina sedang menginap di sana, kecuali Arya. Pria itu yang membantunya, dan juga Sandra istri nya.
Raina duduk sembari membaca novel yang berjudul Mendadak Hamil. Ia terkekeh pelan membaca adegan ketika Zoya hamil, Azlan yang menanggung semua keinginan cabang bayi. Raina sempat membayangkan jika dirinya hamil dan Alex yang menanggung semuanya. Ahh mungkin sedikit lebih lucu. pikir Raina terkekeh pelan.
"Isss... Dasar intan!! kejam sekali dia" geram Raina sembari menutup buku novelnya. Raina merasa kesal membaca adegan dimana Zoya di kunci oleh intan di toilet sekolah.
Langit tampak bersih, matahari bersinar terik. Raina mengedarkan pandangannya menatap sekeliling hotel. Dari taman atas itu, Raina mampu melihat sekitaran hotel dari Atas. Padatnya jalan raya, bangunan bangunan tinggi berderet di luar sana.
"Zaman sudah sangat maju" gumam Raina mengagumi design bangunan dan interior beberapa rumah yang terjangkau oleh matanya.
Kening Raina mengerut, matanya menangkap 3 sosok yang tengah melambaikan tangan padanya. Cepat cepat Raina menutup wajahnya dengan buku novelnya, lalu membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin mereka ada di sini? " batin Raina. Ia mencoba mengintip sedikit ke arah belakang.
"Huh, mereka masih ada di sana. "
3 sosok itu adalah, Jiandi, Ega, dan Justin. Sosok ini adalah sosok yang sangat di hindari oleh Raina. Perlahan Raina beringsut keluar dari taman hotel, ia berjalan cepat menuju kamar nya.
Bruk~
"Ups.. " Ucap seseorang. Raina menoleh cepat, ia melangkah mundur ketika orang itu menunduk mengibas ngibaskan tangannya membersihkan jangan dari tumpahan kopi yang Raina senggol tadi. Sebelum pria itu menyadari kehadirannya, Raina memilih pergi dari sana secepatnya.
"Hei!!!! " Teriak Dave geram.
"Tuan bajunya kotor" ucap Wanita yang sejak tadi di gandeng Dave.
Huff hufff.
Raina ngos ngosan berlari dan masuk ke dalam lift. Ia merasa lega terhindari Dave, jika saja Dave melihatnya. Maka akan di pastikan Raina dalam bahaya.
"Syukur lah dia tidak melihat ku" ucap Raina bernafas lega. Ia mulai berjalan pelan menuju kamarnya yang tinggal beberapa pintu lagi dari tempatnya berdiri.
Raina menghubungi Arya, ia mengatakan jika Dave ada di hotelnya. Raina berharap Arya bisa menangani pria itu.
"Huh! " kaget Raina. Ketiga pria itu sudah berdiri dengan senyum sok tampan menatap ke arah Raina.
"Kalian ini!!! membuat ku kaget saja! " bentak Raina mendelik kesal pada mereka.
"Hehe... maaf nyonya Admu. Kami hanya senang bisa menemukan mu" kekeh Ega, membuat Raina melebarkan matanya mendengar panggilan darinya.
"Jangan panggil aku dengan nama itu!! " tegur Raina, lalu ia berjalan acuh meninggalkan ketiga pria itu menuju kamarnya.
"He, ngapain kalian? " tanya Raina ketika ketiga pria itu hendak ikut masuk ke dalam kamar inao Raina.
"Ikut masuk" jawab Jiandi polos.
"Enak saja, gak gak gak... Aku tidak mau. Nanti orang lain mengira aku wanita murahan. Membawa 3 pria masuk ke dalam kamar hotel" tolak Raina mendorong mereka keluar dari kamarnya.
"Ehh tapi kami mau bicara pada mu!! " ujar Justin..
"Gak ada yang bisa di omongin, aku tidak punya waktu" tolak Raina kembali mendorong ketiga pria itu agar segera keluar. Bukannya keluar, mereka malah mengangkat tubuh Rain lalu membawanya ke dalam kamar.
"Hei!! apa yang kalian lakukan!! " teriak Raina, tubuhnya sudah melayang ke atas.
__ADS_1
"Iss... menyebalkan!! " sungut Raina, ia sudah di turunkan oleh ketiganya dan di dudukan di sofa.
"Kamu gak makan yah Raina? " tanya Justin dengan tampang lugu.
"Kenapa? "
"Tubuh kamu ringan banget, kembali ngangkat gelas tanpa isi" kekeh Justin..
"Ahh bodo amat, sekarang cepat katakan! apa yang ingin kalian bicarakan? " desak Raina kesal.
"Weiiii sabar dulu dong, buru buru amat neng" goda Ega. Raina tidak menjawab, ia hanya menatap pria itu datar.
"Oke, baiklah. Sekarang serius" ucap Justin. Semuanya berhenti bercanda.
"Kami tahu masalah mu dan Alex. Pria itu sudah tidak waras sekarang. Semua pekerjaan tidak selesai. Hidup nya benar-benar kacau, kami ingin kamu kembali dengan nya" ucap Jiandi panjang lebar. Raina tidak bereaksi ia hanya diam menatap ketiga teman Alex.
"Aku tidak bisa, kami sudah bercerai. Lagi pula, kak Alex tidak menyukai ku, aku bukanlah wanita yang ingin ia nikahi" jawab Raina dengan nada datar.
"Tidak Raina, jika Alex tidak mencintai mu. Pria itu tidak akan sekacau itu" bujuk Ega. Raina menarik nafas dalam, dadanya mulai terasa sesak. Mengingat malam ketika Alex dan mertuanya membicarakan tentang perceraian. Raina mendengar dengan jelas jika Alex mengatakan bahwa dirinya bukanlah wanita yang Alex ingin nikahi.
"Sudahlah, kalian pergi lah. Aku sudah bernafas lega sekarang. Tidak seperti dulu, hidup dalam kesakitan mencintai seseorang yang tidak mencintai ku"
"Raina.... " lirih Justin. Raina menggeleng,matanya sudah mulai berkaca kaca. Gadis itu bangkit dari duduknya, lalu melangkah sedikit menjauh dari ketiga pria itu dengan membelakangi mereka.
"Kalian tenang saja, kak Alex mencari ku hanya karena merasa bersalah saja. Itu pun belum tentu. Karena kak Alex sangat marah pada ku, aku sudah membohongi nya. " lirih Raina terdengar memilukan.
Samar samar, ketiga pria itu mendengar isak tangis dari Raina. Meskipun isakan itu terdengar sangat pelan. Mereka tidak bisa berbuat apa apa lagi, Raina berhak menentukan jalan hidupnya. Gadis itu sudah sangat tersiksa selama ini. Bahkan dirinya sudah banyak berkorban demi perusahaan dan Alex.
"Baiklah, kamu mengerti. Kami tidak akan memaksa mu lagi Rai" ujar Jiandi. Di angguki oleh keduanya.
"Jangan menghindari kami, karena kami adalah kakak mu" sahut Ega, pria itu bangkit dari duduknya, lalu melangkah lebih dekat dengan Raina. Di ikuti oleh kedua temannya. Mereka memeluk Raina dari belakang, bak seperti kakak kakaknya sedang memeluk seorang adik yang sedang menangis. Raina tak menolak, ia membiarkan mereka memberikan kehangatan di hati Raina. Ia memang sangat butuh sandaran saat ini.
"Jangan menangis lagi" ucap Justin mengusap air mata Raina.
"Makasih" lirih Raina terdengar serak.
"Jangan bilang makasih, kami adalah kakak mu sekarang. Siapapun yang mengganggu mu, adalah musuh kami" ujar Jiandi.
"Kecuali Alex tentunya" sambung Jiandi lagi, membuat mereka terkekeh pelan.
...----------------...
__ADS_1