
Di rumah sakit, seorang wanita terbaring lemah. Sampai saat ini ia masih belum sadarkan diri. Seharusnya Cia sudah sadar, luka luka di tubuhnya sudah mulai sembuh.
"Dok, kenapa majikan saya masih belum sadarkan diri? " tanya Linju pada Dokter yang baru saja selesai memeriksa Cia.
"Seharusnya nyonya Cia sudah sadar, namun entah mengapa beliau masih belum sadarkan diri" jawab sang dokter menghela nafas pelan.
"Apa kondisinya sangat buruk dok? "
"Luka luka nyonya Cia sudah tidak terlalu serius lagi. Seperti nya trauma mental yang nyonya Cia dapatkan dari tekanan sang suami membuat nya tidak memiliki keinginan untuk sadar"
Linju menghela nafas berat, ia melirik kearah majikannya. Sungguh miris nasih Cia.
"Yah sudah, saya permisi dulu" pelit dokter.
"Baik dok" balas Linju mengantar dokter ke depan pintu kamar inap Cia. Setelah mengantar dokter, Linju kembali mendekat pada Cia. Tangannya terangkat mengelus pelan punggung tangan majikannya. Linju sudah menganggap Cia sebagai putrinya sendiri. Karena Cia juga merupakan majikan yang memperhatikan bawahannya.
"Nyonya..... Bangun lah" lirih Linju.
"Apa nyonya gak mau masak bareng mbok lin lagi? "
"Nyonya harus kuat... " Linju menghapus air mata yang perlahan mengalir dari sudut matanya nya.
"mbok Lin gak kuat melihat nyonya seperti ini" Mbok lin menutup mulutnya, menahan tangis yang sejak tadi ia tahan. Keheningan ruangan VIP Cia di hiasi oleh isak tangis mbok Lin.
...----------------...
"Alex!!! " panggil Kian. Pria itu melangkah cepat masuk ke dalam ruangan Alex. Dengan malas Alex mengangkat pandangnya ke arah Kian.
"Ngapain kamu kesini? "
"Sekarang dalam mode serius, aku tidak ingin bersaing dulu dengan mu" ucap Kian menatap Alex serius. Raut wajah Alex pun langsung berubah, ia menatap Kian dengan tatapan serius pula. Inilah hebat kedua orang ini, mereka tidak akan pernah akur jika dalam kondisi santai.
"Lihat ini" ucap Kian menunjukkan sebuah E-mail yang menggunakan nama samaran. Kian yakin jika semua ini oleh ulah Dave, pria itu masih belum tertangkap.
"Sial!! " umpat Alex, ia membaca dengan teliti isi e-mail yang berisi tentang pembatalan beberapa proyek di beberapa anak cabang. Yang lebih parah nya ada anak cabang yang terbesar di salah satu kota besar mengalami kerugian yang sangat besar.
"Bagaimana ini bisa terjadi? "
Drrtttt.... Ditttttt....
"Hallo" sapa Alex ketika telfon sudah terhubung.
"...... "
"Baiklah, kami akan ke sana sekarang" jawab Alex tegas, lalu menutup sambungan panggilan dari Dion.
"Kita harus ke sana" ucap Alex pada Kian.
"Hem"
Kedua pria itu bergerak cepat menuju ruangan Dion, masalah ini sangat serius.
"Paman" ujar Kian ketika mereka sudah memasuki ruangan Dion. Erjo mengerut bingung, bagaimana mungkin kedua pria ini bisa datang bersamaan.
"Jangan pertanyakan sesuatu yang tidak penting" tukas Alex sebelum Erjo mengutarakan pertanyaan yang tidak bermutuh.
__ADS_1
Erjo hanya mendengus kesal, ia tidak jadi mengatakan apapun.
"Apa kalian sudah mendapatkan e-mail? " tanya Dion serius. Kian dan Alex mengangguk pelan.
"Ada seseorang yang ingin mencoba menjatuhkan kita"
"Benar paman, aku rasa semua ini ada kaitannya dengan Dave" ujar Kian, Alex dan Dion menatap lurus pada Kian.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu? " tanya Erjo.
"Kemarin aku mendapat informasi dari anak buahku. Dave yang terbebas dari jeratan polisi berkat bantuan ayahnya itu, berkunjung ke salah satu hotel milik keluarga Admudiano"
"Hotel ku? " sahut Alex, Kian mengangguk.
"Apa yang dia lakukan di sana? "tanya Dion.
" Dia pergi bersama beberapa wanita yang berbeda. " jawab Kian.
Tuk!! Tuk!!!
Mereka menoleh ke arah pintu, Ega, Jiandi, dan Justin berdiri di depan pintu. Setelah Dion memberikan isyarat mempersilahkan masuk, barulah mereka membuka masuk.
"Maaf boss, kami mengganggu waktunya"ucap Ega sopan.
" Tidak masalah, katakan apa yang membawa kalain datang menemui ku? " tanya Dion.
"Ini Boss, kami ingin memberikan bebrapa laporan tentang pemecatan pegawai di beberapa anak cabang perusahaan ini" jawab Jiandi sembari menyerahkan map coklat pada Dion. Pria tua itu mengambil map coklat itu, lalu membukanya.
"Apa!!!! kenapa ini bisa terjadi?? " mata Dion melebar melihat nama nama yang tertera di sama. Terdapat 50 orang pegawai yang berkhianat pada perusahaan, dan mereka memilih untuk membocorkan data data perusahaan pada Dave.
"Kamu benar Alex, Dave sangat licik. Ia sengaja membawa mereka ke hotel milik keluarga mu. Agar dia bisa membalikkan fakta dan membuat semua ini seolah olah rencana dari mu. " Balas Ega.
"Siapa!!! " umpat Alex, Masalah mencari Raina masih belum selesai, kini malah Alex di sibukkan oleh berbagai masalah di perusahaan.
"Persiapkan semuanya, pastikan anak buah Dave sudah tidak ada di antara semua pegawai kita" ucap Dion.
"Siap boss" sahut Erjo dan ketiga sahabat Alex.
"Kian, Alex. Semua ini saya serahkan pada kalian" ucap Dion memberi perintah. "Saya harap kalian bisa mengatasinya"
"Huh.. Paman tenang saja, Aku akan memastikan pria busuk itu membusuk di penjara" balas Kian berjanji.
"Aku harus pergi" ucap Alex dingin, rahang tegasnya terlihat semakin jelas.
"Baiklah, kami juga ikut pamit boss" sahut Ega dan kedua temannya menunduk hormat.
"Baiklah, kalian berhati hatilah. Dave pasti sangat dendam pada kita" peringat Dion, mereka mengangguk mengerti.
Kini tinggal Kian dan Dion berada di dalam ruangan Dion. Keduanya masih sama sama diam, dan larut dalam pemikiran masing-masing.
"Kian" panggil Dion, Kian pun mengangkat pandangannya menatap pamannya. Kian bertanya melalui tatapannya.
"Bagaimana persaan mu? apa kamu sudah bertemu dengan Raina? " tanya Dion.
Kian menghela nafas berat, ia memang sudah bertemu dengan Raina. Namun semakin ia mencoba mendekap Raina, semakin Kian tahu betapa gadis itu menyukai Alex.
__ADS_1
"Kata Raina dia sudah bercerai dengan Alex"
"Lalu? apa kau sekarang berniat untuk mendekati nya? " tanya Dion penasaran. Rasa penasaran Dion terjawab, gelengan kepala Kian sudah menjawab pertanyaan nya.
"Entahlah paman, aku tidak tahu. Semakin aku ingin mendekatinya. Semakin aku merasakan betapa gadis itu mencintai suaminya" Kian menghela nafas berat.
Dion melangkah lebih dekat mendekati Kian, menepuk pundak keponakannya pelan.
"Kamu harus move on, lagi pula tidak banyak moment yang kamu ciptakan dengan gadis itu jadi aku rasa kamu bisa melupakan nya dengan mu"
"Huhhh.. Memang benar, tapi hatiku selalu saja berdebar setiap kalian melihatnya, mendengar suaranya, bahkan ketika aku mendengar namanya" ungkap Kian.
"Kamu pasti bisa, paman yang memiliki banyak kenangan bisa move on. Ak. --"
"Ah sudahlah paman, aku tidak mau mendengar cerita halu mu itu" potong Kian. Ia tahu Dion pasti akan menceritakan tentang kisahnya dengan sang Istri.
"Hei..... Aku belum selesai bicara!! " teriak Dion kesal pada Kian yang sudah keluar dari ruangannya.
"Huhh, sungguh tragis" lirih Erjo menggeleng menyaksikan tingkah paman dan keponakan ini.
"Diam kau!! " teriak Dion garang, Erjo langsung menutup mulutnya rapat.
*****
"Ibuuu..... Ibuuuuu" panggil Raina ketika masuk ke dalam rumah nya. Ia sungguh merindukan rumah sederhananya ini. Dengan riang Raina berjalan menuju dapur, ia yakin ibu nya ada di dapur sehingga tidak mendengar panggilan nya. Raina tidak sabar melihat reaksi ibunya ketika melihat dirinya berkunjung. Susi pasti sangat senang.
Langkah kaki yang terlihat riang, perlahan melambat. Raina menatap darah segar yang berceceran di lantai, darah itu berbentuk jejak menuju dapur.
"Ibu" gumam Raina, ia langsung mempercepat langkahnya menuju dapur.
"Ibuu!!! " teriak Raina, matanya membulat melihat tubuh lemah Susi tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.
"I-i-bu.... " ucap Raina terbatah.
Raina terhenyak di lantai, dengan tangan bergetar Raina beringsut ke samping sang ibu, ia memangku kepala susi. Kedua tangan Raina bergetar, matanya nya menatap seluruh tubuh sang ibu.
"Ibuu!!!! bangun ibu!!! apa yang terjadi!! " gumam Raina memegang wajah Susi.
"Ibuuu Raina di sini ibu!!! buka mata ibu " Lirih Raina pelan, suaranya bergetar.
"Ibuuu... ibuuu bangun!! Jangan tinggalkan Raina ibu. Siapa yang akan menjaga Raina. Ibu... aku mohon. Jangan tinggalkan Raina ibu"
"Ibu!!!!! " teriak Raina kuat. Ia memeluk erat tubuh Susi yang sudah tak bernyawa. Terdapat beberapa tusukan di perut dan goresan luka di leher.
Raina meraung raung menangisi wanita yang selama ini merawatnya.
"Ibuuu... Raina belum sempat membahagiakan ibuuu. "
"Siapa yang tega melakukan ini pada ibuuu"
"Aku mohon!!!! bangunlah ibu!!! " teriak Raina dengan emosi. "Jika ibu tidak bangun!!! Raina akan marah!!! Raina tidak akan makan apapun sampai ibu membuka mata Ibuuuuu"
Raina menghapus air matanya, ia mengangkat tubuh ibunya, lalu membawanya ke rumah sakit. Ia harus menyelamatkan ibunya, apapun yang terjadi. Walaupun sebenarnya hal itu hanya sia sia. Susi terlalu banyak mengeluarkan darah, lukanya juga sudah infeksi. Seperti nya tragedi knk terjadi sekitaran 5 atau 6 jam sebelum Raina datang.
...----------------...
__ADS_1