
"Bagaimana keadaaan putri ku? " tanya ayah Cia menatap anak buahnya yang datang berkunjung. Ayah Cia meminta seseorang untuk memantau putrinya.
"Nona Cia sudah keluar dari rumah sakit boss, namun nona terlihat masih trauma" jawab anak buahnya. Ayah Cia menganggu pelan, tangannya mengepal ketika mengingat menantunya telah menjebaknya. Bahkan Ayah Cia menyesak tidak mendengarkan putrinya yang mengatakan jika Dave sangat tidak baik untuk nya.
"Baiklah, kau boleh pergi. Kau harus melaporkan pada ku setiap kali sesuatu terjadi pada putriku" titah Ayah Cia.
"Baik boss" pria itu menunduk hormat, lalu pergi dari sel tahanan Ayah Cia. Kini tinggal Ayah Cia yang di kurung dalam sel tahanan seorang diri. Ia duduk di sudut penjara tanpa alas, baju kas tahanan Narapidana melekat di tubuhnya yang semakin hari semakin kurus.
"Maafin papa Cia.. " lirih nya.
Sementara di dalam kantornya, Alex memikirkan tentang perusahaan dan juga pembunuhan ibu Raina. Pemikiran nya bercabang dua.
Sering kali terdengar Alex menarik nafas dalam, memiliki otak cerdas tidak membuatnya hidup tenang. Ada saja masalah yang datang silih berganti. Alex merasa bersalah atas apa yang menimpa Raina. Ia merasa semua ini terjadi karena dirinya, karena jika buka demi dirinya Raina tidak akan berurusan dengan Dave.
"Huh!!!! Karena inilah aku melarangnya untuk melakukan semua itu!! " dengus Alex, ia merasa sangat kesal dengan semua masalah yang ada. Alex tidak bisa berbuat apa apa, otaknya buntu. Dimana otak cerdasnya??.
"Boss.... " Ega dan kedua temannya memasuki ruangan Alex.
"Ada apa? " tanya Alex.
"Kami hanya khawatir melihat kamu sejak tadi melempar ini dan itu" jawab Jiandi.
Alex bersiri dari duduknya, berjalan mendekat pada ketiga sahabat nya yang menatap heran padanya.
"Aku merasa bodoh sekarang. Otak ku terasa tidak ada gunanya" ujar Alex.
"Kau hanya butuh tenang, jangan terlalu terburu-buru" jawab Justin. Alex menganggu menyetujui ucapan temannya, namun ia tidak bisa tenang dan bersabar.
"Alex... pikirkan saja bagai kamu membantu Raina. Untuk perusahaan kami akan menyelesaikan nya" ucap Ega.
"Benar, kami akan menyelesaikan semua masalah perusahaan" setuju Jiandi.
Alex menatap ketiga sahabat nya, mereka benar-benar sahabt yang bisa di andalkan.
"Terimakasih, kalian benar sahabat yang berguna" puji Alex. Ega dan kedua temannya mencebik kesal, jadi selama ini mereka tidak berguna?.
"Ah terserah kamu saja, yang jelas pergilah bantu Raina" ucap Jiandi.
"Baiklah, aku akan pergi menemuinya" ucap Alex, sekali lagi ia memeluk ketiganya sebelum pergi.
Ketiga pria itu menatap kepergian Alex, mereka bernafas lega dan berharap Alex mengetahui apa yang hatinya inginkan.
__ADS_1
"Semoga kamu menyadari keberadaan Raina" ucap salah satu dari mereka.
Alex berlari memasuki lift yang langsung mengantarnya ke lantai dasar perusahaan.
Setelah sampai di lantai dasar, Alex langsung masuk ke dalam mobil yang sudah di persiapkan oleh bawahannya. Sekitar Alex melajukan mobilnya menuju rumah utama.
"Raina!!!! Raina?!! " teriak Alex ketika tiba di rumah.
Sepi. Itulah yang di rasakan oleh Alex ketika ia memasuki rumah besar sang mama.
"Kemana perginya mereka? " tanya Alex tanpa ada yang menjawab. Alex kembali keluar dari rumah nya, lalu melajukan mobil entah kemana.
Alex memarkirkan mobilnya di basement apari, ia pikir Raina akan pulang ke sana.
"Tidak ada juga" gumam Alex merasa kebingungan. Kemana lagi ia harus mencari Raina. Alex berusaha memutar otaknya memikirkan kemana gadis itu pergi. Alex sudah berusaha menghubungi semuanya, namun tidak ada yang menjawab panggilan darinya.
Alex merasa orang paling bodoh sekarang, ia tidak tahu melakukan apa apa.
...****...
Raina duduk di tengah gelapnya kamar, tidak ada setitik pun cahaya yang menerangi nya.
Namun hayalan itu seketika menghilang ketika Raina mendengar panggil ay yang sangat ia rindukan.
"Raina.... "
Raina membuka matanya, ia melihat Susi tersenyum lembut padanya.
"Ibu?? benarkah itu ibu? " tanya Raina memastikan. Bayangan itu pun mengangguk, dengan segera Raina bangkit dan memeluk bayangan yang terasa nyata.
"Ibu.. jangan tinggalin Raina yah. Raina tidak bisa tanpa ibu" lirihnya.
"Raina... Kamu harus kuat, kamu harus melindungi keluarga kamu. " ucap Susi menangkup kedua pipi Raina.
"Maksud ibu?? keluarga Raina cuma ibu... "
"Tidak Raina, kamu masih memiliki keluarga kecil yang sudah kamu terlantar kan" tegas Susi.
"Yang mana ibu, Raina tidak mengerti" ucapan Raina bingung, ia mendongak menatap wajah sang ibu.
"Alex... Dia adalah suami mu sayang. Keluarga mu. Kamu harus bertahan dan menyelamatkan keluarga mu"
__ADS_1
"Tapi ibu.. "
"Ssttt.... Ini permintaan terakhir ibu. Kami mau kan, memenuhinya? "
Raina menghela nafas berat, menajamkan matanya sejenak.Permintaan ibunya sani berat. Setelah merasa yakin akhirnya Raina pun mengangguk dalam diam.
"Tapi ibu-"
"Ibu... "
"Ibu!!!! " teriak Raina kuat, ia tidak melihat ibunya di mana pun. Hanya kegelapan yang ia lihat. Keringat bercucuran, jantung nya berdegup kencang.
"Apa aku bermimpi? " tanya Raina dalam hati, satu tangannya terangkat menghapus keringat yang terasa mengalir di pelipisnya.
"Ibu... Apa ibu ingin aku kembali mengejarnya? "
Brak~
"Raina.. " Alex menekan saklar lampu, lalu menatap Raina yang duduk di atas ranjang bersimbah keringat. Tubuh Raina mematung, bagaimana bisa pria itu menemukannya.
"Akhir aku menemukan mu" Alex menarik tubuh Raina ke dalam pelukannya. Dapat Raina rasakan detak jantungmu Alex yang berdegup kencang, berpacu dengan detak jantung nya yang mungkin juga dapat di rasakan oleh Alex.
Raina tidak melakukan pergerakan apapun, ia hanya diam dan menikmati hangatnya pelukan Alex.
"Mengapa kamu datang ke sini?? "tanya Alex dengan sorot mata khawatir. Apa dia khawatir? pikir Raina.
"Aku.... " belum sempat Raina menjawab, Alex sudah kembali memotong nya.
"Kita harus pergi sekarang, di sini tidak aman bagi mu" ucap Alex. Ia menggendong Raina tanpa persetujuan. Membuat gadis itu melingkarkan kedua tangannya di leher Alex.
"Turunkan aku, kamu bukan lagi suami ku. Jadi jangan sentuh aku" titah Raina. Suaranya terdengar pelan, entah benar-benar memberikan peringatan atau bagaimana Alex tidak tahu.
"Aku tidak menandatangani surat itu, jadi kamu masih istri ku" jawab Alex singkat, ia mendudukkan Raina di bangku penumpang di samping kemudi. Raina mendongak kaget, bagai mungkin Alex tidak menanda tangani surat itu?. Raina mulai teringat dengan permintaan terakhir ibunya di mimpi tadi.
"Jangan kemana-mana! " peringat Alex setelah memasang sabuk pengaman untuk Raina. Lalu Alex berlari kecil mengitari mobilnya dan masuk ke dalam mobil.
"Kamu boleh tidur, aku akan membangunkan mu setelah sampai" titah Alex lagi.
Raina bergeming, ia memalingkan wajahnya pada jendela kaca mobil. Ia lebih memilih menatap kekuatan jalanan.
...----------------...
__ADS_1