
Di perjalanan menuju rumah, Alex tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Begitu juga dengan Raina. Mereka memilih untuk diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Raina menatap ke luar jendela kaca mobil, menatap pemandangan malam yang silih berganti karena kecepatan mobil Alex yang terbilang cepat.
Tak berapa lama, mereka pun tiba dong rumah. Alex turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Raina dan juga membantu gadis itu keluar dari sana.
"Aku bisa sendiri" tolak Raina ketika Alex kembali hendak menggendong nya. Alex mengangguk pelan, memilih menggandeng tangan Raina saja menuju ke dalam. Raina tak bisa menolaknya, ia hanya menghela nafas dalam lalu berjalan masuk ke dalam rumah yang hampir satu bulan ia tinggal kan.
"Kamu duduk di sini dulu, aku akan ambilkan kamu minum" ucap Alex meninggalkan Raina di ruang tamu, ia masuk ke dalam dapur dan keluar dengan membawa segelas air mineral.
"Di minum dulu" ujar Alex memberikan gelas air mineral pada Raina.
"Terimakasih kak" sahut Raina menerima gelas itu. Ia merasa canggung dengan sikap Alex yang seperti ini.
"Ka-"
"Kalau mau istirahat, aku bisa anterin ke kamar kamu" ucap Alex memotong ucapan Raina, seolah olah ia menghindari percakapan yang panjang.
"Hem.. baiklah" Sahut Raina mengalah. Setelah meminum segelas air mineral yang Alex berikan, Raina beranjak menuju kamarnya.
"Selamat malam" ucap Alex.
"Hmm" sahut Raina tanpa menoleh.
Alex pun terduduk di sofa, ia menghela nafas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Aku tidak pernah merasa se gugup ini menghadapinya" gumam Alex mengusap dadanya yang terdengar degupan jantung yang berpacu cepat.
Di dalam kamar, Raina duduk di tepi ranjang. Mimpinya di rumah ibunya masih sangat jelas. Apa ibunya melarang nya untuk bercerai? pikir Raina. Namun di sisi lain, Raina juga ingat ibunya pernah menyuruhnya untuk meninggalkan sesuatu yang bukan menjadi tempatnya.
"ARrrrr" erang Raina frustasi. Ia benar-benar bingung dalam mengambil keputusan. Raina pun memutuskan untuk tidur saja. Gadis itu merasa sangat lelah akhir akhir ini, secara perlahan gadis itu mulai menerima kepergian ibunya meskipun sangat berat.
"Ibuu... Aku merindukan mu" bisik Raina di keheningan malam. Air mata mulai berjatuhan ketika Raina memejamkan matanya.
Ke esokan harinya, Raina bangun lebih awal. Meskipun Alex lebih awal dari dirinya. Raina sudah mendapati Alex duduk di meja makan sembari menatap layar laptopnya.
Apa pria itu tidak tidur? pikir Raina.
__ADS_1
Alex menoleh ketika menyadari kehadiran Raina di sana. "Kau sudah bangun? " sapa nya.
"Hemm.. Baru saja" jawab Raina singkat.
"Apa kau akan kembali bekerja hari ini? " tanya Alex penasaran, karena Raina sudah berpenampilan rapi.
"Seperti nya begitu" jawab Raina lagi. Gadis itu menuangkan air ke dalam gelas kosong, lalu meneguknya habis. Sejak kepergian Susi, sikap Raina sedikit berubah. Tidak seceria dulu, meskipun Alex memarahinya Raina tetap terlihat ceria, bahkan mencari perhatian Alex. Namun sekarang Raina terlihat lebih datar dan tidak peduli.
"Raina... " Panggil Alex lirih ketika Raina akan meninggalkan ruang makan. Raina menghentikan langkahnya, posisinya tepat 2 langkah dari Alex duduk. Raina hadap kiri, menatap Alex yang juga menatapnya penuh arti.
"Ada apa? " tanya Raina pelan. Alex tak kunjung menjawab, ia malah menatap Raina dalam. Seolah banyak kata kata yang tidak bisa ia sampaikan kepada Raina. Sangat sulit rasanya bagi Alex mengucapkan sepatah kata ketika Raina menatapnya begini.
"Apa kak Alex tidak jadi bicara? " tanya Raina. Alex tersadar dan menggaruk tengkuknya merasa salah tingkah.
"Baiklah, aku akan pergi" ujar Raina lagi, karena merasa Alex tak ingin mengucapkan apapun.
"Bisakah kamu kembali seperti dulu lagi? " lirih Alex, membuat Raina yang sudah berjalan 2 langkah menjadi berhenti di tempat tampa berbalik menghadap Alex.
"Maaf kak Alex, mungkin semua itu tidak akan kembali. Aku tidak bisa bersikap seperti dulu lagi. Mengejar mu dan bersikap seolah olah semuanya indah"
"Aku maafin kak Alex kok, kak Alex tidak pernah salah. Yanga salah adalah diriku yang terlalu terobsesi pada kak Alex" jawab Raina lagi, lalu kembali melanjutkan langkah nya. Alex hanya bisa menatap punya Raina yang semakin jauh dan menghilang keluar dari rumah.
"Huh... Aku salah, karena terlambat menyadari wanita yang ingin aku nikahi adalah kamu"
"Sekarang kamu sudah lelah dan tidak ingin bersama ku lagi" lirih Alex lagi, dengan gerakan malas ia kembali duduk dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
...****...
Sesampainya di kantor, Raina di sambut dengan tatapan iba dari para pegawai lainnya.Salah satu dari mereka menghampiri Raina.
"Raina... Turut berdukacita yah, kamu harus kuat" ucapnya. Raina hanya mengangguk dan tersenyum membalas ucapan teman sekantor nya itu, diikuti oleh yang lain. Mereka bergantian memberikan semangat pada Raina.
"Terimakasih semuanya, aku merasa lebih baik sekarang" balas Raina tersenyum kepada mereka semua.
"Raina, kamu kembali bekerja kan?? " tanya Dewi dengan tatapan berbinar. Tak terkira senangnya mendapatkan anggukan dari Raina.
__ADS_1
"Yeay.... Hari ini aku akan traktir kalian makan siang. Sebagai penyambutan kembalinya Raina ke perusahaan kita.
" Yey!!! makan gratis" sorak tiga curut yang entah sejak kapan berada di sana.
"Hei, kalian gak termasuk" ucap Dewi menunjuk Ega, Justin, dan Jiandi.
"Loh kenapa, katanya semua! " protes Ega.
"Yah semua yang di ruangan ini. Kalian dari ruangan atas. Jadi tidak mendapat bagian" Jelas Dewi. Ega melenguh kesal, gagal dapat, makan gratis pikirnya.
"Ya sudah, kembali bekerja " lerai Raina mendorong Raina kembali ke mejanya, dan mendorong tiga curut keluar dari ruangan mereka.
"Raina... Kok di usir sih?? gak kasian sama kami? " rengek Jiandi memegang ujung baju Raina seperti anak kecil pada ibunya.
"Astaga kak Jiandi, aku bukan ibu mu. Lepaskan ujung baju ku" ucap Raina membelalakkan matanya menatap Jiandi.
"Uhh gak seru.... Kalo kita gak ikut" sahut Ega. Di angguki setuju oleh Justin.
"Ya ampun... Sejak kapan aku mengenal bayi jelak seperti mereka" Desah Raina frustasi.
"Kalian boleh ikut" putus Raina tidak tahan melihat tatapan memohon dari ketiganya.
"Yeyy" sorak ketiga nya, Raina menggeleng heran, entah sejak kapan mereka bersikap seperti anak anak ini.
Raina meninggalkan ketiga pria itu, ia memilih pergi ke ruangan boss besar. Raina memiliki urusan khusus dengan Dion. Entah apa lagi yang sedang Raina pikirkan.
"Raina" panggil Kian dari depan ruangannya. Ia melihat Raina berjalan santai menuju lift.
"Ada apa kak? " sahut Raina datar.
"Tidak apa apa, aku hanya bingung melihat mu berjalan tanpa nyawa seperti itu" ujar Kian beralasan.
"Oh begitu" angguk Raina, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Kian merasa kaku, ada apa dengan Raina harj ini?. entah apa yang salah, Kian mampu merasakan sesutu yang berubah dari sosok Raina.
...----------------...
__ADS_1